Surabaya, Bhirawa
Pusat perbelanjaan di Indonesia kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat belanja. Menurut Colliers Quarterly Property Market Report Q1 2026 Sektor Ritel di Jakarta contohnya, Mal semakin berfokus pada pengalaman dan gaya hidup untuk menarik pengunjung.
Colliers Indonesia mencatat, rata-rata tingkat hunian di Jakarta tercatat sekitar 73 persen pada kuartal pertama 2026.
“Meskipun rerata tingkat hunian di Jakarta tercatat sekitar 73 persen pada kuartal pertama 2026. Mal kelas premium dan menengah‑atas mempertahankan kinerja yang lebih baik dengan terus menarik minat brand internasional dan konsumen berdaya beli tinggi,” ujar Ferry Salanto, Kepala Riset Colliers Indonesia, Kamis (21/5/2026).
Mal‑mal premium dan menengah‑atas semakin berperan sebagai pusat gaya hidup.
“Mal‑mal ini semakin berperan sebagai pusat gaya hidup, dengan kurasi penyewa yang kuat, penyelenggaraan acara, serta ruang sosial yang tidak dapat tergantikan oleh platform online,” tambah Ferry.
Pendekatan ini mencakup seleksi penyewa yang tajam, rangkaian acara di lokasi, serta penciptaan ruang-ruang berkumpul yang memberi nilai lebih dibandingkan belanja online.
Sektor makanan dan minuman tetap menjadi salah satu kategori paling aktif. Konsep toko minuman dan restoran yang memadukan produk berkualitas dengan pengalaman sosial mendapat perhatian besar dari pengunjung. Selain itu, segmen pakaian olahraga juga tumbuh pesat, terdorong oleh meningkatnya minat masyarakat urban terhadap kesehatan dan kebugaran.
Namun sektor fesyen menghadapi tantangan. Peritel fesyen kini tertekan oleh persaingan platform online dan pelaku UMKM lokal. Perilaku belanja Gen Z, sebagai kontributor utama kunjungan mal yang lebih selektif dan mengutamakan pengalaman serta value membuat peritel menyesuaikan strategi. Banyak peritel beralih ke format toko yang lebih kecil, menyewa untuk periode lebih singkat, dan memilih lokasi dengan arus pengunjung tinggi.
Alih-alih ekspansi agresif, pemilik mal lebih memilih renovasi dan peremajaan aset. Fokus diarahkan pada peningkatan pengalaman pengunjung, seperti penambahan area semi-outdoor dan fasilitas gaya hidup, sehingga mal berperan bukan sekadar destinasi belanja, tetapi juga tempat berkumpul, berinteraksi, dan beraktivitas.
Tren okupansi memperkuat perubahan strategi ini. Mal premium dan menengah‑atas mempertahankan okupansi sekitar 90 persen, sementara mal kelas bawah menghadapi serapan yang lebih lambat dan persaingan ketat. Karena itu, kualitas aset, komposisi penyewa, dan pengalaman pengunjung menjadi faktor penentu kinerja di masa depan.
Colliers mencatat pasar ritel kini semakin selektif. Peritel dan pemilik mal yang mampu menghadirkan pengalaman relevan, efisiensi operasional, serta diferensiasi brand yang kuat diperkirakan akan terus mencatatkan kinerja lebih unggul ke depan. [aya.kt]


