28.4 C
Sidoarjo
Wednesday, July 22, 2026
spot_img

Hanya 4 Armada Beroperasi dan APD Minim, Damkar Kota Probolinggo Tetap Siaga Hadapi Potensi Bencana Musim Kemarau

Oleh:
Ayu Firdausyiah, Kota Probolinggo

Memasuki puncak musim kemarau, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Probolinggo terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran maupun kejadian non-kebakaran. Meski beroperasi dalam keterbatasan peralatan dan infrastruktur, namun pelayanan dipastikan berjalan optimal.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP, Linmas dan Damkar Kota Probolinggo Tri Setyo Anggodo mengatakan, sejak memasuki musim kemarau dan angin kencang, laporan yang masuk hampir selalu ada setiap pekan. Karena itu, mulai Juli hingga September seluruh personel diminta meningkatkan kesiapsiagaan.

“Minimal dalam seminggu pasti ada pengaduan, baik kebakaran maupun nonkebakaran. Saat musim panas seperti sekarang, masyarakat harus lebih waspada karena potensi kebakaran meningkat,” ujarnya ditemui di Mako Damkar Kota Probolinggo, Rabu (22/7).

Berdasarkan data Damkar Kota Probolinggo, jumlah kejadian kebakaran dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan fluktuasi.

Tahun 2021 tercatat 53 kejadian, meningkat menjadi 60 kasus pada 2022, kemudian melonjak menjadi 105 kejadian pada 2023 dan kembali naik menjadi 117 kejadian pada 2024. Pada 2025 jumlahnya turun signifikan menjadi 70 kejadian. Sementara hingga Juli 2026 telah tercatat 34 kejadian kebakaran.

Rincian data tahun 2026 menunjukkan Januari terjadi tiga kejadian, Februari tiga kejadian, Maret dua kejadian, April lima kejadian, Mei enam kejadian, Juni 10 kejadian, dan Juli lima kejadian. Data tersebut menunjukkan tren peningkatan memasuki pertengahan tahun yang bertepatan dengan musim kemarau.

Berita Terkait :  DPD RI Minta Pemerintah Antisipasi Lonjakan Harga Bahan Pokok dan Kelancaran Arus Balik Lebaran 2025

Di sisi lain, Tri mengakui sarana dan prasarana Damkar Kota Probolinggo masih jauh dari ideal. Saat ini hanya empat dari enam unit mobil pemadam yang dapat dioperasikan karena dua unit berkapasitas 4.000 liter dan 5.000 liter mengalami kerusakan.

Kota Probolinggo juga belum memiliki mobil tangga (aerial ladder) yang dibutuhkan untuk menjangkau kebakaran pada bangunan bertingkat.

Kekurangan juga terjadi pada alat pelindung diri (APD). Dalam satu regu yang terdiri atas sembilan personel, APD yang tersedia hanya tiga set. Padahal satu set APD tahan panas dan tahan api bernilai sekitar Rp12 juta.

Selain itu, sekitar 30 hidran yang tersedia di Kota Probolinggo dinilai belum berfungsi optimal karena debit airnya kecil sehingga petugas lebih sering mengambil suplai air dari sungai atau sumber air lain saat pemadaman berlangsung.

Tri berharap dukungan anggaran dari pemerintah daerah dapat ditingkatkan. Ia juga membuka peluang dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), terutama untuk pengadaan sarana dan prasarana pemadam kebakaran.

“Tugas kami menjaga keselamatan masyarakat sekaligus aset perusahaan. Karena itu kami berharap perusahaan juga ikut mendukung melalui CSR, sekaligus memperkuat sistem proteksi kebakaran internal seperti APAR, hidran, dan pelatihan rutin bagi karyawan,” katanya.

Menurut Tri, kebakaran lahan menjadi salah satu kejadian yang paling sering ditemui beberapa pekan terakhir. Mayoritas dipicu aktivitas pembakaran sisa panen oleh petani maupun pembakaran sampah yang ditinggalkan sebelum api benar-benar padam.

Berita Terkait :  Dilepas Pj Gubenur Jatim, Ribuan Masyarakat Ikuti Jalan Sehat Hari Santri Nasional

Ia mencontohkan kebakaran lahan sempat dua kali terjadi di kawasan timur Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Probolinggo dan sekali di belakang kawasan Playland. Pembakaran sisa tanaman yang dilakukan di area persawahan memunculkan asap pekat hingga mengganggu aktivitas masyarakat maupun pengunjung.

“Petani kadang menganggap pembakaran itu tidak berdampak. Padahal asapnya mengganggu lingkungan sekitar karena sawah banyak yang berdekatan dengan permukiman dan perkantoran,” katanya.

Selain kebakaran, laporan nonkebakaran yang paling banyak diterima Damkar justru berkaitan dengan tumpahan solar di jalan. Bahkan, menurut Tri, jumlah laporan tumpahan solar lebih banyak dibanding laporan kebakaran.

Dalam sepekan, petugas bisa menerima dua hingga tiga laporan tumpahan solar. Titik yang paling sering terjadi berada di Jalan Pahlawan depan Palapa, tikungan menuju Brak, kawasan Flora hingga Gladak Serang. Seluruh lokasi tersebut merupakan jalan menikung sehingga solar dari tangki truk mudah tumpah ketika kendaraan berbelok.

Ia mengimbau perusahaan angkutan maupun sopir truk tidak mengisi tangki bahan bakar secara berlebihan dan memastikan tutup tangki terpasang rapat agar solar tidak tumpah di jalan.

Pengendara sepeda motor juga diminta menghindari jalan yang tampak basah karena belum tentu merupakan genangan air, melainkan bisa saja solar atau oli yang sangat licin.

“Kalau melihat jalan basah yang mencurigakan, sebaiknya dihindari. Banyak pengendara mengira itu air biasa, padahal bisa jadi tumpahan solar yang menyebabkan motor mudah terpeleset,” ujarnya.

Berita Terkait :  PKB Kritik Pendapatan Jatim Merosot, Khofifah: Ini Dampak UU, Bukan Salah Pemprov!

Tri menjelaskan, selain memberikan pelayanan penanganan kebakaran, setiap selesai menangani suatu kejadian petugas kini diwajibkan membuat konten edukasi melalui media sosial. Konten tersebut berisi penyebab kejadian serta langkah pencegahan agar masyarakat tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Damkar juga rutin menggelar sosialisasi dan pelatihan penanggulangan kebakaran di sekolah, rumah sakit, perusahaan hingga lingkungan masyarakat. Materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta, mulai penanganan kebocoran gas LPG, korsleting listrik, penggunaan APAR hingga prosedur evakuasi saat kebakaran.

Salah satunya edukasi kepada masyarakat terus digencarkan menyusul meningkatnya laporan yang diterima setiap pekan, terutama kebakaran lahan serta tumpahan solar di jalan yang kerap memicu kecelakaan lalu lintas.

Selain itu, Damkar juga masih menghadapi laporan palsu dari masyarakat. Beberapa kali petugas menerima telepon pengaduan, namun setelah seluruh personel menuju lokasi, ternyata tidak ditemukan kejadian apa pun.

Menurut Tri, laporan palsu semacam ini berpotensi menghambat pelayanan karena menguras waktu, tenaga, serta kesiapsiagaan personel yang seharusnya dapat digunakan untuk menangani kejadian sebenarnya. [fir.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!