Surabaya, Bhirawa – Tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembangkan inovasi Gema Imam (Gerakan Menjadi Audio untuk Imam) untuk membantu seorang tunawicara memimpin salat berjamaah dengan mengikuti audio dari laptop.
Inovasi memadukan teknologi Computer Vision, Internet of Things (IoT), dan Learning Management System (LMS) untuk membantu siswa penyandang disabilitas melaksanakan ibadah salat secara lebih mandiri.
Tim pengembang antara lain Nisrina Bilqis, Muhammad Fatihul Qolbi Ash Shiddiqi, Ahmad Syauqi Reza Muhammad Khosyi Syehab dari Departemen Teknologi Informasi ITS serta Ayudca Lutfi Ratnadilla dari Departemen Desain Produk ITS, yang dibawah bimbingan Annisaa Sri Indrawanti, S.Kom., M.Kom, Kamis (30/7).
Nisrina Bilqis menjelaskan ide muncul setelah tim menemukan persoalan nyata di SLB Paedagogia Surabaya, dimana sekolah tidak memiliki guru laki-laki sehingga salat berjamaah dipimpin seorang siswa tunawicara yang telah balig, dengan keterbatasan berbicara, siswa tersebut hanya mengikuti audio yang diputar dari laptop.
“Saat di SLB Paedagogia Surabaya tidak ada guru laki-laki, disana sekolah menunjuk seorang siswa tunawicara yang sudah baligh (dewasa) menjadi imam, karena ia sendiri tunawicara, akhirnya siswa harus mengikuti audio dari laptop saat salat, Dari pengamatan tersebut akhhinya kami merancang media penunjang supaya siswa dapat melaksanakan salat secara mandiri,” tuturnya.
Lanjut Nisrina menceritakan cara pemakaian perangkat Gema Imam, dimana ditempatkan depan imam, kamera pada alat mendeteksi setiap perubahan gerakan salat, seperti takbir, rukuk, iktidal, sujud, hingga duduk di antara dua sujud, dari gerakan tersebut langsung diproses menggunakan teknologi Computer Vision, terus otomatis mengeluarkan bacaan salat atau takbir melalui speaker sesuai gerakan yang dilakukan imam.
“Siswa tunawicara dapat memimpin salat berjamaah tanpa harus mengikuti audio statis yang diputar dari laptop, serta seluruh materi pendukung, mulai urutan gerakan, bacaan salat, hingga evaluasi pembelajaran tersedia pada platform LMS Gema Day yang bisa diakses guru dan siswa sebagai media belajar secara bertahap,” ujarnya.
Nisrina menyampaikan tantangan tim harus beberapa kali melakukan penyempurnaan supaya perangkat benar-benar sesuai dengan kebutuhan siswa penyandang disabilitas.
“Masih melalui trial and error, pernah suaranya kurang keras, akhinya posisi alat terlalu tinggi, padahal tinggi badan anak-anak sekitar 160 sentimeter, alatnya sesuaikan lagi hingga nyaman digunakan,” katanya.
Memastikan teknologi berjalan optimal, Nisrina mengatakan akan menetapkan sejumlah indikator keberhasilan, di antaranya akurasi deteksi gerakan minimal 95 persen, latensi respons maksimal 500 milidetik, kualitas audio yang terdengar hingga barisan belakang, sistem yang stabil tanpa gangguan selama salat berjamaah, dan meningkatnya kemandirian siswa tunawicara memimpin salat tanpa intervensi guru.
“Berharap menjadi asisten bagi guru dalam mengajarkan praktik salat kepada siswa penyandang disabilitas sehingga pembelajaran ibadah dapat berlangsung lebih efektif serta produk bisa dikembangkan oleh perusahaan bergerak bidang IoT, Artificial Intelligence, ataupun Computer Vision, sehingga bisa dimanfaatkan lebih banyak sekolah luar biasa di Indonesia,” imbuhnya. [ren.wwn]


