Petugas mengevakuasi jenazah korban karhutla Bromo menuju RSUD Tongas, Kamis (15/10). Ayu Firdausiyah Ahmad.
Kab. Probolinggo, Bhirawa
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Pusung Lingker, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), berujung duka. Empat orang meninggal dunia setelah enam personel gabungan terjebak kobaran api dan asap pekat di wilayah Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Kamis (15/10).
Empat korban meninggal dunia tersebut adalah Sukaris dan Hendra Rony Wageanata, petugas TNBTS, serta Sefril dan Wisnu, karyawan Artotel yang direkrut sebagai relawan pemadaman kebakaran. Dua korban lainnya, Munawi dari Masyarakat Mitra Polhut (MMP) TLP dan Suraji, karyawan Artotel, mengalami luka bakar serius.
Peristiwa bermula ketika titik api terpantau sekitar pukul 09.00 WIB di lereng Pusung Lingker, Grid A 83 TNBTS. Personel gabungan dari TNBTS dan karyawan Artotel bergerak menuju lokasi sekitar pukul 10.20 WIB untuk melakukan pemadaman.
Namun, sekitar pukul 13.30 WIB, kobaran api membesar akibat angin kencang. Kondisi tersebut membuat sejumlah petugas terjebak di tengah kebakaran. Beberapa di antaranya dilaporkan meminta pertolongan karena kesulitan keluar dari area yang dipenuhi api dan asap.
Petugas yang berupaya menembus kobaran api akhirnya menemukan enam korban sekitar pukul 14.29 WIB. Tiga orang meninggal dunia di lokasi, sedangkan tiga lainnya mengalami luka bakar dan segera dievakuasi untuk mendapatkan perawatan.
Ketiga korban yang meninggal di lokasi selanjutnya dievakuasi melalui kawasan Bukit Mentigen, Desa Ngadisari, menuju RSUD Tongas. Sementara itu, Hendra Rony Wageanata yang sebelumnya mengalami luka bakar juga meninggal dunia saat menjalani perawatan di rumah sakit.
Bupati Probolinggo Mohammad Haris, M.Kes., yang akrab disapa Gus Haris, menyampaikan belasungkawa mendalam atas kejadian tersebut. Dalam keterangannya di depan kamar jenazah RSUD Tongas, Kamis malam sekitar pukul 21.00 WIB, ia menyebut para korban sebagai petugas dan relawan yang menjalankan tugas atas nama negara.
Gus Haris juga meminta perangkat daerah terkait memberikan perhatian kepada keluarga korban serta memastikan penanganan medis bagi korban luka dilakukan sesuai kebutuhan.
Dandim 0820/Probolinggo Letkol Inf. Ribut Yudo Apriyantono mengimbau masyarakat dan wisatawan agar berhati-hati ketika berada di kawasan hutan, khususnya terkait penggunaan api. Ia mengingatkan bahwa api sekecil apa pun dapat memicu kebakaran besar ketika tertiup angin kencang.
Sementara itu, penyebab pasti kebakaran masih diselidiki aparat. Tim Inafis Polres Probolinggo telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), sedangkan luas lahan terdampak masih didata pihak TNBTS.
Pada Jumat (16/10) pagi, kawasan Metigen ke arah timur dilaporkan tidak lagi terpantau asap. Namun, titik api masih dilaporkan berada di selatan Gunung Ringgit, sebelah barat Desa Ngadas–Wonokerto. Petugas masih perlu melakukan pemantauan dan penanganan lanjutan untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran. fir. wwn



