27.2 C
Sidoarjo
Thursday, July 30, 2026
spot_img

Kukuh Cegah LGBTQ

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025 Tentang Kebijakan umum Pertahanan Negara 2025-2029. Di dalamnya terdapat klausu bertajuk “ancaman negara non-militer.” Yakni larangan penyebaran perilaku lesbian, gay, biseksual, Transgender dan Queer (LGBTQ). Setara dengan terorisme, separatisme, dan penyalahgunaan obat terlarang.

Perilaku ketertarikan seks menyimpang sesama gender, merupakan penyakit menular psikologis. LGBTQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Trans-gender, Queer) semakin marak karena terbentuknya “komunitas.” Tetapi sebenarnya masih bisa diobati melalui tindakan kesehatan, dan terapi psikologis. Serta menghindari “komunitas” untuk mencegah penularan. Juga yang utama kembali (taat) kepada ajaran agama. Yakni, setiap manusia (dan hewan) diciptakan berpasangan (laki dan perempuan) untuk ketenteraman.

Sehingga sesama jenis (gay dan lesbian) akan menimbulkan perlawanan psikologis secara internal. Tidak akan menumbuhkan ketenteraman. Bahkan pada zaman kesehatan moderen, perilaku seks LGBTQ menjadi ajang penularan penyakit seksual. Ada penyakit seksual (selalu menular) yang ringan bisa diobati. Ada pula yang tidak bisa diobati, tidak bisa benar-benar sembuh. Seperti kejangkitan HIV (Human Immunodeficiency Virus). Sehingga harus menjalani pengobatan seujur hidup, dengan obat anti-retro-viral (ARV).

HIV merupakan virus mematikan, yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Ditularkan melalui hubungan seks. Penularan terutama melalui hubungan seks sesama jenis. Termasuk penggunaan jarum suntik dari pasangan seks sesama jenis. Secara spesifik, HIV menginfeksi dan menghancurkan sel CD4 (sel darah putih, limfosit, kekebalan tubuh). Jika sel CD4 menurun, maka kekebalan tubuh menurun. HIV yang dibiarkan (tidak disadari) akan menular cepat.

Berita Terkait :  Tiga Kecamatan di Tulungagung Rawan Politik Uang di Pilkada

HIV sekaligus berubah menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), ujung pembiakan yang menghabiskan kekebalan tubuh. Tidak sanggup melawan infeksi ringan. Berujung mengancam jiwa setiap saat. Sering terjadi, pasangan juga tertular. Bahkan sering terjadi, ibu hamil menularkan HIV kepada janin. Serta ibu menyusui menularkan HIV pada bayinya. Penularan HIV dan AIDS bagai rantai epidemiologi, melalui seks, dan kontak darah.

Berdasar data Kementerian Kesehatan, dan WHO (World Health Organization), dan penelitian, perilaku seks model LGBTQ, menjadi ajang peningkatan penularan HIV dan AIDS, berlaku di seluruh dunia. Risiko yang sama juga terhadap perilaku seks dengan berganti-ganti pasangan (tidak setia pada satu pasangan). Sehingga sering terjadi, ibu-ibu yang baik-baik, tiba-tiba tertular HIV. Juga tertular penyakit kelamin.

Di seantero Indonesia, diperkirakan terdapat 1,96 juta orang dengan HIV (ODHIV). Ironisnya, hanya sekitar 564 ribu kasus yang teridentifikasi secara resmi. Artinya, terdapat hampir 300% kasus HIV yang tidak dilaporkan. Terutama jangkitan baru yang tidak disadari, pada kalangan LGBTQ. Juga penggunaan bersama jarum narkoba sembarangan.

Kalangan profesional muda, konon, juga sedang tren melakukan LGBT. Bahkan Polrestabes Surabaya meng-gerebek hotel yang dijadikan pesta seks sejenis. Sebanyak 34 laki-laki diamankan (dijadikan tersangka). Juga penggerebekan di hotel bintang 4 di Jakarta. Realitanya, banyak tempat nongkrong kalangan LGBT, yang dikenal sebagai “LGBT friendly.”

Prostitusi tertutup, termasuk praktik LGBT, seperti yang digerebek Polrestabes Surabaya, akan menerapkan UU Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi. Ancaman hukuman pidananya bisa mencapai 15 tahun. Walau sesunguhnya perilaku LGBTQ sudah lama dikenal. Sejak dekade 1950 Sebelum Masehi, zaman Nabi Luth a.s., pada kaum Sodom (gay).

Berita Terkait :  Serahterima Kendaraan Operasional KDMP, Bupati Setyo Wahono Kemudikan Pick Up Mahindra

Di Indonesia, terdapat beberapa atraksi seni budaya yang seolah-olah dilakukan gay. Misalnya, peran perempuan dilakukan oleh laki-laki, pada teater tradisional Ludruk (Jawa Timur), dan Kethoprak (Jawa Tengah). Sebaliknya pada teater Wayang Orang, seringkali perempuan memainkan peran laki-laki, terutama tokoh Arjuna.

——— 000 ———

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!