Bojonegoro, Bhirawa – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro terus memperkuat upaya pelestarian lingkungan sekaligus mengantisipasi dampak kekeringan pada musim kemarau. Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Pemkab menggelar Gerakan Suka Menanam di Lapangan Desa Pacing, Kecamatan Sukosewu, Kamis (30/7).
Kegiatan penghijauan tersebut dihadiri Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah bersama Kepala DLH Bojonegoro Luluk Alifah, Anggota Komisi D DPRD Bojonegoro Sukur Priyanto, unsur Forkopimcam Sukosewu, Pemerintah Desa Pacing, guru dan siswa SD, anggota Pramuka Saka Kalpataru, serta masyarakat. Sedikitnya 300 peserta terlibat dalam aksi penanaman pohon tersebut.
Wakil Bupati Nurul Azizah mengatakan, gerakan menanam pohon merupakan salah satu langkah strategis untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan ketersediaan sumber air di wilayah yang rawan kekeringan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, jumlah desa terdampak kekeringan telah menurun dari 92 desa menjadi 72 desa. Meski demikian, sebagian besar desa tersebut masih memiliki keterbatasan sumber mata air.
“Dari 72 desa tersebut, rata-rata sumber mata airnya minim atau tidak ada. Sumber mata air ini bisa dikelola dengan baik dan bertahan kalau tanaman kita banyak. Maka menanam pohon ini menjadi sangat penting,” ujar Nurul Azizah.
Ia menjelaskan, keberadaan pohon memiliki peran penting dalam menjaga cadangan air tanah, memperbaiki kualitas lingkungan, serta mengurangi risiko bencana akibat perubahan iklim. Karena itu, gerakan penghijauan perlu menjadi budaya yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Selain untuk mengurangi risiko kekeringan, penanaman pohon juga menjadi bagian dari upaya Pemkab Bojonegoro memenuhi target Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik sebesar 20 persen sesuai ketentuan Kementerian Lingkungan Hidup.
Penambahan kawasan hijau dinilai penting untuk meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
Menurut Nurul Azizah, keterlibatan pelajar dan anggota Pramuka dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter lingkungan sejak usia dini. Generasi muda diharapkan tidak hanya memahami pentingnya menanam pohon, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan di masa depan.
Pada kesempatan itu, Wakil Bupati juga mengajak Desa Pacing menjadi pelopor pelaksanaan program Satu Desa Satu Bank Sampah (SDSB) sebagai upaya mengurangi timbulan sampah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
“Ini dimulai hari ini sebagai gerakan cinta lingkungan yang dinamakan SDSB-Satu Desa Satu Bank Sampah, bukan Sumbangan Dana Sosial Berhadiah,” ujarnya disambut tawa peserta.
Ia berharap keberadaan bank sampah mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah, sehingga tidak lagi dianggap sebagai limbah semata, melainkan memiliki nilai manfaat apabila dikelola dengan baik.
Dalam kegiatan tersebut ditanam empat jenis pohon, yakni pule, trembesi, ketepeng, dan mahoni. Jenis-jenis pohon tersebut dipilih karena memiliki fungsi sebagai tanaman peneduh, penyerap karbon, serta mampu membantu konservasi air dan tanah.
Melalui Gerakan Suka Menanam, Pemkab Bojonegoro berharap upaya penghijauan dapat terus berlanjut di berbagai wilayah, sehingga mampu memperkuat ketahanan lingkungan, mengurangi dampak kekeringan, memperluas ruang terbuka hijau, serta menciptakan Bojonegoro yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan. [bas.gat]


