Surabaya, Bhirawa
Program Studi Visual Communication Design (VCD)Universitas Ciputra (UC) Surabaya mengadakan Outlining Design 2026: CH2OMA di Ciputra World Surabaya.
Kegiatan tersebut meliputi pameran tugas akhir yang melampaui format konvensional sebagai sekadar ruang pajang karya mahasiswa, dimana hasil karya menunjukkan bagaimana pendidikan desain menghasilkan gagasan siap diuji di ruang publik, relevan pada kebutuhan pasar, serta responsif terhadap isu keberlanjutan, kesehatan, literasi digital, produktivitas emosional, produksi kreatif, dan budaya anak muda. Jumat, (22/5/2026)
Ketua Program Studi VCD UC, Stevanus Christian Anggrianto mengatakan tugas akhir mahasiswa di VCD UC bukan hanya berfokus estetika desain, tetapi diarahkan jadi karya relevan dengan kebutuhan masyarakat dan siap diuji di ruang publik.
“VCD UC tugas akhir tidak cuman menghasilkan karya visual yang menarik, tapi dikembangkan sebagai solusi desain nyata yang terintegrasi dengan bisnis, branding, strategi komunikasi visual, dan pengalaman audiens,” jelasnya.
Lanjut Stevanus menjelaskan bahwa CH2OMA menujukan berbagai karya dari mahasiswa yang mana medekatkan isu sehari-hari, seperti sustainability, kesehatan, literasi digital, sampai budaya anak muda.
“Pendidikan desain mampu menghasilkan gagasan yang aplikatif, relevan dengan kebutuhan pasar, sekaligus responsif terhadap isu sosial dan budaya yang berkembang,” ucapnya.
Sementara itu, Karya UNPST Worldwide dari mahasiswa UC, Marcellus Bryan Soegiarto menyampaikan brandnya berkonsep “clean grunge”, dengan menghadirkan gaya rebel dan edgy yang tetap nyaman dipakai sehari-hari dan lebih mudah diterima masyarakat luas.
“Kenapa mengambil kosep ini karena ingin mengubah stigma gaya grunge, metal, maupun street culture selalu identik dengan hal-hal negative,” pungkasnya
Bryan menambahkan berawal pernah mengalami bullying akibat cara fasion yang dianggap berbeda, dan terus berjejaring dengan berbagai orang ternyata banyak juga anak muda yang punya keresahan yang sama.
“Dari situ melihat peluang menjadikan fashion tidak sekadar bisnis, tetapi gerakan sosial kecil yang membawa pesan penerimaan diri, UNPST Worldwide sejak dua tahun lalu, dengan perjalanan tidak mudah, harus melalui banyak trial and error untuk membangun awareness brand-nya, perlahan berhasil masuk ke berbagai komunitas seperti hip hop, hardcore, hingga skateboard untuk memperkenalkan produknya secara langsung,” tutur Bryan.
Pada pameran ini, Bryan berkeinginan memberi hadia kepada orang-orang yang sudah support dari nol, yang selalu mengikuti perjalanan brand. [ren.kt]


