27 C
Sidoarjo
Tuesday, September 8, 2026
spot_img

Target Pendapatan RSUD Gresik Sehati Anjlok 71 Persen, Baru Terealisasi Rp458 Juta

DPRD Gresik, Bhirawa. – Kinerja keuangan RSUD Gresik Sehati mendapat sorotan DPRD dalam pembahasan perubahan APBD 2026. RS milik Pemerintah Kabupaten Gresik ini menghadapi persoalan serius pada sisi pendapatan. Target pendapatan yang semula ditetapkan sebesar Rp5,18 miliar, diusulkan dipangkas menjadi hanya Rp1,502 miliar.

Menurut Ketua Komisi IV DPRD Gresik, M Zaifudin mengatakan, penurunan target mencapai Rp3,677 miliar atau sekitar 71%. Penyesuaian dilakukan setelah evaluasi kinerja keuangan Semester I 2026, menunjukkan realisasi pendapatan RSUD Gresik Sehati. Baru mencapai Rp458.023.314 atau hanya 8,84% dari target awal Rp5,18 miliar.

Kondisi ini menunjukkan adanya deviasi cukup signifikan, antara target dan kemampuan realisasi pendapatan RS. Kendala operasional yang bersifat mendasar, menjadi alasan target awal dinilai sulit dicapai sehingga perlu dilakukan penyesuaian dalam Perubahan APBD (P-APBD) 2026. Di sisi anggaran, pagu RSUD Gresik Sehati yang tercantum dalam APBD 2026 sebesar Rp8,219 miliar.

”Dalam KUA-PPAS Perubahan, anggaran tersebut diusulkan menjadi Rp5,745 miliar, atau berkurang sekitar Rp2,473 miliar. Dalam pembahasan, anggaran RSUD Gresik Sehati mencakup sejumlah kebutuhan utama. Diantaranya operasional pelayanan RS Rp1,739 miliar, pengembangan RS Rp1,504 miliar, serta pelayanan dan penunjang pelayanan BLUD Rp1,502 miliar,” ujarnya.

Rendahnya pendapatan tidak berdiri sendiri, sejumlah persoalan internal dan keterbatasan layanan disebut menjadi penghambat kinerja RS. Salah satu persoalan paling menonjol, adalah ketiadaan dokter spesialis radiologi. Kondisi ini membuat pelayanan radiologi belum berjalan optimal, sekaligus menghilangkan potensi pendapatan yang semestinya dapat diperoleh rumah sakit.

Berita Terkait :  Bupati Jombang Teken MoU Sekolah Rakyat dengan Kemensos

Selain itu, RSUD Gresik Sehati masih menghadapi keterbatasan Sumber Daya Manusia. Kuantitas dan kualitas tenaga medis, paramedis, maupun nonmedis dinilai belum sepenuhnya memadai untuk mendukung pengembangan layanan. Persoalan lain adalah minimnya diversifikasi pelayanan, Saat ini layanan masih bertumpu pada empat spesialisasi dasar, yakni penyakit dalam, bedah, anak, serta Obstetri dan Ginekologi (Obsgyn).

”Pengaturan hari dan jam kerja dokter spesialis, juga dinilai belum optimal dalam menjaring pasien. Dampaknya terlihat dari rendahnya kunjungan pasien, baik di UGD, rawat jalan maupun rawat inap. Dari sisi administrasi, Sistem Informasi Manajemen RS (SIM-RS). Juga belum optimal dan masih membutuhkan pembenahan mendalam, untuk mencegah potensi kebocoran administrative,” ungkapnya.

Keterbatasan sarana dan prasarana turut menjadi persoalan, fasilitas fisik serta peralatan medis maupun nonmedis masih membutuhkan penambahan. Agar mampu memenuhi standar minimal pelayanan RS dengan berbagai persoalan itu, penurunan target pendapatan menjadi Rp1,502 miliar. Disebut sebagai langkah, untuk membuat proyeksi keuangan lebih realistis dan akuntabel.

Langkah ini sekaligus menjadi alarm bagi pengelola dan pemerintah daerah untuk segera membenahi fondasi operasional RS. Dalam rekomendasi pembahasan, RSUD Gresik Sehati yang masih tergolong RS baru diminta mendapat dukungan lebih kuat dari Dinas Kesehatan dan RSUD Ibnu Sina, baik dari sisi anggaran maupun teknis operasional.

M Zaifudin menegaskan, dengan target pendapatan yang terpangkas lebih dari Rp3,6 miliar, dan realisasi semester pertama yang baru Rp458 juta. Tantangan RSUD Gresik Sehati, bukan lagi sekadar mengejar angka pendapatan. Pembenahan SDM, layanan spesialis, kunjungan pasien, sistem administrasi, serta sarana-prasarana menjadi pekerjaan mendesak agar RS baru itu tidak terus terbebani oleh rendahnya kinerja pendapatan. [kim.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!