26.6 C
Sidoarjo
Monday, August 10, 2026
spot_img

Beasiswa PASCH, Siswa SMAN 15 Surabaya Dalami Bahasa dan Budaya Jerman


Surabaya, Bhirawa – Pengalaman internasional sekaligus bekal untuk melanjutkan pendidikan tinggi diperoleh Arvita Ratna Wardani. Siswi SMAN 15 Surabaya ini berhasil meraih beasiswa penuh program Jugendkurs PASCH Goethe Institut dan mengikuti pertukaran pelajar di Jerman selama tiga minggu, pada 5 Juni hingga 25 Juli 2026 lalu.

Dalam program tersebut, Arvita menjadi salah satu dari 15 siswa terbaik yang terpilih melalui seleksi nasional dari 29 sekolah di Indonesia yang tergabung dalam jaringan kerja sama PASCH. Beasiswa yang diterimanya mencakup akomodasi, penginapan, uang saku, hingga pengurusan visa juga ujian sertifikasi bahasa Jerman.

Arvita mengaku kesempatan mengikuti program tersebut berawal dari informasi yang disampaikan guru Bahasa Jerman di sekolah. Sebagai siswa yang mengikuti ekstrakurikuler Bahasa Jerman, ia kemudian memberanikan diri mengikuti seleksi beasiswa Jugendkurs.

“Awalnya dari guru yang menginformasikan kalau ada beasiswa dari PASCH-Goethe-Institut. Saya memang mengikuti kegiatan Bahasa Jerman di sekolah. Kemudian kami mengikuti seleksi internal sekolah. Setelah itu, perwakilan dari masing-masing sekolah mengikuti seleksi secara nasional. Dari 29 sekolah yang bekerja sama dengan PASCH, kemudian dipilih 15 siswa terbaik,” ujar Arvita saat ditemui Bhirawa, beberapa waktu lalu.

Sebelum diberangkatkan ke Jerman, para peserta terlebih dahulu dikumpulkan di Jakarta untuk mendapatkan pengarahan dari Goethe Institut. Selanjutnya, Arvita bersama peserta lainnya menjalani program pembelajaran dan pertukaran budaya di Jerman.

Selama tiga minggu, ia mengikuti kursus Bahasa Jerman secara intensif setiap Senin hingga Jumat. Para peserta dibagi dalam sejumlah kelas berdasarkan tingkat kemampuan bahasa, mulai A2, B1, dan tingkat lainnya.

“Keseharian kami belajar Bahasa Jerman, terutama berkaitan dengan kosakata dan tata bahasa. Kelasnya dibagi berdasarkan kemampuan, misalnya A2 dan B1. Setelah pelajaran, ada berbagai aktivitas dan kami bisa memilih dua kegiatan yang ingin diikuti,” katanya.

Berita Terkait :  Semarakkan HUT RI Ke-79, Sekolah Santo Mikael Kenalkan Keberagaman dan Nasionalisme Lewat Lomba

Selain pembelajaran di kelas, program tersebut juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan pertukaran budaya. Arvita berkesempatan bertemu dengan 73 peserta dari 16 negara. Interaksi dengan peserta dari berbagai negara menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya.

“Yang paling saya dapatkan tentu kemampuan bahasa. Karena selama berada di Jerman, keseharian kami banyak menggunakan Bahasa Jerman. Itu sangat membantu kemampuan speaking saya karena kami benar-benar dibiasakan untuk berkomunikasi menggunakan Bahasa Jerman,” ungkapnya.

“Selain itu, kami bertemu dengan peserta dari 16 negara. Kami saling berbagi budaya dan dari sana saya juga mendapatkan banyak koneksi dan teman baru. Jadi bukan hanya belajar bahasa, tetapi juga belajar memahami kebudayaan dari berbagai negara,” imbuhnya.

Setiap akhir pekan, para peserta juga mengikuti kegiatan perjalanan dan studi lapangan. Pada minggu pertama, Arvita dan peserta lainnya melakukan kunjungan ke Munich, termasuk mengikuti sosialisasi pendidikan tinggi di Ludwig Maximilians Universität München (LMU Munich).

“Kegiatan belajar berlangsung dari Senin sampai Jumat. Hari Sabtu biasanya kami melakukan perjalanan studi. Pada minggu pertama kami pergi ke Munich dan mendapatkan sosialisasi mengenai universitas, termasuk LMU Munich,” tuturnya.

Memasuki minggu kedua, rombongan peserta mengikuti perjalanan ke Austria. Selama program berlangsung, Arvita juga tinggal di sebuah desa di wilayah selatan Jerman, tepatnya di Bavaria, yang berada tidak jauh dari Munich.

Program tersebut juga memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mengikuti diskusi dan sesi tanya jawab dengan anggota parlemen Jerman atau Bundestag. Menurut Arvita, kesempatan itu memperluas wawasan peserta tentang kehidupan sosial, pendidikan, hingga sistem yang berkembang di Jerman.

Puncak kegiatan ditandai dengan pelaksanaan ujian sertifikasi Bahasa Jerman internasional yang diselenggarakan Goethe-Institut. Arvita mengikuti ujian tingkat B1 di Munich dan berhasil lulus.

