Pemkot Mojokerto, Bhirawa
Tren penggunaan wastra dalam dunia fashion yang terus berkembang menjadi peluang besar bagi industri batik di Kota Mojokerto. Pemerintah Kota Mojokerto pun mendorong batik tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi kreatif baru yang mampu membuka peluang usaha bagi masyarakat, khususnya perempuan.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari saat membuka pelatihan membatik bagi pengurus dan anggota TP PKK se-Kota Mojokerto di Sentra IKM Batik Maja Bharama Wastra Kota Mojokerto, kemarin (20/5). Turut hadir Ketua TP PKK Kota Mojokerto Lina Desriana Arisandi.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan teknik membatik, tetapi juga dibekali pemahaman tentang potensi ekonomi dari industri batik yang kini semakin diminati pasar fashion modern. “Batik sudah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Berarti ibu-ibu yang hari ini belajar membatik ikut menjadi bagian dari pelestarian budaya,” tutur Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota.
Menurutnya, batik memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi yang besar. Karena itu, pelatihan membatik diharapkan mampu melahirkan pembatik-pembatik baru sekaligus pelaku UMKM kreatif di Kota Mojokerto. “Batik tidak hanya memiliki nilai sejarah atau budaya, tetapi juga ada nilai ekonomi. Melalui batik bisa tercipta banyak produk ekonomi kreatif,” katanya.
Saat ini, Kota Mojokerto telah memiliki 134 motif batik yang terdaftar Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Beberapa motif khas daerah seperti Batik Bunga Matahari dan Gapuro Surya menjadi identitas wastra Kota Mojokerto yang terus dipromosikan dalam berbagai ajang fashion nasional.
Dalam tiga tahun terakhir, batik Kota Mojokerto rutin tampil dalam ajang Jakarta Muslim Fashion Week bersama karya para desainer dari berbagai daerah. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperluas pasar sekaligus memperkuat daya saing batik lokal.
Ning Ita juga melihat tren fashion di kalangan anak muda semakin membuka peluang besar bagi industri batik. Menurutnya, penggunaan batik dalam karya fashion modern menunjukkan bahwa wastra lokal semakin diterima dan memiliki potensi ekonomi yang luas. “Saya melihat anak-anak muda sekarang sudah berani menggunakan batik dalam karya fashion mereka. Ini menunjukkan batik punya potensi ekonomi yang sangat luas dan sangat layak dikembangkan,” ungkapnya.
Melalui pelatihan tersebut, Pemkot Mojokerto berharap semakin banyak perempuan yang terlibat dalam pengembangan industri batik lokal, baik sebagai pembatik profesional maupun pelaku usaha ekonomi kreatif berbasis wastra.[oky.ca]


