28.3 C
Sidoarjo
Thursday, July 30, 2026
spot_img

Literasi untuk Pembangunan Bangsa

Oleh :
Akhmad Faishal
Penulis bekerja sebagai pengelola perpustakaan di SMAN 15 Surabaya

Salah satu indikator negara maju, yakni memiliki indeks Programme for International Students Assessment (PISA) yang bagus. Barangkali, ini menjadi salah satu indikator era modern dimana untuk mengukur kemajuan suatu bangsa dilihat dari kemampuan bacaan, matematika dan sains pada generasi mudanya.

Ada 81 negara yang terlibat di dalamnya dan Indonesia termasuk diantaranya. PISA merupakan sebuah tes yang dilakukan oleh OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development). Indonesia telah turut serta sejak 2012, 2015, 2018, dan 2022. Sejauh ini, hasil dari PISA Indonesia tidak terlalu memuaskan dan sering berada di urutan bawah (bukan terbawah). Entah itu di posisi 80, 79 atau 60-an. Sejatinya, hasil PISA dapat menjadi evaluasi proses pembelajaran, lebih-lebih evaluasi terhadap kementrian pendidikan. Lembaga tersebut sangat bersentuhan langsung (baca : berpengaruh) dengan generasi mudanya.

Sayangnya, hasil dari tiap keikutsertaan itu ternyata tidak serta merta dijadikan bahan evaluasi dan perbaikan sehingga tiap kali ikut serta hasilnya tidak jauh berbeda. Di ASEAN, kawasan Asia Tenggara, pada tahun 2022 ada 5 negara tetangga yang berada jauh di atas Indonesia, yaitu Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand. Filiphina, Timor Leste, Kamboja dan Myanmar memang bukan lagi saingan Indonesia. Namun, bisa jadi pelan-pelan beberapa negara itu dapat menyalip ranking PISA Indonesia. Itu, kalau sistem pendidikan Indonesia tidak benar-benar diperbaiki secara serius.

Berdasarkan pemaparan data dari jurnal penelitian Rismawati Silvia (2024), terdapat penurunan yang signifikan dari kategori membaca. Yakni, terjadi penurunan yang sangat drastis dan tajam. Sejak tahun 2015 hingga 2022, nilai dalam kategori ini terus merosot. Angkanya, 397 (tahun 2015), 371 (tahun 2018), dan 359 (tahun 2022). Pun begitu juga dalam kategori matematika. Angkanya, 386 (tahun 2015), 379 (tahun 2018), dan 366 (tahun 2022). Sejauh yang kita ketahui, bahwa para peserta PISA diambil dari murid-murid yang berusia 15 tahunan. Artinya, dalam usaha mempersiapkan generasi mudanya, Indonesia masih kalah jauh dengan ke-5 negara itu. Apalagi, negara-negara lain yang berada di posisi atas seperti Jepang, Korea, dan lain-lainnya.

Berita Terkait :  Ekonomi Pedesaan Terguncang Wabah PMK

Sesungguhnya, faktor dari penyebab penurunan ini juga sangat jelas, yakni tidak ada iklim yang dapat menciptakan budaya membaca di generasi mudanya. Memang, anak-anak telah dikenalkan baca, tulis, dan menghitung (calistung), tetapi tentu saja itu belum cukup untuk dapat bersaing di kancah dunia. Tidak ada penekanan bagi siapapun, termasuk para tokoh-tokoh di Indonesia, yang benar-benar dan sungguh-sungguh bahwa aktivitas membaca buku itu penting. Mereka hanya mengucapkan itu secara biasa dengan tanpa penerapan yang langsung dicontohkan bahwa membaca itu baik untuk masa depan. Dengan membaca buku, pengetahuan akan didapatkan, kreatifitas akan bermunculan dan kemajuan akan diraih. Namun, dalam hal ini untuk sekadar mencontohkan saja, para tokoh atau pesohor itu tidak mampu.

