27.9 C
Sidoarjo
Monday, November 2, 2026
spot_img

Harga Pangan dan Transportasi Dongkrak Inflasi Jatim 3,09 Persen, Madiun Tertinggi


Pemprov, Bhirawa – Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan transportasi menjadi penyumbang utama inflasi Jawa Timur pada Oktober 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) mencapai 3,09 persen, lebih tinggi dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 2,69 persen.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Jatim yang dirilis Senin (2/11), Indeks Harga Konsumen (IHK) Jawa Timur pada Oktober 2026 mencapai 112,61. Sementara secara bulanan (month to month/m-to-m), inflasi tercatat sebesar 0,07 persen dan secara tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 2,14 persen.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 1,30 persen. Kelompok ini mengalami kenaikan harga sebesar 4,70 persen dibandingkan Oktober tahun sebelumnya,” kata Plt BPS Jatim Herum Fajarwati saat menyampaikan rilis, kantor BPS Jatim.

Sejumlah komoditas pangan yang dominan mendorong inflasi di antaranya cabai rawit dengan andil 0,26 persen, daging sapi dan beras masing-masing 0,14 persen, serta minyak goreng sebesar 0,12 persen. Selain itu, daging ayam ras, tomat, tahu mentah, air kemasan, dan beberapa komoditas lainnya juga turut memberikan tekanan terhadap harga.

Selain pangan, kelompok transportasi juga memberikan kontribusi cukup besar terhadap inflasi tahunan dengan andil 0,62 persen. Kelompok ini mengalami inflasi 4,99 persen, terutama dipengaruhi kenaikan harga bensin sebesar 0,24 persen dan angkutan udara sebesar 0,22 persen.

Berita Terkait :  Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026, BPBD Jatim Gelar Simulasi Tsunami di Lumajang dan Trenggalek

Tekanan harga juga terlihat pada kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran yang mengalami inflasi 2,77 persen dengan andil 0,30 persen. Komoditas nasi dengan lauk menjadi penyumbang terbesar dalam kelompok tersebut dengan andil 0,07 persen, disusul bakso siap santap sebesar 0,03 persen.

Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 3,29 persen dengan andil 0,24 persen. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi salah satu pemicunya dengan kontribusi sebesar 0,12 persen terhadap inflasi tahunan.

Dari 11 kabupaten/kota yang menjadi wilayah penghitungan IHK di Jawa Timur, seluruhnya mengalami inflasi tahunan. Kota Madiun mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,50 persen, disusul Kota Surabaya sebesar 3,33 persen dan Sumenep sebesar 3,32 persen.

Adapun inflasi terendah terjadi di Banyuwangi sebesar 2,52 persen, disusul Kota Probolinggo sebesar 2,62 persen dan Kabupaten Tulungagung sebesar 2,63 persen. Angka tersebut menunjukkan kenaikan harga terjadi di seluruh wilayah pemantauan BPS Jatim, meskipun dengan tingkat yang berbeda.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama dalam dua tahun terakhir, inflasi tahunan Jawa Timur pada Oktober 2026 juga menunjukkan tren meningkat. Pada Oktober 2024 inflasi tercatat 1,66 persen, kemudian naik menjadi 2,69 persen pada Oktober 2025, dan kembali meningkat menjadi 3,09 persen pada Oktober 2026. [rac.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!