28.3 C
Sidoarjo
Wednesday, June 24, 2026
spot_img

Tiga Siswa SDN 1 Perante Putus Sekolah, Camat Asembagus Cari Solusi


Situbondo, Bhirawa – Tiga anak di Desa Perante Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo diketahui sedang putus sekolah. Kabar ini terungkap dari laporan Indah Kepala Sekolah SDN 1 Perante, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo kepada Korwil Asembagus mengenai kondisi siswa yang putus sekolah tersebut.

Mendengar kabar tersebut, Faishol Afandi, Camat Asembagus bersama Kepala SDN 1 Parante Asembagus mendatangi rumah siswa putus sekolah, guna mencari solusi terbaik, Rabu (24/6).

Sejumlah anak tersebut, aku Faisol, diantaranya Hilwa 9 tahun seorang siswa kelas 2 sudah tidak bersekolah selama satu tahun lebih. Kemudian Gibran murid berusia 10 tahun yang juga tidak bersekolah selama hampir satu tahun dan satu murid berada di luar daerah hingga saat ini tidak dapat dihubungi.

Menurut Faishol Afandi, usai mendatangi rumah murid yang putus sekolah itu, mengaku kunjungan dirinya bertujuan untuk mencari tahu penyebab mereka tidak mau bersekolah. “Penyebab Gibran, tidak mau bersekolah akibat kedua orang tuanya telah berpisah. Menurut keterangan Ayah Gibran, ibunya saat ini berada di luar negeri bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia,” kata Faishol yang diamini Kepala SDN 1 Perante Asembagus saat berada di rumah Gibran.

Sementara siswa bernama Hilwa, sambung Faisol, memiliki sifat yang sangat sensitif dan lembut. Hal ini membuat Hilwa mudah mengalami trauma, terutama saat menghadapi tekanan di lingkungan sekolah, yang berdampak pada keterbatasan emosionalnya.

Berita Terkait :  Pakar Psikologi Unair Soroti Fenomena Komunitas Inses

“Kesulitan ekonomi keluarga menjadi tantangan bagi para siswa untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Kemudian memicu inisiatif orang tua agar anaknya untuk mencari nafkah. Ini, tidak hanya persoalan ekonomi, persoalan bullying kerap terjadi. Untuk itu pihak sekolah, termasuk guru, perlu memahami psikologi dan menguatkan mental setiap siswa karena masing-masing anak memiliki karakteristik, kemauan, dan keinginan yang berbeda-beda,” jelas Faishol.

Mantan Camat Kendit itu menambahkan, pihak sekolah kini telah memberikan motivasi kepada orang tua siswa tersebut. “Setelah masa liburan berakhir, pihak sekolah telah berjanji akan memfasilitasi siswa untuk kembali bersekolah,” katanya.

Sementara itu Pemerintah Kecamatan Asembagus, sambung Faishol, berkomitmen untuk mendampingi dan memberikan bantuan agar anak-anak tersebut dapat kembali bersekolah. “Saya berharap agar seluruh pihak dapat bersama-sama mencari solusi supaya para siswa yang berhenti sekolah dapat kembali melanjutkan pendidikannya,” ucap Faishol.

Dalam pandangan Faisol, pendidikan merupakan hak setiap anak. Karena itu, perlu ada pendampingan dan komunikasi dengan keluarga siswa agar kendala yang menyebabkan mereka putus sekolah bisa diatasi.

“Faktor ekonomi, kurangnya motivasi belajar, hingga kondisi keluarga sering menjadi penyebab utama anak tidak melanjutkan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara sekolah, pemerintah kecamatan dan pemerintah desa, orang tua, serta tokoh-tokoh pendidikan untuk mencegah kasus serupa terulang,” tutur Faishol.

Terakhir, Faishol, ada dukungan dari instansi terkait untuk melakukan pendataan dan pendampingan terhadap siswa yang putus sekolah, sehingga mereka dapat memperoleh akses program pendidikan formal dan non formal. “Termasuk juga mendapatkan pelatihan yang sesuai,” pungkas Faisol. [awi.wwn]

Berita Terkait :  Jurusan IPA, IPS dan Bahasa akan Dihidupkan, Pakar Nilai Murid Lebih Fokus

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!