32.2 C
Sidoarjo
Tuesday, August 11, 2026
spot_img

Musyawarah AHWA Muktamar NU Bakal Digelar di Ndalem Kasepuhan Tambakberas

Jombang, Bhirawa – Musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) pada rangkaian Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 dipastikan bakal berlangsung di Ndhalem Kasepuhan KH Abdul Wahab Chasbullah, Kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Uluml Tambakberas, Jombang.

Keputusan penetapan lokasi itu didasari oleh nilai sejarah dan napak tilas perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab sewaktu mengawali gagasan pendirian hingga pengembangan organisasi NU.

Ketua Umum Yayasan Ponpes  Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq menyampaikan, panitia lokal sebelumnya sempat merencanakan kawasan makam sebagai lokasi musyawarah.

Akan tetapi, rencana awal tersebut dibatalkan karena area makam diprediksi bakal menjadi titik pusat keramaian para peziarah dan penggembira sepanjang pelaksanaan muktamar.

“Memang awalnya kita punya wacana ditempatkan di area makam,” kata Gus Rozaq, Selasa (11/8/2026).

“Tapi karena di situ area keramaian, jadi kita geser ke Ndalem KH Wahab Hasbullah,” imbuh Gus Rozaq.

Gus Rozaq menegaskan  Ndhalem Kiai Wahab jauh lebih kondusif dan dapat memberikan ketenangan yang dibutuhkan dalam forum musyawarah sepenting AHWA.

Langkah tersebut juga menjadi bentuk kesiapan panitia lokal Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang dalam mendukung kelancaran seluruh rangkaian agenda krusial muktamar.

Sebagai forum tertinggi, AHWA beranggotakan sembilan ulama pilihan yang mengemban mandat khusus untuk memilih Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode berikutnya.

Berita Terkait :  Lima Juta Batang Rokok Ilegal Rp 7.37 M Dimusnahkan Bea Cukai Sidoarjo dan Pemkot Mojokerto

Pemilihan Ndhalem Kiai Wahab sekaligus difungsikan sebagai momentum untuk merefleksikan kembali jejak histori dan spirit perjuangan Mbah Wahab.

“Ini sekaligus untuk mengenang awal perjuangan Kiai Wahab mendirikan NU yang memang berawal dari rumah tersebut,” tutur Gus Rozaq.

Penetapan Ndhalem Kiai Wahab tidak sekadar persoalan teknis tempat, melainkan sarat akan simbol historis bagi perjalanan jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Secara kontekstual, AHWA merupakan sistem penetapan pimpinan tertinggi yang menjadi tradisi dan ciri khas keorganisasian di tubuh NU, khususnya dalam menentukan Rais Aam Syuriyah.

Mekanisme tersebut melibatkan jajaran ulama dan kiai sepuh terkemuka yang dinilai memiliki kedalaman ilmu serta kearifan untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi.

Dalam prosesnya, forum AHWA mengedepankan prinsip musyawarah mufakat untuk memilih figur yang paling matang dan layak mengemban amanah sebagai Rais Aam.

Konsep AHWA mengakar kuat dari tradisi politik Islam klasik yang dicontohkan para sahabat Nabi Muhammad SAW saat menentukan pemrakarsa kepemimpinan umat. Bagi NU, penerapan mekanisme AHWA menjadi benteng untuk menjaga martabat para ulama serta melestarikan tradisi regenerasi kepemimpinan berbasis keilmuan. Sistem AHWA terbukti efektif memberi ruang bagi para kiai untuk bermusyawarah secara jernih, mengedepankan ketokohan, pertimbangan keilmuan, dan kemaslahatan umat tanpa harus terjebak dalam kontestasi politik praktis. [rif.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!