Kota Probolinggo, Bhirawa – Intoleransi dan kekerasan di kalangan pelajar tidak selalu muncul dalam bentuk pertentangan terbuka atau tindakan fisik. Sikap tidak menghargai perbedaan, perundungan, hingga pengaruh yang mengarahkan seseorang pada pemahaman keliru dapat menjadi tanda awal persoalan tersebut.
Hal itu disampaikan Wali Kota Probolinggo Aminuddin saat bertemu 50 pelajar SMA, SMK, dan MA dalam kegiatan Pengembangan Kapasitas Deteksi Dini dan Cegah Dini bagi Pelajar Masa Kini Melawan Intoleransi dan Kekerasan Tahun 2026 di Ruang Hayam Wuruk, Kantor Bakesbangpol Kota Probolinggo, Jumat (16/10).
Aminuddin mencontohkan, sikap intoleran dapat terlihat ketika seseorang tidak mampu menerima keberhasilan orang lain, meremehkan perbedaan, atau berusaha menghambat orang lain meraih prestasi. Jika dibiarkan, perilaku tersebut dapat mengganggu hubungan sosial, termasuk pertemanan di lingkungan sekolah.
Ia juga mengingatkan bahwa pengaruh yang berpotensi merugikan tidak selalu disampaikan melalui cara-cara kasar. Pendekatan yang tampak santun pun perlu dicermati apabila digunakan untuk menanamkan pemahaman yang keliru.
“Kekerasan jangan dianggap suatu yang brutal saja. Banyak pendekatan yang dilakukan dengan kelembutan, dengan santun, tetapi lama-lama kita diberikan suatu ideologi atau pemahaman yang salah yang dapat merusak tatanan yang baik,” ujarnya.
Menurut Aminuddin, kewaspadaan tersebut juga diperlukan dalam pergaulan di ruang digital. Interaksi melalui media sosial dan pertemanan virtual memungkinkan pelajar berhubungan dengan orang yang belum dikenal secara langsung. Karena itu, pelajar perlu memahami batasan dalam berinteraksi dan mengenali pendekatan yang berpotensi membawa dampak buruk.
Ia meminta pelajar tidak bersikap pasif ketika menjumpai perundungan atau perlakuan tidak adil di sekitarnya. Pelajar diharapkan memiliki keberanian untuk bersikap sekaligus memahami langkah yang tepat untuk membantu korban.
“Saya berharap adik-adik menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun pergaulan. Ketika melihat teman mengalami perundungan atau perlakuan tidak adil, jangan tinggal diam,” kata Aminuddin.
Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kota Probolinggo, Nur Fathur Rachman Efendi, juga menekankan pentingnya kemampuan pelajar mengenali intoleransi dan kekerasan sejak dini. Ia meminta pelajar menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan berani mengambil tindakan yang tepat ketika menemukan persoalan tersebut.
Kegiatan yang berlangsung pada 15-16 Oktober 2026 itu diikuti pelajar yang tergabung dalam Forum Pelajar Anti Kekerasan Kota Probolinggo. Materi disampaikan oleh narasumber dari Unit PPA dan PPO Polres Probolinggo Kota serta psikolog dari Institut Ahmad Dahlan Probolinggo. [fir.wwn]




