Kekalahan (1-3) Timnas Garudadari Vietnam, membuat syok sekaligus menumbuhkan trauma mendalam. Harus diakui, melawan Vietnam paling ditakuti. Melebihi lawan Thailand. Bahkan belum terdapat pelatih luar negeri yang bisa membawa kemenangan tanding melawan Vietnam.Bahkan coach John Herdman (asal Inggris) hanya mampu membawa Timnas Garuda pada fase grup AFF 2026.Begitu pula, sudah banyak pemain naturalisasi, tetapi belum menunjukkan prestasi.
Bahkan PatrickKluivert, tak mampumembawa gelar juara dalam Piala AFF U-23 (Tahun 2025). Juga dikalahkan Vietnam pada babakFinal. Seolah-olah belum ada pelatih Indonesia yang mampu mengalahkan pelatih Vietnam, Kim Sang-sik (se-negara dengan Shin Tae-yong, Korea Selatan). Harus diakui, Kim Sang-sik, dijuluki sebagai aktor utama di balik kebangkitan Vietnam. Padahal Kim, dulu, di Timnas Korea Selatan,sebagai pemain pengganti. Tampil pada babak keduaPiala Dunia (2006).Jugapemain pengganti padaPiala Asia2007.
PSSI wajib melakukan serangkaian evaluasi. Karena sudah sangat banyak anggaran digelontor untuk memajukan sepakbola Indonesia. Tetapi belum ada tropi yang dibawa pulang. Bahkan juara setingkat Asia Tenggara, juga belum pernah.Pada ajang Piala AFF (ASEAN Football Federation), Timnas bagai dahaga juara, selama tiga dekade.Dipaksa harus puas dengan posisi runner-up. Yakni, 4 kali kalah dari Thailand (tahun 2000, dan 2002) ketika diasuh Ivan Kolev.
Ivan Kolev juga gagal dalam final AFF tahun 2004, dikalahkan Singapura. Selanjutnya Timnas Garudadikalahkan Thailanddalam final tahun 2016, ketika diasuhAlfred Riedl. Sebelumnya Riedl juga kalahdalam final tahun 2010, melawan Malasyia. Sedangkan final AFF tahun 2021, Timnas Garuda dikalahkanThailand, ketika dibawahkan Shin Tae-yong (STY).
Ironis, banyak yang meng-anggap Piala AFF tidak penting. Hanyapengembangan pemain muda (U-23). Tetapi menang(medali emas) SEA Games dianggap lebih ber-gengsi. SebenarnyaTimnassudahmembangun”mental juara.”Terutamasetelahkandas beberapa kali lagapada level Asia Tenggara. Harusdiakuiadaperasaan”takut”saatmenghadapitimnas Thailand. Lalubertambah”takut”pada Vietnam.
Problem mental, menyebabkanTimnasGarudaseringdikandaskan. Termasuk”dipecundangi”padaajang AFF tahun 2022, dengansistemhead-to-head. Gagalmencapai final, walaudalamposisijuaragrup, di atas Vietnam dan Thailand. Tetapi yang maju finalVietnam dan Thailand. Ketakutan pada Vietnam dan Thailand, berlanjut pada SEA Games 2025. GejalakekalahanpadaSEA Games 2025, adalah, Timnasterserang mental.
Berdasarhasildrawing, maka target menjadijuaraGrup C, seolah-olah di depanmata. Lebihlagidalamposisisebagaijuarabertahan, pengharapanmenjadijuaragrup, sangatwajar. Konon, menyebabkanterlalupercayadiri, tetapitidakbisamembuahkangolsampaihampirakhirbabakpertama. Bahkankemasukangolpadainjury time babakpertama, bagaisyokterapi.
KekalahantimnassepakbolapadababakgrupSEA Games, tergolongsangatprematur. Bahkanmenyebabkankemunduran”mental kebangkitan” yang sudahterbangunsejaktahun 2022. AkibatnyapelatihsekaliguspengaturstrategiTimnas U-22, IndraSjafrie, dipecatoleh PSSI. Sebelumnya, PSSI sudahmemecat Shin Tae-Yong. Juga Patrick Kluivert (asalBelanda). Pemecatanpelatihsecaraberuntundalamwaktudekat, menunjukkanpengharapanbesar yang belumterwujud.
Mental pemain sepakbola menjadi problem yang harus segera dihapus dengan berbagai “healing.”Terutama kenangan ketika Timnas U-22 memenangi podium tertinggi sepakbola SEA Games tahun 2023. Bagai penglipur dahaga selama 32 tahun tidak merasakan podium tertinggi sepakbola se-Asia Tenggara. Tetapi Vietnam meraih juara umumSEA Games.
——— 000 ———


