30 C
Sidoarjo
Wednesday, June 3, 2026
spot_img

Pendidikan Tinggi Belum Menjamin Pekerjaan

Oleh:
Ananda Dwi Lestari
Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam UniversitasKyai Haji Ahmad Siddiq Jember Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Prodi Manajemen Pendidikan Islam

“Saya sarjana lho, masak jadi sales?”

Kalimat itu saya dengar beberapa pekan lalu. Seorang pemuda berpakaianrapi, memegang map coklat, berbicara cukup keras di telepon genggamnya. Nada frustrasinya menusuk telinga. Dalam perjalanan pulang, saya merenung. Bukankah kita selama ini diajari bahwa kuliah adalah tiket emas menuju kehidupan yang layak? Bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin mudah membuka pintu rezeki?

Ternyata, realitas berkata lain. Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026 mencatat jumlah pengangguran di Indonesia masih berada di angka 7,24 juta orang. Meski ada tren penurunan tipis, kenyataan pahitnya adalah, kontributor terbesar kedua setelah lulusan SMA justru berasal dari lulusan universitas. Lebih dari satu juta sarjana saat ini masih menganggur .

Satu juta otak terdidik menganggur. Ini bukan sekadar angka statistik, ini adalah bom waktu sosial yang siap meledak.

Antara Kampus dan Pabrik
Kita sering mendengar istilah link and match. Pemerintah gencar mencanangkan hubungan antara pendidikan tinggi dan dunia industri. Namun faktanya, jalanan masih terasa terjal.Data terbaru dari NEXT Indonesia Center menyebutkan bahwa sekitar 57,3% pekerja di Indonesia mengalami mismatch atau ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan . Artinya, hanya sekitar 40% orang yang benar-benar bekerja sesuai dengan gelar yang mereka perjuangkan selama 4 tahun atau lebih di bangku kuliah.

Fenomena ini semakin absurd ketika kita melihat lulusan Sarjana Hukum yang jagoan menghafal pasal, namun ternyata kalah cepat belajar menggunakan software legal drafting otomatis. Atau lulusan Manajemen yang paham teori pemasaran jilid tebal, tapi tidak tahu cara menjalankan iklan Facebook Ads atau mengoptimalkan toko online.

Berita Terkait :  DPRD Jatim Desak KPU Tingkatkan Sosialisasi Pendaftaran Pilgub

Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menyebut situasi ini sebagai inefisiensi masif. “Ketidaksinkronan antara sistem pendidikan dan kebutuhan industri telah menciptakan inefisiensi masif yang jika dibiarkan akan menjadi bom waktu bagi pembangunan nasional” .Seakan sistem pendidikan kita hanya memproduksi barang dalam jumlah besar (lulusan) tanpa riset pasar terlebih dahulu. Hasilnya? Banjir stok yang tidak laku, atau dalam hal ini, sarjana yang ‘nganggur’.

Krisis “Kartu Nama” Bernama Ijazah
Dulu, ijazah adalah segalanya. Ia adalah identitas, harga diri, dan jaminan. Sekarang, di era disrupsi dan otomatisasi, ijazah hanya menjadi pelengkap. Saya berani mengatakan: Gelar itu penting, tetapi kertas ijazah tidak akan pernah bisa menggantikan keterampilan memecahkan masalah (problem solving).

Seorang HRD sebuah perusahaan rintisan (startup) di Jakarta Selatan pernah berkelakar, “Kalau kami buka lowongan, dalam sejam bisa 500 lamaran masuk, semuanya cumlaude. Tapi yang bisa kami panggil interview cuma yang punya portofolio riil.”Dunia usaha saat ini kehausan akan skill. LinkedIn Global Workplace Report (2024) menyebutkan bahwa 92% perusahaan di dunia menilai soft skills sama pentingnya dengan hard skills . Kemampuan komunikasi, manajemen waktu, adaptasi teknologi, dan kemauan belajar hal baru saat ini bernilai jual lebih tinggi dibanding sekadar nilai A di mata kuliah Statistika.

