32.6 C
Sidoarjo
Saturday, July 25, 2026
spot_img

Jatim Didorong Benahi Zonasi Industri, Konektivitas Wisata, hingga Pembiayaan Ekonomi Kreatif

Pemprov, Bhirawa – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim menegaskan bahwa pengembangan industri, ekonomi kreatif (ekraf), dan pariwisata di Jawa Timur harus ditempatkan dalam kerangka keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, tata ruang, dan keberlanjutan lingkungan.

Dalam kunjungan kerja reses di Surabaya, ia menyebut masih ada benturan antara kepentingan industri dan zonasi di sejumlah wilayah, sementara sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga membutuhkan dukungan infrastruktur yang lebih kuat.

Chusnunia mengatakan Komisi VII akan membawa sejumlah masukan ke Jakarta untuk dikoordinasikan dengan kementerian dan lembaga terkait, termasuk Badan Pertanahan Nasional. Salah satu isu utama adalah benturan antara kebutuhan industri dan zonasi wilayah yang masih terjadi di beberapa daerah di Jawa Timur.

“Kami mendukung arahan Presiden terkait hilirisasi dan upaya memajukan industri sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah,” ujarnya, usai kegiatan Kunjungan Kerja Reses Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 Komisi VII DPR RI yang diadakan di Ruang Rapat Binaloka Adhikara, Kantor Setdaprov Jatim, Jalan Pahlawan 110 Surabaya, Jumat (24/7/2026) malam.

Ia menegaskan bahwa pengembangan industri tidak bisa dilakukan dengan mengabaikan kepentingan lain, terutama lahan pertanian yang juga strategis bagi daerah.

Di sektor pariwisata, Komisi VII menyoroti pentingnya konektivitas antardaerah, khususnya untuk wilayah yang memiliki destinasi unggulan dan agenda besar seperti Jember Fashion Carnaval.

Berita Terkait :  Jatim Tetapkan Status Darurat PMK, Pj Gubernur Imbau Penanganan Dilakukan Cepat dan Holistik

Chusnunia menilai penerbangan langsung dari dan ke Jakarta, Bali, dan daerah lain perlu diperkuat agar penyelenggaraan event dan arus wisatawan lebih lancar.

“Sekarang kita berbicara mengenai quality tourism, bukan hanya quantity tourism,” katanya menambahkan

Ia juga menekankan perlunya hotel, penginapan, dan fasilitas pendukung lain agar wisatawan tinggal lebih lama dan belanja lebih besar di daerah tujuan.

Chusnunia menyebut rata-rata lama tinggal wisatawan di Jawa Timur masih sekitar 1,5 hari, dan hal itu perlu ditingkatkan menjadi setidaknya tiga hari.

Menurutnya, peningkatan durasi kunjungan akan berdampak langsung pada perputaran ekonomi daerah karena wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga membelanjakan uang lebih banyak selama menginap.

Ia memberi contoh pola kunjungan akhir pekan, dari Jumat hingga Minggu, sebagai skema yang lebih ideal untuk mendorong dampak ekonomi yang lebih besar.

Pendekatan ini sejalan dengan dorongan pemerintah daerah agar pariwisata Jatim tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga lebih produktif secara ekonomi.

Untuk ekonomi kreatif, Chusnunia menilai pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI bisa menjadi alat bantu positif bagi pemerintah maupun pelaku kreatif, asalkan digunakan secara bertanggung jawab.

“AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan menggantikan seluruh pekerjaan manusia,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kebutuhan fasilitas bagi pelaku seni dan musik yang selama ini terkendala sarana dan prasarana, serta mendorong pemerintah daerah hadir memberi ruang berekspresi dan berkarya.

Berita Terkait :  KORMI Sidoarjo Latih 100 Orang jadi Wasit Olah Raga Tradisional

Chusnunia menegaskan bahwa ekonomi kreatif memiliki tantangan berbeda dari UMKM biasa karena banyak bertumpu pada ide, kreativitas, dan karya yang bersifat tidak berwujud. Karena itu, akses pembiayaan perlu disesuaikan agar pelaku ekraf tidak terus tertinggal hanya karena tidak memiliki aset fisik sebagai jaminan.

“Jika kita berbicara tentang pengembangan talenta, pemerintah daerah harus hadir memberikan fasilitas,” katanya.

Ia menyambut adanya KUR khusus ekonomi kreatif tahun ini dan berharap plafonnya ditingkatkan serta mekanismenya dipermudah.

Komisi VII DPR RI juga menyoroti besarnya potensi Jawa Timur sebagai penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata nasional. Chusnunia menyebut kontribusi Jatim terhadap ekonomi kreatif nasional berada di kisaran 20–21 persen, sementara kontribusi sektor pariwisata hampir 28 persen.

Ia menilai destinasi seperti Bromo dan Kawah Ijen masih menyimpan banyak peluang pengembangan, selama tetap menjaga kelestarian alam dan keberlanjutan lingkungan.

“Intinya, bagaimana potensi yang ada dapat dieksplorasi lebih maksimal sehingga kontribusinya terus meningkat,” ujarnya. (aya.kt)

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!