Gresik, Bhirawa — Upaya menekan angka kematian ibu dan bayi (AKI-AKB) serta mempercepat penurunan stunting di Kabupaten Gresik tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan semata. Penguatan kolaborasi hingga ke tingkat desa kembali ditegaskan dalam Pertemuan Evaluasi Penurunan AKI-AKB dan Stunting yang berlangsung di Pendopo Kecamatan Cerme.
Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB ini mempertemukan unsur pemerintah daerah, TNI-Polri, tenaga kesehatan, PKK, pemerintah desa, KUA, hingga kader masyarakat. Forum ini menjadi ruang evaluasi sekaligus konsolidasi untuk memastikan program pencegahan benar-benar menyentuh keluarga yang menjadi sasaran.
Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Gresik Hj. Nurul Haromaini Ali Fandi Akhmad Yani, S.I.Kom., Ketua Pokja IV TP PKK Kabupaten Gresik dr. Hj. Puspitasari Asluchul Alif, M.Kes., Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik dr. Muhibatul Husna, M.Kes., Camat Cerme H. Umar Hasyim, S.H., M.M., serta Danramil 0817/08 Cerme Kapten Arh. M. Nurul Qomar. Turut hadir Aiptu Miftah yang mewakili Kapolsek Cerme, Kepala KUA Cerme Muthohari Lutfi, serta para Kepala UPT Puskesmas Cerme, Dadapkuning, dan Ujungpangkah, beserta para kepala desa dan kader PKK se-Kecamatan Cerme.
Materi utama disampaikan UPT Puskesmas Ujungpangkah yang menyoroti hasil evaluasi, strategi pencegahan, serta pentingnya kolaborasi dalam menurunkan AKI-AKB dan stunting. Perbaikan pola makan balita, pemenuhan gizi, pola asuh, hingga edukasi mengenai batas usia pernikahan menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan.
Danramil 0817/08 Cerme, Kapten Arh. M. Nurul Qomar, menegaskan bahwa jajaran TNI melalui Babinsa siap berada di garis depan membantu penguatan program pemerintah di tengah masyarakat.
“Penurunan AKI-AKB dan stunting membutuhkan kepedulian serta kerja sama semua pihak. Babinsa akan terus membantu pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat dalam memberikan edukasi serta mengawal program-program yang menyentuh langsung masyarakat,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan layanan kesehatan. Kondisi keluarga, pemenuhan gizi, pola asuh, kesehatan ibu sejak masa kehamilan, hingga lingkungan tempat anak tumbuh turut menentukan. Oleh karena itu, pencegahan harus dilakukan sedini mungkin dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Edukasi perlu diteruskan secara konsisten hingga ke tingkat keluarga, sementara koordinasi antarsektor harus menghasilkan langkah nyata di lapangan.
“Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, TNI-Polri, tenaga kesehatan, PKK, pemerintah desa, dan masyarakat, diharapkan angka AKI-AKB maupun stunting dapat terus ditekan. Yang paling penting adalah langkah pencegahan dilakukan sejak dini dan menyentuh keluarga secara langsung,” ujarnya.
Ditambahkan Kapten Arh. M. Nurul Qomar, keberhasilan penurunan AKI-AKB dan stunting sangat bergantung pada konsistensi kerja bersama. Hasil evaluasi harus berujung pada tindakan nyata, dan sinergi lintas sektor harus diterjemahkan menjadi pendampingan yang nyata bagi keluarga. Dengan penguatan peran pemerintah desa, kader, tenaga kesehatan, TNI-Polri, dan masyarakat, upaya membangun generasi Gresik yang sehat dan berkualitas diharapkan tidak hanya mengejar target angka, melainkan menghasilkan perubahan yang dirasakan langsung di tingkat keluarga. [kim.kt]



