27 C
Sidoarjo
Wednesday, September 9, 2026
spot_img

Hujan Mulai Turun, Dinhut Jatim Perkuat Kesiapsiagaan September

Dinhut Jatim, Bhirawa. – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan kewaspadaan terhadap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) masih harus diperkuat sepanjang September 2026. Meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah, kondisi ini belum menandai berakhirnya fase kritis karena vegetasi masih kering dan angin berpotensi menghidupkan kembali bara yang belum padam.

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Jawa Timur Jumadi mengatakan, berdasarkan pemantauan BMKG, sebagian besar wilayah Jawa Timur belum mengalami hujan pada 4-6 September 2026. Hujan mulai turun pada 6-7 September, terutama di wilayah Jatim bagian selatan dan timur.

”Namun hujan lokal tidak boleh diartikan bahwa fase kritis telah berakhir,” kata Jumadi dalam pembaruan penanganan karhutla per 8 September 2026, Rabu (9/9).

Menurut Jumadi, penanganan karhutla hingga kini terus dilakukan secara terpadu di sejumlah kawasan, di antaranya Semeru, Arjuno-Welirang, Wilis, Ijen-Ungup-Ungup, dan Baluran.

Tim gabungan melakukan pemadaman darat, pembuatan sekat bakar, pembasahan dan pendinginan, pemantauan udara, serta penutupan sementara kawasan jika kondisi kebakaran membahayakan keselamatan petugas dan masyarakat.

Penguatan penanganan juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digelar Kementerian Kehutanan bersama BMKG, TNI Angkatan Udara, Manggala Agni, Rekayasa Atmosfer Indonesia, BNPB/BPBD, dan unsur terkait pada 3-9 September 2026.

OMC yang berbasis di Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang itu, menggunakan pesawat CASA A-2104 untuk mendukung penanganan karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Gunung Arjuno, serta wilayah rawan lainnya.

Berita Terkait :  Polda Jatim Tembak Mati Pelaku Spesialis Pembobol Toko Antar Kabupaten/Kota

Lebih lanjut, Jumadi menuturkan jika OMC hanya menjadi bagian penguatan operasi dan bukan pengganti penanganan di lapangan. OMC adalah penguat, bukan pengganti operasi darat. Api tetap harus ditangani melalui patroli, serangan awal, sekat bakar, pembasahan, pendinginan, dan pengawasan sampai benar-benar aman.

Meski mulai dapat tertangani, Jumadi menyebut evaluasi sementara terjadinya karhutla masih menunjukkan pengaruhi pertemuan tiga faktor, yakni vegetasi yang sangat kering, angin yang mempercepat penjalaran api, dan sumber penyalaan.

Namun, pemerintah tidak akan menyimpulkan penyebab kebakaran tanpa bukti. Saat ini pemeriksaan masih dilakukan melalui kondisi lapangan, pola penjalaran api, keterangan saksi, hingga alat bukti.

”Cuaca mengeringkan, tetapi aktivitas manusia dapat menyalakan,” tambah dia.

Disebutkan Jumadi, untuk rangkaian kejadian terbaru, data sementara BNPB per 4 September 2026 mencatat kebakaran di Semeru sekitar 1.888,91 hektare, Gunung Wilis sekitar 16 hektare, Ungup-Ungup sekitar 20 hektare, dan Arjuno-Welirang 642,11 hektare.

Sementara itu, data SiPongi dan hasil penghitungan luas karhutla Kementerian Kehutanan mencatat indikasi karhutla di Jawa Timur periode Januari-Juli 2026 mencapai 10.835,26 hektare. Namun, angka ini tidak dapat langsung dijumlahkan dengan data kejadian terbaru karena berbeda periode dan metode penghitungan serta berpotensi terjadi tumpang tindih. [ina.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!