Kita melihat sendiri betapa banyak tokoh dan pesohor, terutama yang bercentang biru, hampir tidak pernah memperlihatkan sisi literasi mereka. Galeri foto mereka yang ada di media sosial, semisal Instagram (IG), paling banter memperlihatkan sisi seni. Entah itu lukisan atau tarian. Paling banyak memperlihatkan area tempat dimana mereka berada. Padahal, mereka memiliki ratusan ribu atau bahkan jutaan pengikut. Dan yang paling menarik, saat ini yang paling banyak disorot oleh masyarakat terkait dengan konten, yaitu Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Per Juni 2026, subscribernya mencari 9,06 juta di Youtube. Sudah ada ribuan konten yang diunggahnya, tetapi untuk konten literasi dan perpustakaan belum ada. Alangkah baiknya bahwa ada konten-kontennya tentang literasi seperti bincang-bincang di perpustakaan yang diupload sekali dalam dua minggu untuk memperlihatkan keberpihakannya. Dan tentu, ini penting bagi Indonesia untuk memperbaiki posisi generasi muda di ranah PISA. Lebih-lebih untuk kemajuan pembangunan bangsa.

Berita Terkait :  AAI Jatim Kukuhkan Pengurus Baru, Prioritaskan Transformasi Digital Kearsipan

Sejauh ini, generasi muda kita tidak memiliki contoh perilaku yang mengatakan betapa aktivitas membaca buku itu penting. Contoh pertama dan paling baik dari yang terbaik, yakni Mohammad Hatta telah tiada. Semenjak ia dan banyak pendiri negara ini telah tiada, lebih-lebih Soekarno, tidak ada generasi penerus yang memperlihatkan kepada generasi kekinian terkait aktivitas membaca buku. Bahwa memang ada ajakan, tetapi itu seperti lip service belaka. Hari kunjung perpustakaan terasa sekadar formalitas belaka. Belum ada contoh perilaku yang benar-benar memperlihatkan betapa penting dan bermanfaat aktivitas membaca buku itu.

Media sosial milik para pesohor dan tokoh itu sungguh sangat penting peranannya bagi contoh perilaku generasi muda kekinian. Kebanyakan dari generasi muda kita ini seringkali meniru aktivitas dan perilaku mereka. Mereka itu idolanya yang memberikan inspirasi dan motivasi agar ke depan nasibnya kelak seperti mereka. Namun, sayangnya konten-konten yang ditayangkan memang jauh dari dunia literasi. Inilah yang menjadikan sebagian besar generasi muda ini jauh dari aktivitas membaca buku.

Berkat konten yang memperlihatkan jalan-jalan, tempat-tempat eksotik dan banyak yang menarik itu membuat buku menjadi barang pelengkap saja. Mereka memegang buku hanya untuk di foto dan diunggah. Padahal, telah ada data yang sekiranya cukup membanggakan bahwa posisi Indonesia terkait masyarakatnya yang gemar membaca buku berada di atas negara Korea Selatan (Korsel). Artinya, meski posisi Indonesia kalah telak dari Korsel, setidaknya dari segi aktivitas membaca buku (6 buku per tahun) lebih tinggi dibandingkan Korsel.

Berita Terkait :  Uji Coba Perdana, Pelindo Berhasil Sandarkan Kapal di Terminal Batang

Pencapaian itu seharusnya menjadi umpan untuk lebih mendorong lagi agar rakyat Indonesia mampu membaca satu buku dalam satu bulan. Tidakkah, kita bertanya-tanya bahwa sekalipun Indonesia dalam hal gemar membaca buku posisinya di atas Korsel, tetapi baik dari PISA maupun pembangunannya masih kalah jauh dibandingkan Korsel. Tentu, kembali lagi kepada struktur fondasi bangunan pendidikan kita. Ada solusi yang dapat ditawarkan.

Yakni, menjadikan Sekolah Dasar dari jenjang kelas 1 hingga 6 sebagai dunia baca. Artinya 70 persen waktu yang dihabiskan mereka belajar di sekolah, yakni hanya untuk membaca dan membaca. Mereka harus diperkenalkan novel-novel klasik seperti Sitti Nurbaya, Salah Asuhan, Salah Pilih, dan semacamnya. Novel-novel Indonesia harus menjadi buku bacaan wajib untuk anak SD. SMP mulai diperkenalkan karya-karya Novelis luar negeri, baik dalam bentuk terjemahan dan bahasa aslinya. Tentu, ini akan menjadikan mereka pribadi yang kuat dalam literasi sebelum mengembangkan diri ke area yang lain. Pembangunan suatu bangsa dapat dimulai dari seberapa banyak generasi muda sekarang membaca buku.

———— *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!