Kota Madiun, Bhirawa. – Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur memperkuat peran Forum Bursa Kerja Khusus (FBKK) untuk memperluas jejaring kemitraan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Langkah ini dilakukan guna membuka akses dan memperbesar peluang kerja bagi lulusan SMA dan SMK di Jawa Timur.
Upaya ini ditandai dengan pengukuhan Pengurus Forum Bursa Kerja Khusus (FBKK) Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 oleh Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai. Kegiatan yang diikuti 300 peserta tersebut menjadi momentum penguatan koordinasi antarpengelola Bursa Kerja Khusus (BKK) sekaligus memperluas kolaborasi dengan berbagai mitra industri.
Aries mengatakan, FBKK harus mampu menjadi jembatan antara satuan pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja. Sebab, lulusan yang telah memiliki kompetensi perlu didukung akses informasi dan kesempatan kerja agar dapat terserap di dunia industri.
”Harapan kami, melalui kepengurusan FBKK yang baru ini, semakin banyak jejaring kerja yang dapat dibangun, semakin luas kemitraan yang bisa dijalin, dan semakin terbuka peluang kerja bagi murid-murid kita. Jangan sampai murid sudah lulus, memiliki kompetensi, tetapi tidak mendapatkan informasi maupun akses untuk memasuki dunia kerja,” ujar Aries, Sabtu (31/10).
Menurut Aries, perkembangan dunia usaha dan dunia industri berlangsung dinamis seiring perubahan teknologi dan kebutuhan tenaga kerja. Kondisi tersebut menuntut satuan pendidikan untuk terus menyesuaikan kompetensi lulusan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Karena itu, hubungan antara sekolah dan industri harus dibangun secara intensif dan berkelanjutan.
Aries meminta pengurus FBKK aktif menjalin komunikasi dengan perusahaan, asosiasi industri, lembaga pelatihan, serta berbagai mitra strategis lainnya. Jejaring tersebut diharapkan tidak hanya memperluas hubungan antarlembaga, tetapi juga menghasilkan peluang konkret bagi lulusan.
”Semakin banyak jejaring yang dibangun akan semakin besar pula peluang yang dapat diakses oleh murid. Namun, kemitraan tersebut harus menghasilkan tindak lanjut yang konkret, bukan sekadar penandatanganan kerja sama atau hubungan formal antarlembaga,” tegasnya.
Aries menjelaskan, manfaat kemitraan harus benar-benar dirasakan murid, mulai dari akses informasi lowongan pekerjaan, rekrutmen tenaga kerja, program pemagangan, pelatihan berbasis kebutuhan industri, hingga penempatan kerja.
Untuk mendukung hal tersebut, pengelola BKK juga perlu memiliki pemetaan mitra industri yang jelas dan memperbarui informasi kebutuhan tenaga kerja. Sekolah diharapkan tidak hanya menunggu informasi lowongan pekerjaan, tetapi proaktif mencari dan membuka peluang bagi para lulusannya.
Selain memperluas kemitraan, FBKK juga didorong mengembangkan sistem koordinasi dan pertukaran informasi antarsekolah. Pengalaman sekolah yang telah berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan tertentu dapat dibagikan dan dikembangkan oleh sekolah lainnya.
Sehingga akses informasi dan kesempatan kerja diharapkan lebih merata serta tak hanya terkonsentrasi pada sekolah atau wilayah tertentu. Jejaring kemitraan juga perlu menjangkau beragam sektor, seperti teknologi, manufaktur, otomotif, perhotelan, pariwisata, jasa, hingga sektor ekonomi lainnya.
Aries menambahkan, informasi dari dunia kerja juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi sekolah dalam mengembangkan pembelajaran agar kompetensi yang diajarkan semakin relevan dengan kebutuhan perusahaan.
Aries mengingatkan, keberhasilan BKK tidak semata-mata diukur dari banyaknya lulusan yang memperoleh pekerjaan. Namun, juga dari kemampuan mereka untuk bertahan, berkembang, dan mendapatkan kepercayaan di lingkungan kerja.
Karena itu, lulusan perlu dibekali lima kemampuan penting, yakni mampu bekerja, dipercaya, bekerja sama, terus belajar, dan menjaga diri. Kemampuan teknis atau hard skills harus dilengkapi karakter profesional, seperti kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, komunikasi, serta kemampuan beradaptasi. [ina,dar.fen]


