Kota Batu, Bhirawa
Generasi muda membutuhkan ruang dalam pengembangan karakter yang tangguh. Hal ini menginisiasi para praktisi seni di Kota Batu untuk membantu anak- anak dan remaja di kota ini dalam pembentukan karakter dengan menyediakan tempat pembelajaran seni peran. Karena dengan belajar seni peran anak- anak dan remaja tidak hanya dilatih kemampuan berekspresi tetapi juga membangun empati.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, para praktisi seni ini mendirikan Good Play Acting Space (GPAS) di Kota Batu. Tempat ini hadir di sebagai ruang belajar yang aman dan menyenangkan bagi anak dan remaja untuk bertumbuh melalui seni peran, cerita, budaya, dan film.
Melalui pelatihan seni peran, anak- anak juga dilatih dan belajar bekerja sama, menghargai perbedaan, serta memahami berbagai sudut pandang. “Dengan demikian anak- anak dan remaja akan bisa memahami diri sendiri, serta menghargai orang lain dan lingkungan sekitarnya,” ujar Yusak Santoso, salah satu pendiri GPAS, Selasa (16/6).
Diketahui, ada lima praktisi seni lintas bidang di Kota Batu yang menjadi pendiri GPAS. Mereka yaitu, Dece Dyah dari Sanggar Tari Tribhuwana, Yusak Santoso dari Sanggar Teater, Lingga G Permadi dari Filmmaker, dan Joel Tampeng dari Music Director.
Mereka meyakini bahwa seni peran bukan sekadar keterampilan untuk tampil di atas panggung atau di depan kamera. Lebih dari itu, seni peran merupakan sarana pembelajaran kehidupan yang membantu peserta mengenali emosi, meningkatkan kepercayaan diri, dan mengasah kemampuan komunikasi.
Dan dengan mengusung filosofi ‘Ruang Bermain, Berekspresi, Bertumbuh’, GPAS menempatkan aktivitas bermain sebagai bagian penting dalam proses belajar dan perkembangan anak. Adapun program yang ditawarkan mencakup aktivitas bermain peran, storytelling, public speaking, pengelolaan dan ekspresi emosi, kerja sama tim, dasar-dasar akting, filming activity hingga apresiasi budaya.
“Seluruh proses pembelajaran dirancang untuk menumbuhkan nilai-nilai penting yang relevan bagi generasi muda saat ini,yaitu generasi yang percaya diri, ekspresif, imaginatif, empatik, kolaboratif, dan berbudaya,” jelas Yusak
Melalui kegiatan bermain, bereksplorasi, dan berkarya, GPAS mendorong anak- anak dan remaja di Kota Batu untuk mengenali potensi dirinya. Hal ini sekaligus membangun keterampilan sosial dan karakter yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan berbasis di Kota Batu, GPAS dikembangkan melalui kolaborasi dengan ekosistem seni, budaya, dan film yang tumbuh di wilayah Kota Wisata ini. Dengan menyediakan program pembelajaran, pertunjukan, showcase, hingga produksi film pendek, anak- anak dan remaja akan dapat tumbuh lebih optimal dan memiliki ruang tumbuh yang sehat dan kreatif.
Namun demikian, program yang disediakan GPAS tidak berfokus pada pencetakan aktor semata pada hasil atau tujuan akhir. Namun juga pada pengembangan karakter dan potensi setiap individu.
“Kami tidak mengajarkan anak menjadi orang lain. Karena tujuan akhir seni peran bukan sekadar mencetak aktor,melainkan membantu seseorang memahami dirinya, memahami orang lain ,dan bertumbuh sebagai manusia,”tandas Yusak. [nas.wwn]


