Kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) seperti ChatGPT dan generator teks lainnya kini telah mengubah total lanskap pendidikan kita. Sebagai bagian dari masyarakat yang peduli terhadap masa depan bangsa, saya merasa sangat prihatin dengan fenomena melesatnya ketergantungan pelajar dan mahasiswa terhadap AI, yang secara perlahan tapi pasti mulai mematikan keterampilan dasar mereka dalam menulis.
Teknologi ini memang menawarkan kepraktisan. Tugas esai yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari untuk riset dan kontemplasi, kini bisa diselesaikan dalam hitungan detik. Namun, kemudahan instan ini menyembunyikan ancaman yang sangat fatal bagi perkembangan kognitif generasi muda kita.
Menulis bukan sekadar aktivitas merangkai kata atau memindahkan teks ke atas kertas. Menulis adalah proses berpikir. Ketika seorang siswa menyusun argumen, mereka sedang belajar menstrukturkan logika, menguji validitas informasi, melatih konsentrasi, dan mengasah empati untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca. Menulis merupakan cerminan dari kedalaman intelektual dan kepribadian seseorang.
Ketika tugas-tugas menulis dialihdayakan secara penuh kepada AI, esensi dari proses belajar itu sendiri seketika runtuh. Kita kini menyaksikan sebuah ironi besar: generasi yang berpendidikan tinggi, namun mengalami kelumpuhan dalam menuangkan ide orisinal mereka sendiri. Banyak mahasiswa saat ini gagap ketika diminta menulis secara spontan di kelas tanpa bantuan gawai. Mereka kehilangan kosakata, kesulitan membangun kalimat yang koheren, dan yang paling berbahaya, kehilangan kemampuan berpikir kritis. AI tidak membuat mereka lebih pintar; AI justru memanjakan dan mendegradasi kapasitas mental mereka untuk memecahkan masalah secara mandiri.
Kita tidak bisa menutup mata atau melarang total penggunaan teknologi ini. Namun, membiarkan dunia pendidikan kita didominasi oleh teks-teks tanpa jiwa buatan mesin adalah sebuah kelalaian besar. Kita sedang mempertaruhkan lahirnya generasi “plagiat digital” yang miskin daya analisis dan kreativitas.
Melalui surat pembaca ini, saya ingin mengetuk kesadaran para pendidik, dosen, guru, dan orang tua. Dunia pendidikan harus segera beradaptasi dan mereformulasi metode pembelajaran.
Evaluasi pembelajaran tidak boleh lagi sekadar bertumpu pada tugas teks yang mudah dimanipulasi AI. Perbanyak ujian tulis langsung di kelas (close-book), ujian lisan, serta presentasi berbasis argumen kritis. Mari ajarkan kembali kepada anak-anak kita bahwa nilai tertinggi dari sebuah proses belajar terletak pada usaha, penalaran, dan perjalanan intelektual mereka sendiri-bukan pada hasil instan yang dihasilkan oleh algoritma. Jangan biarkan kemampuan menulis dan berpikir kritis anak bangsa punah ditelan kemudahan teknologi.
Rian Amanda
Pemerhati Pendidikan
Warga Balongsari Tama, Surabaya



