Pemprov Jatim, Bhirawa – Dalam upaya mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kapasitas usaha mikro, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur kedepan bakal membuka kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Langkah ini disampaikan oleh Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur, Endy Alim Abdi Nusa, pada acara Youth Creativepreneur Center (YC2) yang digelar di Ruang Rapat Aria Wiriaatmadja, yang ada di Gedung Dinas Koperasi dan UKM, Kamis (13/8/2026).
Program YC2 menargetkan kelompok muda, baik mahasiswa yang akan lulus maupun lulusan baru, sebagai sumber daya potensial untuk menjadi pelaku wirausaha. Menurut Endy, program ini dirancang untuk membimbing pelaku usaha mikro agar dapat naik kelas menjadi usaha kecil, menengah, dan akhirnya membuka peluang tenaga kerja baru di tingkat regional.
“Kami atas arahan Ibu Gubernur, YC2 atau Youth Creative Planner ini adalah sebuah program yang bertujuan untuk membangun SDM, khususnya anak-anak muda untuk bisa menjadi kekuatan pengusaha atau wira usaha,” kata Endy.
“Harapan kami dengan naik kelasnya para pelaku-pelaku besar itu juga menambah, satu adalah pasti konsep, yang kedua adalah bagaimana mereka juga membuka lapangan pekerjaan, yang ketiga, secara regional Jawa Timur akan terangkat juga dengan naik kelasnya UKM-UKM ini,” sambung Endy.
Strategi pendampingan yang ditawarkan Dinas mencakup asesmen kompetensi pelaku usaha, mulai dari niat berbisnis dan kualitas produk hingga kebutuhan perizinan dan kelembagaan. Endy menjelaskan bahwa hasil asesmen akan menentukan jenis bantuan, seperti fasilitasi Nomor Induk Berusaha (NIB), izin edar, atau pendaftaran merek.
Selain itu, produk peserta akan melalui uji pasar (market sounding) untuk mengukur daya terima konsumen sebelum mendapat rekomendasi lanjutan.
Untuk memperluas akses pasar dan modal, Dinas Koperasi dan UKM Jatim bakal mengajak BUMD dan BUMN berperan sebagai mitra strategis. Endy menyebutkan keterlibatan BUMD tidak hanya sebagai sumber pembiayaan atau pasar, tetapi juga sebagai mitra bisnis yang dapat membuka jaringan distribusi dan peluang kemitraan usaha.
“Kita juga akan kenalkan ke mereka. Bisa jadi teman-teman ini bisa bermitra dengan para pelaku usaha dari BUMD juga, dari pihak swasta juga,” ujar Endy, menjelaskan peluang kemitraan yang disiapkan bagi peserta YC2.
Batch pertama program ini melibatkan 25 peserta dan menghadirkan narasumber dari berbagai pihak, akademisi, asosiasi bisnis, pengusaha, hingga perwakilan kementerian dan dinas terkait.
Endy menyebutkan nama-nama institusi yang terlibat, termasuk Universitas Ciputra, Kementerian UMKM, serta unsur pemerintahan daerah yang membentuk ekosistem pendukung.
“Kita kan ada teman-teman dari kampus, ada teman-teman dari KADIN, dari pengusaha, ada dari pemerintahan juga, ada dari Kementerian UMKM ada Dinas Koperasi. Nah kebetulan hari ini datang. Nah kedepan, Kita juga akan mengundang BUMD dan BUMN untuk kolaborasi juga,” kata Endy.
Dinas Koperasi dan UKM Jatim berharap kolaborasi lintas sektor ini membantu UKM Jawa Timur bersaing dan menembus pasar di luar provinsi. Dengan jumlah UKM non-pertanian dan perikanan yang diperkirakan mencapai 4,6 juta, fokus pada peningkatan mutu dan kelembagaan dianggap krusial agar usaha skala mikro tidak terjebak pada stagnasi.
“UKM ini jumlahnya banyak. Terus, pasti dengan jumlahnya banyak itu bagaimana mereka berkompetisi, bagaimana mereka bisa survive dalam itu. Tentunya perlu bimbingan,” ujar Endy, menegaskan.
Praktik kolaborasi yang diusung YC2 memungkinkan peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga akses konkret, mulai dari legalisasi produk hingga uji pasar dan potensi kemitraan dengan BUMD atau BUMN. Jika berhasil, model pendampingan ini diharapkan menjadi jalan bagi UKM untuk naik kelas, membuka lapangan kerja, dan mengangkat ekonomi regional Jawa Timur.[aya.kt]


