Melalui media ini, izinkan saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya serta dukungan penuh terhadap gerakan mahasiswa yang hingga hari ini masih konsisten menyuarakan keresahan publik. Di tengah dinamika sosial-politik yang kian kompleks, kehadiran mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat adalah sebuah keniscayaan sejarah yang tidak boleh padam.
Sejarah bangsa Indonesia telah mencatat dengan tinta emas bahwa setiap perubahan besar selalu dimotori oleh kaum muda berjaket almamater. Mereka adalah benteng pertahanan terakhir ketika saluran aspirasi formal formalitas tersumbat, dan ketika suara rakyat kecil kerap terabaikan oleh kebijakan publik yang kurang berpihak. Saat ini, ketika tantangan bangsa semakin berat-mulai dari isu kesenjangan ekonomi, reformasi hukum, hingga kelestarian lingkungan-keberanian mahasiswa untuk turun ke jalan maupun berdialektika di ruang digital adalah angin segar bagi demokrasi kita.
Saya sangat menyayangkan adanya narasi yang mencoba mendiskreditkan gerakan mahasiswa dengan cap “ditunggangi kepentingan politik” atau sekadar “pembuat keonangan”. Narasi destruktif seperti ini justru memperlemah kontrol sosial yang sangat dibutuhkan oleh pemerintah. Mengkritik tidak sama dengan membenci; justru kritik adalah wujud cinta yang paling murni terhadap negara ini, agar para pemangku kebijakan tidak terbuai dalam kenyamanan kekuasaan.
Mahasiswa memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh aktor politik praktis, yaitu idealisme yang belum terpolusi oleh kepentingan pragmatis. Ketika mereka menyuarakan keresahan tentang mahalnya biaya pendidikan, sulitnya akses lapangan kerja, atau penegakan hukum yang tajam ke bawah, itu adalah murni suara hati masyarakat. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita sebagai warga masyarakat memberikan dukungan moral, bukan malah mencibir atau bersikap apatis.
Demokrasi yang sehatmembutuhkan oposisi yang kuat, dan mahasiswa adalah bagian dari ekosistem pengawas tersebut. Kita harus merawat nalar kritis ini agar tidak mati. Kepada para mahasiswa di seluruh penjuru tanah air, tetaplah menjadi kompas moral bangsa.
Aminudian
Warga Kertajaya, Surabaya


