Antrean panjang kendaraan pada kedua ujung pulau Jawa, selalu terjadi bagai mengular sangat panjang. Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi (Jawa Timur), dan Pelabuhan Merak di Kota Cilegon (Banten), dipenuhi mobil, khususnya truk besar logistik. Tak jarang harus menginap di Pelabuhan. Menyebabkan biaya operasional logistik naik. Tetapi volume perjalanan menurun. Sehingga perusahaan angkutan merugi. Begitu pula UMKM pedagang pasar merugi karena keterlambatan pasok. Harga komoditas melonjak.
Kedua Pelabuhan di ujung timur pulau Jawa, dan ujung barat, sudah biasa dipadati kendaraan yang akan menyeberang. Dari Ketapang menuju Bali. Serta dari Merak menuju pulau Sumatera. Kepadatan arus penyeberangan yang dilayani PT ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan) di Ketapang, dalam 30 hari (31 Agustus – 29 September) sekitar 342 ribu unit kendaraan. Didominasi truk angkutan logistik sebanyak 128 ribu unit, disusul sepedamotor sekitar 115 ribu unit, dan mobil pribadi sekitar 85 ribu unit.
Selama satu bulan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, pergerakan kendaraan diangkut oleh armada feri sebanyak 823 kapal aktif. Total perjalanan sebanyak hampir 10 ribu trip penyeberangan. Seluruhnya wajib memiliki tiket elektronik sesuai manifes muatan. Serta jumlah penumpang, termasuk mobil pribadi dan sepedamotor. Setiap penumpang wajib menggunakan identitas resmi, yang dicatat dalam manifes. Berdasar data PT ASDP, pernah mencatat pergerakan sebanyak 5.745 kendaraan dalam satu hari.
Pemandangan lebih padat nampak pada Pelabuhan Merak, Cilegon, sudah memiliki tujuh dermaga Moveable Bridge (MB), yang bisa menampung kapal sampai bobot 15.000 GT. Tetapi tidak cukup. Karena pergerakan penyeberangan Merak – Bakauheni, hanya mampu meng-akomodir sampai 520 ribu kendaraan per-bulan (normal). Terdapat 100 trip penyeberangan per-hari (dan 115 trip pada akhir pekan), dengan mengerahkan 25 hingga 33 armada. Khusus akhir pekan bisa sampai 50 armada.
Sebenarnya area parkir Pelabuhan Penyeberangan Merak mampu memuat hampir 2.200 unit kendaraan campuran, dan 3.550 unit kendaraan kecil tanpa truk. Tetapi tidak cukup, selalu meluber ke luar tol Merak, di sepanjang jalan Cikuasa. Padahal saat ini, penyeberangan lintas Merak-Bakauheni dilayani oleh 69 armada kapal dengan ukuran yang bervariasi, mulai dari 2000 GT sampai dengan 15000 GT. Bahkan pada periode masa sibuk (Lebaran, libur sekolah, dan akhir pekan), di-khusus-kan hanya mengangkut pejalan kaki, kendaraan kecil (mobil pribadi), bus, dan trryuk kecil.
Sedangkan truk besar logistik besar golongan VIII dan IX, dialihkan ke Pelabuhan sekitar. Yakni di Ciwandan, dan Pelabuhan Bandar Bakau Jaya (BBJ) Bojonegara. Berdasar telaah Gapasdap (Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan), Pelabuhan Merak membutuhkan tambahan dermaga. Sekaligus perluasan dermaga untuk menambah daya tampung. Kekurangan areal dermaga memicu (penumpukan). Karena kapal harus mengantre lama untuk sandar dan bongkar muat.
Begitu pula perjalanan bus wisata ke Bali, bisa berakhir di Pelabuhan Ketapang. Karena bus harus antre panjang sampai 10 kilometer (hingga perbatasan dengan kabupaten Situbondo, di Wongsorejo). Sudah biasa sopir truk logistik mengantre, menginap beberapa hari di area Gili, Wongsorejo, menjelang Ketapang. Sudah banyak rumah disediakan sebagai homestay. Penyebab kemacetan panjang di jalan negara, adalah daya tampung tidak mencukupi.
Jumlah dermaga aktif, berupa moveable bridge hanya empat anjungan. Dibutuhkan dermaga tambahan, sekaligus perluasan daya tampung Pelabuhan. Namun konon, masalah penyeberangan kapal feri di kedua ujung pulau Jawa, bukan sekadar daya tampung Pelabuhan. Melainkan faktor alam (cuaca) menjadi faktor “hulu” yang wajib dimaklumi.
——— 000 ———


