Oleh:
Aisyah Anggraeni
Mahasiswa S3/Doktor Pendidikan Dasar FIP Universitas Negeri Padang (UNP) Sumbar.
Suatu hari nanti, mungkin sekolah tidak lagi membutuhkan perpustakaan. Buku-buku terlalu berat dibawa, halaman terlalu lama dibaca, dan mencari informasi dari ratusan lembar dianggap pekerjaan yang kurang efisien. Sebagai gantinya, cukup buka layar, ketik pertanyaan, lalu mesin akan menjawab dengan sopan, cepat, dan nyaris tanpa pernah mengeluh.
Selamat datang di era pendidikan modern: zaman ketika manusia akhirnya berhasil menciptakan mesin yang bisa menjawab hampir semua pertanyaan, lalu mulai menghadapi masalah baru, manusia mulai lupa bagaimana cara bertanya. Inilah paradoks generasi AI.
Kita sedang memasuki masa ketika kecerdasan tidak lagi selalu diukur dari kemampuan berpikir, tetapi dari kemampuan memberikan perintah kepada mesin agar terlihat berpikir. Seseorang yang mahir menyusun kalimat untuk AI bisa tampak sangat cerdas, meskipun sebenarnya hanya pandai memindahkan pekerjaan intelektual kepada teknologi.
Lucunya, manusia menciptakan mesin untuk membantu berpikir, lalu perlahan tergoda untuk menyerahkan seluruh pikirannya kepada mesin. Sebuah kemajuan yang menarik. Kita dulu khawatir mesin akan mengambil pekerjaan manusia. Kini mungkin kita perlu lebih khawatir mesin mengambil kebiasaan manusia: membaca, merenung, bertanya, dan meragukan.
Sebab pendidikan sejak awal bukan sekadar tentang menemukan jawaban. Pendidikan adalah latihan untuk membangun pikiran. Anak kecil memahami dunia bukan karena memiliki semua jawaban, tetapi karena memiliki keberanian bertanya. Mengapa langit berwarna biru? Mengapa manusia berbeda? Mengapa sesuatu terjadi? Dari pertanyaan sederhana itu lahir ilmu pengetahuan.
Namun, di era AI, pertanyaan mulai mengalami nasib seperti barang lama: masih berguna, tetapi dianggap kurang praktis. Hari ini, ketika siswa menghadapi tugas, godaan terbesar bukan lagi menunda pekerjaan. Godaan terbesar adalah menyelesaikannya tanpa benar-benar mengerjakannya.
Cukup buka AI. Dalam hitungan detik, lahirlah esai, rangkuman, analisis, bahkan kesimpulan. Guru mungkin mendapatkan tulisan yang rapi. Sistem mungkin mencatat tugas selesai. Nilai mungkin masuk.
Semua tampak berjalan baik. Hanya ada satu hal kecil yang mungkin hilang: proses berpikir siswa itu sendiri. John Dewey (1938) pernah mengingatkan bahwa belajar bukan sekadar menerima informasi, melainkan proses penyelidikan. Manusia tumbuh ketika menghadapi persoalan, mencoba memahami, gagal, memperbaiki, lalu menemukan pemahaman.
Tetapi budaya AI yang digunakan secara keliru dapat menciptakan generasi yang alergi terhadap proses. Mereka ingin hasil tanpa perjalanan. Ingin kesimpulan tanpa penelitian. Ingin pengetahuan tanpa rasa penasaran.
Pendidikan akhirnya berubah menjadi semacam perlombaan menghasilkan jawaban tercepat. Seolah-olah siswa paling unggul adalah mereka yang paling cepat mengirim tugas, bukan mereka yang paling dalam memahami.
Padahal, mesin sudah menang dalam perlombaan kecepatan. AI mampu membaca jutaan data dalam waktu singkat. Ia tidak perlu tidur, tidak perlu istirahat, tidak pernah bosan membaca dokumen panjang. Jika ukuran kecerdasan hanya kecepatan mengolah informasi, manusia jelas akan kalah.