Berita Terkait :  TNI-Polri Bersama Petugas Pelabuhan Kompak Menjaga Proses Kepulangan Ribuan Santri Situbondo

“Ujian Bahasa Jerman dilaksanakan pada minggu ketiga. Saya mengikuti ujian B1 di Munich. Ujiannya meliputi kemampuan membaca, mendengarkan, menulis, dan berbicara. Alhamdulillah, saya berhasil lulus dan mendapatkan sertifikat B1,” jelasnya.

Ia mengakui selama mengikuti program tersebut sempat mengalami kendala dalam beradaptasi, terutama karena jauh dari keluarga dan harus tinggal di lingkungan baru. Namun, interaksi dengan peserta dari berbagai negara membantunya menyesuaikan diri.

“Awalnya memang agak sedikit sulit beradaptasi dan ada rasa homesick. Tetapi untuk beradaptasi dengan teman-teman dari negara lain masih bisa karena kami banyak berinteraksi dan mengikuti kegiatan bersama. Dari situ saya juga belajar untuk lebih mandiri,” katanya.

Keberhasilan memperoleh sertifikat Bahasa Jerman tingkat B1 menjadi salah satu keuntungan besar bagi Arvita. Sertifikat tersebut, menurutnya, dapat menjadi modal untuk melanjutkan pendidikan di masa depan.

Saat ini, Arvita berencana menempuh pendidikan strata satu di Indonesia dengan minat pada bidang teknologi informasi. Sementara untuk pendidikan strata dua, ia memiliki keinginan melanjutkan studi di Jerman.

“Saya berencana mengambil S1 di Indonesia dengan peminatan IT. Ke depan, saya punya rencana untuk melanjutkan S2 di Jerman. Sertifikat B1 ini tentu menjadi salah satu bekal yang bisa saya tunjukkan saat mendaftar,” ujarnya.

Guru Bahasa Jerman SMAN 15 Surabaya, Yeti Sofiana, mengatakan keberhasilan Arvita merupakan hasil dari proses pembinaan Bahasa Jerman yang selama ini dilakukan sekolah. SMAN 15 Surabaya sendiri merupakan salah satu sekolah yang tergabung dalam jaringan kerja sama PASCH.

Menurut Yeti, sekolah secara intensif memberikan pendampingan kepada siswa yang berminat mengikuti program dan sertifikasi Bahasa Jerman. Pembelajaran dilakukan secara bertahap mulai tingkat dasar hingga tingkat lanjut.

“Kami merupakan sekolah mitra Jerman dan memiliki kerja sama dalam program PASCH. Setiap angkatan mendapatkan pembelajaran Bahasa Jerman, tetapi untuk kelas intensif memang diikuti oleh anak-anak yang memiliki minat dan kesiapan untuk mengikuti seleksi,” katanya.

Berita Terkait :  Film Jejak Sang Timur, Salah Satu Literasi Budaya Jalan Memajukan Peradaban Bangsa

Ia menjelaskan, pembinaan kemampuan Bahasa Jerman dilakukan melalui sejumlah tingkatan, mulai A1 sebagai tingkat dasar, A2, B1, hingga tingkat yang lebih tinggi. Saat ini, terdapat sejumlah siswa yang telah mengikuti sertifikasi pada berbagai tingkatan tersebut.

“Anak-anak yang berminat kami beri pendampingan secara intensif. Ada yang sudah mengikuti A1, kemudian A2, B1, hingga tingkat yang lebih tinggi. Banyak juga alumni kami yang akhirnya melanjutkan pendidikan ke Jerman, termasuk melalui jalur pendidikan vokasi,” ujarnya.

Menurut Yeti, kesempatan mengikuti beasiswa Jugendkurs PASCH Goethe Institut menjadi pengalaman penting karena proses seleksinya cukup ketat. Dari 29 sekolah yang menjadi mitra PASCH, hanya 15 siswa yang terpilih secara nasional.

“Ini menjadi kebanggaan bagi kami karena Arvita bisa lolos sebagai salah satu dari 15 siswa nasional. Untuk SMAN 15 Surabaya, ini merupakan pengalaman pertama siswa kami mendapatkan beasiswa program tersebut. Karena itu, kami memang memberikan pendampingan secara intensif kepada siswa, termasuk persiapan menghadapi ujian sertifikasi,” katanya.

Yeti menambahkan, salah satu tantangan terbesar dalam mempelajari Bahasa Jerman adalah penguasaan tata bahasa dan artikel. Namun, melalui pembelajaran yang berkelanjutan, penguatan kosakata, serta dukungan pengajar, siswa diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berbahasa mereka.

“Kesulitan yang paling sering dihadapi memang ada pada tata bahasa karena dalam Bahasa Jerman ada beberapa artikel yang penggunaannya harus benar-benar dipahami. Karena itu, persiapan anak-anak cukup intensif, termasuk memperkuat hafalan kosakata dan latihan secara berkelanjutan. Setiap tahun kami juga mendapatkan kesempatan belajar bersama native speaker dari Jerman,” pungkasnya. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!