30 C
Sidoarjo
Friday, August 21, 2026
spot_img

Tiga Titik Api Padam, Dishut Jatim Perkuat Pendinginan Tahura R. Soerjo

Surabaya, Bhirawa – Operasi darat terpadu yang melibatkan 78 personel berhasil mengendalikan kebakaran hutan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo. Tiga sektor yang sebelumnya terdapat api terbuka, yakni Gunung Kembar 1, Gunung Kembar 2, dan Sabana 2 Lembah Kijang, kini dinyatakan padam.

Meski demikian, Pemerintah Provinsi Jawa Timur belum menghentikan operasi. Tim masih melakukan penyisiran dan pendinginan karena ditemukan bara pada batang pohon terbakar yang berpotensi memicu munculnya api kembali.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Jumadi, M.MT., mengatakan pengendalian kebakaran dilakukan di bawah koordinasi Sekretaris Daerah Jawa Timur selaku Ketua Satgas Pengendali Provinsi Penanganan Karhutla Jawa Timur.

“Kami tidak berhenti pada padamnya nyala api. Ukuran keberhasilan adalah ketika seluruh sektor telah disisir, bara dituntaskan, data lapangan tervalidasi, dan risiko api kembali muncul dapat ditekan,” kata Jumadi, Jumat (21/8/2026).

Menurutnya, operasi kini memasuki fase mop-up, pendinginan, pemantauan menggunakan drone, serta verifikasi lapangan secara berlapis. Sebanyak 29 personel masih berada di lokasi untuk memastikan kawasan yang telah dikuasai benar-benar aman.

Dari total 78 personel yang telah dimobilisasi, sebanyak 60 personel bergerak melalui Posko Sumber Brantas dan 18 personel melalui jalur Putuk Elang, Pasuruan. Pada Jumat (21/8/2026), sebanyak 12 personel tim mop-up dan drone juga dikerahkan untuk menyisir area yang telah padam sekaligus mencari bara tersembunyi.

Berita Terkait :  Pemkab Jombang Kantongi Tiga Nama Hasil Seleksi JPTP

Jumadi menjelaskan, operasi darat menjadi tulang punggung pengendalian kebakaran karena personel dapat melakukan verifikasi langsung, memadamkan titik api yang dapat dijangkau, sekaligus memastikan tidak ada bara yang tertinggal pada vegetasi mati.

Dukungan udara juga dilakukan melalui water bombing. Setelah terkendala awan rendah, jarak pandang terbatas, dan perubahan angin pada 19-20 Agustus, kondisi cuaca pada Jumat memungkinkan helikopter melakukan satu kali penjatuhan air untuk pembasahan sisa bara.

“Pemadaman udara adalah pengungkit kekuatan, sedangkan ketuntasan tetap memerlukan personel darat. Ketika cuaca membatasi penerbangan, tim darat terus bergerak; ketika jendela cuaca terbuka, penjatuhan air diarahkan untuk memperkuat pembasahan,” tegasnya.

Keselamatan Didahulukan, Respons Dimulai Sejak Laporan

Pertama

Kebakaran pertama kali dilaporkan pada Selasa (18/8/2026) sekitar pukul 18.30 WIB setelah terlihat kepulan asap di sebelah timur Lapangan Kotak. Sekitar pukul 21.50 WIB, laporan relawan menyebut api di Gunung Kembar 2 telah melebar sekitar 500 meter di sebelah timur jalur pendakian Sumber Brantas, dengan kondisi angin yang cukup kencang.

Keselamatan pendaki kemudian menjadi prioritas. Mulai pukul 22.00 WIB, seluruh pendaki di jalur Arjuno-Welirang dievakuasi dan dilakukan penyisiran untuk memastikan jalur kosong. Aktivitas pendakian selanjutnya ditutup sementara untuk mendukung pergerakan personel, logistik, dan operasi penanganan kebakaran.

Pengendalian di lapangan melibatkan Polisi Kehutanan UPT Tahura R. Soerjo, Manggala Agni, Koramil Bumiaji, Perhutani, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta relawan. Dukungan posko juga diperkuat Dinas Kehutanan, PMI, Tagana Dinas Sosial, ORARI, dan unsur lainnya.

Berita Terkait :  Warna-Warni Kirab Maskot Pilkada Serentak 2024, Cara Unik KPU Jatim Sosialisasi

Jumadi menegaskan keberhasilan pengendalian kebakaran merupakan hasil kerja bersama lintas instansi, bukan hanya satu lembaga.

“Tidak ada satu institusi yang dapat bekerja sendiri menghadapi kebakaran hutan di medan pegunungan. Yang bekerja di lapangan adalah satu tim dengan satu data, satu tujuan, dan pembagian peran yang jelas,” ujarnya.

Proses pemadaman kebakaran hutan di kawasan taman hutan raya R Soerjo yang dilakukan tim gabungan Dinas Kehutanan, relawan dan BPBD Jatim.

Akuntabilitas Data Dan Pemulihan Kawasan

Dishut Jatim hingga kini belum menyimpulkan penyebab kebakaran maupun luas kawasan terdampak. Data tersebut masih menunggu hasil pemetaan lapangan dan analisis drone agar informasi yang disampaikan kepada publik benar-benar berdasarkan data terverifikasi.

Setelah operasi pemadaman dinyatakan tuntas, Dishut Jatim akan melanjutkan inventarisasi dampak ekologis, penetapan kebutuhan rehabilitasi, penguatan patroli, serta evaluasi sistem deteksi dan respons cepat.

Masyarakat juga diminta mematuhi penutupan sementara jalur pendakian, tidak mendekati area operasi, serta segera melaporkan kepulan asap atau indikasi kebakaran kepada petugas. [ina.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!