Tetapi pendidikan tidak pernah seharusnya mencetak manusia yang hanya unggul dalam hal yang mesin sudah kuasai. Pendidikan seharusnya membangun sesuatu yang tidak mudah digantikan: kebijaksanaan. Masalahnya, kebijaksanaan tidak bisa diunduh.
Tidak ada aplikasi bernama ‘wisdom.exe’ yang bisa dipasang dalam lima menit. Tidak ada tombol otomatis untuk membuat seseorang menjadi kritis. Semua itu membutuhkan pengalaman, kegagalan, dialog, dan pertanyaan yang tidak nyaman.
Sayangnya, dunia modern justru sering menganggap ketidaknyamanan sebagai gangguan. Belajar terasa terlalu lama. Membaca dianggap terlalu berat. Berpikir dianggap terlalu lambat. Kita hidup dalam budaya yang ingin semua hal menjadi instan. Kopi instan, hiburan instan, informasi instan, dan kini mungkin juga pemikiran instan.
Padahal, sesuatu yang instan sering hanya memberi rasa kenyang sementara. Filsuf pendidikan seperti Socrates sejak ribuan tahun lalu sudah menunjukkan bahwa manusia tidak menjadi bijak karena memiliki semua jawaban. Manusia menjadi bijak karena menyadari keterbatasannya dan terus bertanya.
Ironisnya, di zaman ketika AI mampu memberikan jawaban tentang hampir segala hal, manusia justru berhadapan dengan kelangkaan terbesar: pertanyaan yang bermutu. Kita semakin banyak mengetahui, tetapi semakin sedikit mempertanyakan. Kita memiliki data melimpah, tetapi tidak selalu memiliki kebijaksanaan untuk menggunakannya.
Perkembangan AI sepanjang 2025-2026 memperlihatkan bahwa teknologi ini semakin masuk ke dunia pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari. Penggunaannya meningkat pesat karena masyarakat melihat AI sebagai alat yang praktis. Namun, bersamaan dengan itu muncul tantangan baru: kemampuan manusia untuk membedakan antara bantuan teknologi dan ketergantungan teknologi.
Sebab ada perbedaan besar antara menggunakan alat dan menyerahkan kendali kepada alat. Pisau membantu manusia memasak. Tetapi tidak berarti manusia harus menyerahkan makan malamnya kepada pisau. Begitu pula AI. AI seharusnya menjadi asisten berpikir, bukan pengganti pikiran.
Yuval Noah Harari (2018) pernah mengingatkan bahwa tantangan manusia di masa depan bukan hanya menghadapi mesin yang semakin cerdas, tetapi menjaga agar manusia tetap mampu menentukan arah. Mesin dapat memberikan pilihan, tetapi manusia harus tetap bertanggung jawab memilih.
Karena itu, sekolah masa depan tidak cukup mengajarkan cara menggunakan AI. Sekolah harus mengajarkan cara meragukan AI. Siswa harus belajar bertanya: Apakah jawaban ini benar? Dari mana informasi ini berasal? Apa yang tidak disebutkan? Apa akibatnya jika keputusan ini diambil?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan menjadi kemampuan paling mahal di masa depan. Daniel Kahneman (2011) menjelaskan bahwa manusia membutuhkan dua cara berpikir: cepat dan lambat. Di tengah dunia yang penuh jawaban instan, kemampuan berpikir lambat (menganalisis, memeriksa, dan mempertimbangkan) justru menjadi semakin penting.
Sebab manusia yang selalu meminta mesin berpikir untuknya lama-lama akan lupa bahwa ia memiliki pikiran sendiri. Generasi AI tidak boleh menjadi generasi yang paling cepat mencari jawaban tetapi paling miskin rasa ingin tahu.
Sebab masa depan tidak hanya membutuhkan orang yang tahu banyak hal. Masa depan membutuhkan orang yang mampu bertanya tentang hal-hal yang belum diketahui. Pada akhirnya, mungkin ancaman terbesar AI bukanlah mesin menjadi terlalu pintar. Ancaman terbesar adalah manusia menjadi terlalu nyaman. Dan ketika manusia sudah terlalu nyaman untuk bertanya, mungkin saat itulah mesin benar-benar mulai mengambil alih.
————- *** —————–


