28.1 C
Sidoarjo
Thursday, October 15, 2026
spot_img

Berpikir Matematis, Mengapa Sulit Dilakukan?

Oleh :
Hayatun Nufus
Mahasiswa S2 Pedagogi UMM, Guru SMP Muhammadiyah 13

Angka sering kali membuat kita tidak nyaman ketika ia mulai berbicara tentang kualitas pendidikan. Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 kembali menghadirkan satu fakta yang patut direnungkan yaitu matematika masih menjadi tantangan besar bagi murid. Dari hasil tersebut jenjang SMP/MTs sederajat, rata-rata nasional TKA Matematika berada di angka 40,34, sementara Bahasa Indonesia mencapai 60,83. Sedangkan pada jenjang SD/MI sederajat, rata-rata Matematika bahkan berada di angka 43,41, sedangkan Bahasa Indonesia 60,14.

Angka tersebut tentu tidak boleh dibaca sebagai vonis bahwa anak-anak Indonesia tidak mampu matematika. TKA sendiri dirancang untuk memberikan gambaran capaian akademik dan menjadi salah satu sumber refleksi untuk memperbaiki pembelajaran. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menegaskan bahwa hasil TKA bukan sekadar angka, tetapi dapat digunakan untuk melihat kemampuan yang sudah dikuasai dan bagian yang masih perlu diperkuat.

Namun pada kenyataannya, angka 40,34 layak menjadi bahan pertanyaan.Mengapa matematika masih begitu sulit bagi murid untuk menjadi sebuah cara berpikir?

Selama bertahun-tahun, matematika sering hadir di kelas sebagai kumpulan rumus, prosedur, dan langkah pengerjaan. Murid belajar bahwa luas lingkaran adalah ?r², persamaan harus diselesaikan dengan operasi tertentu, dan soal akan selesai ketika jawaban terakhir ditemukan.Masalahnya, kehidupan tidak selalu memberikan soal dengan petunjuk: “Gunakan rumus ini.”

Berita Terkait :  Wabup Bojonegoro Lepas Bantuan Kemanusiaan Korban Bencana Sumatera dan Aceh

Dalam kehidupan nyata, seseorang justru harus menentukan terlebih dahulu apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, informasi mana yang penting, strategi apa yang masuk akal, kemudian memeriksa apakah jawaban itu benar. Di situlah matematika seharusnya berubah dari sekadar pelajaran menghitung menjadi latihan berpikir.

Menariknya, kerangka TKA Matematika SMP memang tidak berhenti pada kemampuan menghitung. Asesmen tersebut mencakup kemampuan memahami, mengaplikasikan, dan melakukan penalaran lebih tinggi. Di dalam latihan soalnya dapat menggunakan konteks kehidupan sehari-hari dan menuntut murid untuk memodelkan, menginterpretasikan, menganalisis, memecahkan masalah, mengevaluasi, hingga memberikan justifikasi matematis.Artinya, tantangannya bukan semata-mata apakah anak bisa menghitung. Namun, pertanyaan tersebut harus diubah dnegan apakah anak memahami dan mengapa ia harus menghitung dengan cara tertentu.

Di sinilah pembelajaran matematika perlu melakukan perubahan kecil tetapi mendasar.Guru tidak selalu harus menambah jumlah soal. Justru, satu soal yang dibahas secara mendalam kadang lebih bermakna daripada sepuluh soal yang hanya mengejar kecepatan.Misalnya, setelah murid memperoleh jawaban, guru dapat bertanya, “Mengapa kamu memilih cara itu?”, “Apakah ada cara lain?”, atau “Bagaimana kamu tahu jawabanmu masuk akal?”. Pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah murid dari sekadar mengerjakan menuju memikirkan proses berpikirnya atau lebih dikenal dengan seutan berpikir kritis.