Kita melihat banyak kampus mulai sadar. UIN Gus Dur di Pekalongan, misalnya, gencar menggelar workshop karir yang tidak hanya mengajarkan teori, tapi simulasi wawancara kerja ( mock interview ) dan pembentukan personal branding lewat LinkedIn . Ini langkah kecil yang baik, tapi sayangnya masih menjadi “proyek khusus”, bukan arus utama kurikulum nasional.

Berita Terkait :  Komitmen Kejari Gresik Musnakan BB Judi Online 95 HP

Dampak Psikologis: Generasi Putus Asa
Lebih bahaya dari angka itu sendiri adalah dampak psikologisnya. Ketika seorang sarjana yang sudah bertahun-tahun belajar, menghabiskan biaya puluhan bahkan ratusan juta, pulang ke rumah lalu menjadi sandwich generation yang tidak berkontribusi, apa yang terjadi?

Rasa frustasi, malu, hingga depresi. Banyak yang kemudian memilih “Nganggur Berkualitas” alias Stay at Home sambil terus melamar, atau di ujung ekstrem, memilih menjadi Freelancer dengan penghasilan tidak tetap yang jauh di bawah standar hidup layak.

Kasus Burhan, 23 tahun, lulusan Ilmu Komunikasi di Surabaya, adalah cermin. Hampir setengah tahun melamar, puluhan surat dikirim, tak satu pun panggilan interview. Ia kemudian memilih belajar desain grafis secara otodidak . Ini heroik, tapi juga ironis. Di kampus ia belajar teori komunikasi massa, tapi untuk bertahan hidup, ia harus berguru pada youtube.

Bukan Menyalahkan Siapa, Tapi Membenahi Apa
Menyalahkan sistem pendidikan saja tidak cukup. Menyalahkan pemerintah yang gagal menciptakan lapangan kerja juga tidak akan menyelesaikan masalah.

Pertama, kita butuh Revolusi Kurikulum. Sudah saatnya kampus tidak hanya mengajarkan apa itu bisnis, tapi bagaimana memulai bisnis. Jangan hanya textbook, tetapi project-based learning. Jika perlu, setiap mahasiswa semester akhir wajib memiliki portofolio digital, bukan hanya skripsi yang menghilang di rak perpustakaan.

Kedua, Pemerintah harus menjadi ‘Mak Comblang’ yang serius. Bukan sekadar job fair tahunan, tetapi insentif nyata bagi industri yang mau bermagang dan melatih sarjana fresh graduate. Data BPS menunjukkan pekerja formal hanya 59,93 juta, lebih kecil dari informal . Artinya, formalisasi lapangan kerja dan mendorong wirausaha muda adalah keniscayaan. Jika sektor formal sempit, maka ekosistem wirausaha harus dipermudah.

Berita Terkait :  Model Cantik Ajak Warga Surabaya Gunakan Hak Pilih di Pilkada Serentak 2024

Ketiga, untuk para mahasiswa dan orang tua: Ubah pola pikir. Jangan jadikan kuliah sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai batu loncatan. Selama kuliah, jangan hanya mengejar IPK 4.0. Kejarlah pengalaman organisasi, magang, freelance, dan networking. Dunia saat ini butuh orang yang bisa bekerja, bukan hanya orang yang pintar berteori.

Pendidikan tinggi adalah investasi, saya setuju. Tapi investasi tidak selalu tentang jaminan keuntungan instan; ia tentang meningkatkan peluang. Jika sistem pendidikan tidak segera menyesuaikan diri dengan kecepatan perubahan zaman, jangan heran jika kita akan terus memproduksi generasi cerdas yang termarjinalkan di negerinya sendiri.

Jangan sampai ijazah hanya menjadi pajangan dinding yang mahal, sementara hati dan pikiran pemiliknya terus diliputi tanda tanya: “Lalu, mau makan apa besok?”. Sudah saatnya kita realistis. Karena sarjana bukan lagi tiket kerja, melainkan modal dasar untuk memenangkan pertarungan yang jauh lebih sengit.

—————- *** —————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!