30 C
Sidoarjo
Tuesday, June 16, 2026
spot_img

Persebaya (bukan) Sekadar Klub

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya

(HUT Persebaya ke-99, 18 Juni 2026)

Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya) adalah klub sepak bola profesional Indonesia yang berbasis di Kota Surabaya, Jawa Timur. Berdiri pada 18 Juni 1927, klub berjuluk Bajul Ijo ini merupakan salah satu tim paling legendaris, ikonik, dan sukses di kancah sepak bola nasional, serta memiliki pendukung fanatik yang dikenal sebagai Bonek dan Bonita. Harus diakui, sejarah panjang Persebaya memang salah satu klub yang disegani, militansi tinggi, kebanggaan (pride) arek suroboyo dan sederet prestasi di kancah sepakbola nasional, bahkan menjadi salah satu langganan Tim Nasional Indonesia. Memang terjadi pasang surut bahkan terjadinya dualisme klub yang berujung sanksi pada tahun 2010-2017. Masa turbulensi dan perpecahan hebat akibat dualisme klub dan sempat terlempar dari kompetisi resmi PSSI, hingga akhirnya bangkit dari Liga 2 dan kembali promosi ke Liga 1 pada 2017. Pengalaman pahit tersebut menjadi tonggak bagi Persebaya untuk bersama-sama, bahu-membahu berjuang mengembalikan harkat dan martabat Persebaya sebagai klub hebat, militansi tinggi dan disegani lawan.

Soal prestasi tek terbantahkan, Persebaya telah mengoleksi berbagai gelar juara di era Perserikatan maupun di era kompetisi modern Liga Indonesia. Di Era Perserikatan, telah menjuarai kompetisi sebanyak 6 kali (1941, 1950, 1951, 1952, 1978, dan 1988) dan di Era Liga Indonesia juga meraih gelar juara Divisi Utama/Liga Super pada tahun 1996/1997 dan 2004. Harus diakui bahwa Persebaya Surabaya adalah salah satu klub sepak bola paling marketable di Indonesia, didukung sejarah panjang sejak 1927, basis suporter Bonek yang sangat masif dan loyal, ekosistem bisnis modern serta daya tarik kuat bagi investor dan sponsor nasional maupun lokal. Setiap era, Persebaya seakan tak pernah putus melahirkan talenta-talenta berbakat. Mulai era Perserikatan 80-an ada Mustaqim, Yongki Kastanya, Muharom Rusdiana. Era 90-an Yusuf Ekodono, Aji Santoso, 2000-an ada Bejo Sugiantoro, Anang Ma’ruf, Uston Nawawi, Mat Halil hingga Andik Vermansyah, Evan Dimas, Marcelino Ferdinan dan Ernando Ari.

Berita Terkait :  Gerak Cepat Dinsos Jatim Melalui UPT Amankan Lansia Telantar

Marketable Value
Peran dan kekuatan suporter memang menjadi basis kekuatan tersendiri buat Persebaya. Selain menjadi pemain ke-12, suporter juga menjadi “nyawa” kedua sekaligus motor penggerak (engine) Persebaya. Militansi dan loyalitas bonek dan bonita tak pernah surut. Manakala prestasi tim naik dan berjaya suporter menjadi kebanggaan tersendiri melebihi segalanya namun ketika bermain jelek hingga prestasi jatuh maka suporter yang akan mengkritik bahkan menghujat habis-habisan agar mampu bangkit segera dari keterpurukan. Suporter seakan menginginkan Persebaya selalu memang. Kondisi tersebut menggambarkan hubungan psikologis yang kuat dalam membangun tim yang solid. Dari sisi bisnis, loyalitas bonek-bonita menciptakan demand tinggi untuk merchandise resmi, tiket pertandingan, dan daya pikat tinggi, termasuk rating siaran live misalnya. Faktor kesolidan manajemen juga menjadi daya jual termasuk menggaet sponsorship beberapa merek besar dan ternama secara konsisten menghiasi apparel dan atribut klub, memanfaatkan eksposur luas dari popularitas Green Force di pentas kompetisi. Majemen mengelola jaringan toko ritel resmi yang mapan dan merintis fasilitas penunjang seperti museum untuk memperkuat branding klub, termasuk merambah go public (melantai di bursa saham) sebagai langkah ekspansi industri sepak bola modern.

Pembinaan Berkelanjutan
Sistem pembinaan menjadi salah satu kunci sukses klub. Persebaya menjadi salah satu motor dan contoh keberhasilan mengorbitkan pemain muda dengan pembinaan secara berjenjang dan konsisten melalui kompetisi kelompok umur, kelompok akademi, dan future lab yang berfungsi menampung talenta terpilih untuk ditempa secara khusus agar siap menembus skuad utama professional. Dengan pembinaan yang kuat dan konsisten diharapkan mampu menelurkan bakat-bakat bintang Timnas Indonesia, menekan biaya transfer sekaligus menciptakan aset pemain yang bernilai jual tinggi. Strategi pembinaan setidaknya meliputi : integrasi kurikulum dengan mengacu pada pendidikan akademik tetap diutamakan berdampingan dengan jadwal latihan. Adanya standardisasi fasilitas yang menggunakan metodologi seperti Elite Player Performance Plan (EPP) di Inggris atau fasilitas legendaris Prancis seperti Clairefontaine yang menampung talenta usia 13-20 tahun, serta paparan kompetitif yang biasanya dalam bentuk uji coba reguler melawan akademi klub profesional untuk menarik pemandu bakat. Selamat ulang tahun ke-99, Green Force! Saatnya bangkit, buktikan taringmu musim ini, dan rebut kembali tahta juara kebanggaan arek-arek Suroboyo, semoga sukses selalu. Salam Satu Nyali, WANI…

Berita Terkait :  Mutasi 137 Pejabat Jawab Tantangan Semakin Kompleks

————- *** —————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!