Kebiasaan kedua adalah menghadirkan matematika dalam situasi yang dekat dengan kehidupan. Murid dapat diajak membaca grafik penggunaan listrik, menghitung perubahan harga, membandingkan dua paket pembelian, memperkirakan kebutuhan bahan, menganalisis data kelas, atau menghitung luas dan volume benda di lingkungan sekolah. Sehingga, murid belajar bahwa angka bukan sekadar simbol di papan tulis. Angka adalah alat untuk memahami keadaan dan mengambil keputusan.

Berita Terkait :  Layani Jamaah Mujahadah Kubro, Perumda Tugu Tirta Kota Malang Pastikan Pasokan Air Wudhu Melimpah

Kebiasaan ketiga adalah memberikan ruang bagi kesalahan.Dalam pembelajaran matematika, jawaban salah sering kali langsung diberi tanda silang. Padahal, kesalahan murid sebenarnya merupakan jendela untuk melihat cara berpikirnya. Guru dapat meminta murid untuk menjelaskan pada langkah mana mereka mulai ragu atau mengapa mereka memilih suatu strategi.Dari sana, pembelajaran menjadi lebih bermakna: bukan sekadar “jawabanmu salah”, melainkan “mari kita lihat bagaimana cara berpikirmu sampai mendapatkan jawaban itu.”

Kebiasaan keempat adalah membiasakan murid membaca sebelum menghitung. Banyak persoalan matematika tidak sulit karena operasinya, tetapi karena murid belum mampu memilah informasi dalam soal. Mana data yang diperlukan? Mana yang tidak? Apa hubungan antarangka? Apa sebenarnya yang ditanyakan?

Kemampuan seperti inilah yang membuat matematika berhubungan erat dengan kemampuan bernalar.Tentu, hasil TKA juga perlu dibaca secara hati-hati. Rata-rata nasional merupakan gabungan capaian peserta dalam jumlah sangat besar dan tidak menggambarkan kemampuan setiap anak secara individual. Bahkan di Jawa Timur, misalnya, rata-rata TKA Matematika SMP 2026 tercatat 41,45, tetapi Dinas Pendidikan Jawa Timur menekankan bahwa capaian antardaerah belum merata.Karena itu, persoalannya bukan mencari siapa yang harus disalahkan antara murid, guru, orang tua, atau sekolah melainkan dapat menjadikan data tersebut sebagai cermin untuk melihat pembelajaran.

TKA seharusnya tidak membuat sekolah hanya sibuk memperbanyak try out. Jika latihan TKA hanya menghasilkan siswa yang semakin hafal pola soal, tetapi belum mampu menjelaskan alasan di balik jawabannya, kita mungkin sedang mempersiapkan anak menghadapi tes, bukan mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan.

Berita Terkait :  Hapus Utang Wong Cilik

Matematika semestinya menjadi ruang untuk belajar bertanya, mencoba, gagal, memperbaiki strategi, membaca data, menemukan pola, memberikan alasan, dan mengambil keputusan.Pada akhirnya, persoalan kita bukan sekadar “mengapa nilai matematika rendah?”, ada Pertanyaan yang lebih penting yaitu “Mengapa setelah bertahun-tahun belajar matematika, masih banyak anak yang belum terbiasa menggunakan matematika untuk berpikir?”Mungkin jawabannya tidak terletak pada kurangnya rumus yang dikuasai. Bisa jadi, kita justru perlu memberi anak lebih banyak kesempatan untuk bernalar, menjelaskan, mempertanyakan, dan memecahkan masalah.Sebab matematika yang sesungguhnya tidak berhenti ketika murid menuliskan jawaban di lembar ujian.

Matematika baru benar-benar hidup ketika seorang anak mampu melihat masalah, membaca informasi, berpikir jernih, memilih strategi, mempertanggungjawabkan jawabannya, dan menyadari ketika jawabannya tidak masuk akal.

Jika TKA adalah cermin, jangan sibuk memoles cerminnya. Mari perbaiki apa yang tercermin di dalamnya.

————- *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!