28.3 C
Sidoarjo
Saturday, June 20, 2026
spot_img

Prof Yudi Purnomo Teliti Ekstrak Pulutan untuk Atasi Inflamasi Diabetes

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (FK Unisma), Prof Apt Dr H Yudi Purnomo SSi MKes, usai acara pengukuhan, Selasa (12/5).

Kota ​Malang, Bhirawa
Momentum tasyakuran pengukuhan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (FK Unisma), Prof Apt Dr H Yudi Purnomo SSi MKes, membawa angin segar bagi dunia riset herbal nasional. Pakar yang turut merintis berdirinya FK Unisma sejak 2005 ini, konsisten mengembangkan tanaman herbal lokal jenis pulutan (Urena lobata) sebagai terapi alternatif untuk diabetes melitus.

​Langkah riset ini dinilai sangat strategis di tengah melonjaknya angka kasus diabetes di tanah air. Saat ini, Indonesia berada di peringkat kelima dunia dalam jumlah penderita diabetes melitus, dan menempati posisi keenam dalam angka kematian akibat komplikasi penyakit tersebut.

​”Sebagian besar kasus di Indonesia adalah diabetes melitus tipe dua. Fokus perhatian saya bukan sekadar pada pengendalian kadar gula darahnya, melainkan pada mekanisme inflamasi metabolik yang kerap memicu komplikasi multi-organ,” ujar Prof Yudi saat ditemui usai acara pengukuhan, Selasa (12/5).

​Menurutnya, pengobatan diabetes konvensional selama ini mayoritas bertumpu pada pengendalian glukosa darah melalui peningkatan sensitivitas atau sekresi insulin. Padahal, akar masalah lain seperti inflamasi metabolik yang memperparah resistensi insulin kerap luput dari perhatian.

​Riset mendalam mengenai tanaman pulutan ini bahkan berhasil menarik perhatian akademisi internasional. Prof Yudi menggandeng Ritsumeikan University College of Pharmaceutical Sciences di Jepang untuk melakukan pengujian laboratorium selama tiga bulan. Melalui kultur sel hepatosit mencit, efektivitas antiinflamasi dari ekstrak pulutan diuji secara ketat.

Berita Terkait :  Mutasi 137 Pejabat Jawab Tantangan Semakin Kompleks

​”Hasil uji menunjukkan aktivitas antiinflamasi yang sangat baik. Dari beberapa fraksi yang kami teliti, senyawa gosipin terbukti memiliki efek paling kuat dalam menekan inflamasi dibanding senyawa lainnya,” urai guru besar yang dikenal ramah ini.

​Meski saat ini telah berhasil menyusun prototipe produk berupa kapsul ekstrak pulutan, Prof Yudi mengakui jalan menuju industrialisasi farmasi modern masih panjang. Industri farmasi umumnya menuntut spesifikasi single compound (senyawa tunggal), sementara ekstrak herbal bekerja secara sinergis dengan banyak komponen di dalamnya.

​Ke depan, masih diperlukan rangkaian tahapan lanjutan mulai dari standarisasi bahan baku, metode ekstraksi, hingga uji klinis yang komprehensif. Kendati demikian, sinyal positif sudah terlihat dari uji toksisitas awal pada ikan zebra dan kultur sel yang menunjukkan tingkat toksisitas sangat rendah dan aman.

​Di sela aktivitas risetnya, Prof Yudi juga aktif turun ke masyarakat untuk melakukan edukasi dan penyuluhan. Ia ingin mengubah paradigma masyarakat agar tidak melihat tanaman obat lokal sekadar sebagai jamu tradisional, tetapi sebagai potensi produk kesehatan modern berbasis ilmiah (fitofarmaka).

​”Tanaman pulutan ini sebenarnya sudah mulai banyak dijual di marketplace dalam bentuk kapsul. Namun, kami ingin pengembangannya ke depan jauh lebih terstruktur, ilmiah, serta didukung bukti keamanan dan efektivitas yang kuat demi kemaslahatan masyarakat luas,” pungkasnya. [mut.hel]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!