27.8 C
Sidoarjo
Thursday, August 6, 2026
spot_img

UMM Borong Dua Penghargaan LLDIKTI VII


Malang, Bhirawa – Komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam memperluas jejaring global dan memperkuat sinergi industri kembali membuahkan hasil manis. Kampus Putih ini berhasil memborong dua penghargaan bergengsi dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII.

Dalam penganugerahan tersebut, UMM dinobatkan sebagai Perguruan Tinggi dengan Kerjasama Internasional Paling Berdampak sekaligus Kerjasama Industri Paling Berdampak. Atas pencapaian ini, UMM resmi ditunjuk mewakili LLDIKTI Wilayah VII untuk bersaing di tingkat nasional.

Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menyampaikan bahwa raihan ini menjadi bentuk apresiasi nyata atas kinerja terukur yang selama ini dijalankan seluruh sivitas akademika. Menurutnya, keunggulan UMM di ranah internasional terletak pada program berbasis pengalaman nyata bagi mahasiswa.

“Kalau perguruan tinggi lain umumnya fokus pada pertukaran dosen dan mahasiswa, kami melangkah lebih jauh melalui program magang serta Pengabdian Masyarakat/KKN Internasional. Mahasiswa kami terjun langsung ke berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Taiwan, hingga Vietnam agar benar-benar siap bersaing secara global,” ujar Salis, Kamis (6/8).

Di sektor kemitraan industri, Salis menekankan pentingnya perguruan tinggi beradaptasi dengan kebutuhan pasar kerja. Hal itu diwujudkan UMM secara konkret melalui wadah Center of Excellence (CoE).

“Pendidikan tinggi tidak bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan industri. Apa yang dihasilkan kampus pada hakikatnya untuk menyuplai kebutuhan industri, dan kami menjembataninya lewat program CoE,” jelasnya.

Berita Terkait :  Rini Indriyani Beberkan Strategi Hadapi FOMO dan Keseimbangan Keluarga

Untuk menjamin efektivitas kerja sama agar tidak berhenti di atas kertas, UMM menerapkan regulasi ketat terkait tata kelola kemitraan. Kampus mematok aturan bahwa setiap pimpinan unit dilarang menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) tanpa disertai Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang memiliki program aksi nyata.

“Kami tidak mengejar kuantitas MoU formalitas. Setiap ada MoU, harus ada minimal satu program atau aktivitas konkret yang terukur dan langsung dilaksanakan,” tegas Salis.

Selain itu, strategi kolaborasi UMM difokuskan pada pengembangan lintas disiplin. Sebagai contoh, kemitraan awal di bidang pangan dengan mitra di Jepang berhasil dikembangkan hingga merambah sektor hospitality dan keperawatan (nursing).

Menatap tantangan ke depan, UMM kini tengah bersiap memperluas jangkauan keterlibatan mahasiswanya ke ranah yang lebih luas, menembus pasar Asia Tenggara menuju kawasan Eropa dan Amerika. [mut.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!