Heru Suseno
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Heru Suseno, menyatakan bahwa kenaikan harga kedelai impor sebenarnya menjadi peluang besar untuk menguntungkan petani lokal untuk memasok perajin tahu-tempe.
Menurut Heru para pengrajin tahu dan tempe sebenarnya ingin beralih ke komoditas domestik karena harga kedelai impor yang melambung tinggi. Namun, kondisi lapangan menunjukkan bahwa pengrajin belum bisa mengambil kedelai lokal akibat ketersediaan barang yang masih rendah.
“Mayoritas daerah di Jawa Timur baru menanam kedelai pada musim kemarau yang dimulai bulan April. Puncak penanaman terjadi pada bulan Juni, sehingga panen raya baru akan berlangsung pada Agustus hingga September nanti,” ujar Heru didampingi Kabid Pertanaman Pangan Denny Kurniawan.
Saat ini, produksi lokal baru mampu memenuhi sekitar 20 hingga 30 persen dari total kebutuhan industri tahu dan tempe di Jawa Timur. Menipisnya selisih harga antara kedelai impor dan lokal membawa dampak positif bagi kesejahteraan petani.
Heru memaparkan bahwa Harga Pokok Produksi (HPP) kedelai di Jawa Timur berada di kisaran Rp6.000,00 hingga Rp7.000,00 per kilogram. Ketika harga jual kedelai lokal terdongkrak mendekati harga impor yang menyentuh Rp12.000,00 per kilogram, para petani menikmati lonjakan keuntungan hingga 70 persen per kilogram .
Kondisi ini memotivasi petani untuk kembali menanam kedelai, meski mereka tetap membutuhkan dukungan sarana produksi (saprodi) seperti benih berlabel dan pupuk untuk mendongkrak produktivitas.
Dari segi kualitas, Heru menegaskan bahwa kedelai lokal memiliki keunggulan rasa yang lebih gurih dan kandungan pati yang lebih tinggi daripada kedelai impor. Karakteristik non-transgenik (Non-GMO) ini membuat kedelai lokal sangat bagus dan efisien untuk diolah menjadi tahu serta menghasilkan tempe yang lebih lezat.
Meski demikian, kedelai lokal masih menghadapi kendala fisik. Ukuran bijinya cenderung lebih kecil, tampilannya kurang seragam, dan proses pembersihannya belum maksimal. Sebaliknya, kedelai impor lebih disukai untuk pembuatan tempe karena bijinya besar, seragam, dan bersih.
“Kita memerlukan intervensi alat dan mesin pascapanen yang mendukung agar kualitas fisik kedelai lokal bisa mendekati standar impor. Selain itu, petani membutuhkan tempat penyimpanan yang baik untuk mencegah kerusakan akibat kelembaban dan hama,” tambah Heru.
Mendukung upaya serapan kedelai lokal ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berupaya membagikan benih unggul berbiji besar melalui dana APBN maupun APBD.
Pada tahun 2026 ini, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim mendistribusikan varietas unggul berukuran besar seperti Osoya dan Detap 1.Namun, Heru mengungkapkan adanya kendala anggaran di tingkat petani.
Keterbatasan modal membuat petani enggan membeli benih berlabel yang terjamin kualitasnya. Alhasil, mereka menggunakan benih sisa panen secara terus-menerus setiap tahun. Tanpa proses pemurnian, varietas yang semula berbiji besar mengalami degradasi ukuran dan mengecil akibat tercampur dengan varietas lain.
Guna mengatasi hambatan pasar, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim menjalankan dua langkah taktis, yaitu pertama, Fasilitasi MoU Jaminan Serapan, di sini Pemerintah menyusun nota kesepahaman (MoU) antara petani dengan koperasi pengrajin tahu-tempe untuk menjamin kepastian harga dan serapan pasar.
Dan Temu Lapang dengan Offtaker, di mana Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim menggelar pertemuan langsung antara petani, pengrajin, Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), serta pengusaha benih untuk mempromosikan keunggulan komoditas lokal .
Melalui program ini, pemerintah berharap para pengusaha bersedia mengoperasikan sistem off-taker untuk menyerap hasil panen, baik untuk kebutuhan industri maupun pemurnian benih kembali. [rac.gat]


