33 C
Sidoarjo
Thursday, October 8, 2026
spot_img

Biro Perekonomian Setdaprov Jatim Sebut EJSC Malang Jadi Wadah Kolaborasi Talenta Digital dan Ekonomi Kreatif

Surabaya Bhirawa – Di lantai kerja East Java Super Corridor (EJSC) Bakorwil III Malang menjadi ruang kolaborasi itulah yang menjadi rumah bagi Millennial Job Center (MJC), program prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menghadapi perubahan pola kerja generasi muda.

MJC berpusat di EJSC Bakorwil III Malang dan menjadi wadah bagi freelancer, pelaku ekonomi digital, serta pelaku ekonomi kreatif untuk berkarya, belajar, dan terhubung dengan pasar.

MJC tidak sekadar menyediakan tempat kerja. Program ini menghubungkan tiga pihak utama: klien yang membutuhkan jasa, mentor yang memberi arahan, serta talenta muda yang mengerjakan proyek. Konsep tersebut dirancang untuk menciptakan ekosistem freelancer yang lebih terarah, kompetitif, dan berkelanjutan di Jawa Timur.

Pola kerja masa kini tidak lagi selalu berbentuk pekerjaan tetap dengan jam kerja dan kantor yang pasti. Banyak anak muda memilih menjadi pekerja lepas atau freelancer, mengerjakan proyek desain, fotografi, pemasaran digital, pemrograman, produksi konten, hingga pengembangan merek.

Plt. Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Jawa Timur, Mhd Aftabuddin Rijaluzzaman, menyebut MJC sebagai jawaban Pemprov Jatim atas perkembangan gig economy. Menurutnya, lapangan pekerjaan telah bergeser dari model formal semata ke pekerjaan berbasis proyek dan keterampilan digital.

“MJC ini salah satu program prioritas Pemprov Jawa Timur. MJC mewadahi gig economy, karena perkembangan ekonomi digital membuat lapangan pekerjaan berbeda dengan sebelumnya. Sekarang banyak yang cenderung menjadi freelancer,” ujarnya kepada Bhirawa, Rabu (7/10/2026).

Ia menegaskan, jika freelancer tidak dipetakan dan difasilitasi dalam satu kelembagaan, potensi ekonomi digital generasi muda berisiko berkembang tanpa arah. MJC hadir untuk memastikan para pekerja digital tetap terhubung dengan pemerintah, dunia usaha, dan kebutuhan pembangunan daerah.

Berita Terkait :  Ditutup Pelatihan Mitigasi Bencana Desa Kedungrejo, Kunjungan Tenpina BPBD Jatim Tahun 2025 Naik Hingga 145,6 Persen

“Kalau kita tidak mewadahi para freelancer dalam satu kelembagaan, kita akan tertinggal. MJC adalah wadah bagi kaum milenial dan Gen Z, pelaku usaha digital, serta pelaku ekonomi kreatif untuk bersama pemerintah membangun Jawa Timur,” katanya.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyediakan prasarana MJC melalui EJSC, yang berada di kawasan Bakorwil III Malang. EJSC berfungsi sebagai ruang kolaborasi publik yang mencakup co-working space, ruang rapat, ruang kelas, command center, serta fasilitas pendukung kegiatan kreatif dan digital.

Fasilitas ini disediakan gratis bagi masyarakat Jawa Timur. Bagi freelancer yang belum memiliki kantor sendiri, EJSC menjadi ruang produktif untuk bekerja, bertemu klien, mengikuti pelatihan, dan membangun jejaring usaha.

“Karena manfaatnya besar, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyediakan prasarana berupa EJSC di Bakorwil Malang. EJSC merupakan co-working space, sehingga freelancer dan masyarakat yang bekerja secara digital dapat memanfaatkan infrastruktur di sana,” kata Aftabuddin.

MJC sendiri tidak hanya berada di Malang. Program ini tersebar di lima Bakorwil, yakni Malang, Madiun, Bojonegoro, Pamekasan, dan Jember, sehingga membentuk jejaring pengembangan talenta digital di berbagai wilayah Jawa Timur.

Salah satu kekuatan MJC terletak pada pola pendampingan berbasis proyek. Talenta muda tidak hanya dilatih secara teori, tetapi juga diberi kesempatan mengerjakan pekerjaan nyata dari klien, mulai dari desain grafis, fotografi produk, branding, hingga pemasaran digital.

Berita Terkait :  Terdampak Banjir, Kalaksa BPBD Jatim Resmikan Jembatan Doplang Ponorogo

Aftabuddin menjelaskan bahwa dalam ekosistem MJC terdapat peran mentor, advisor, operator, dan administrator. Peran tersebut membantu talenta memahami kebutuhan klien, meningkatkan keterampilan, serta menyelesaikan proyek secara profesional.

“Di MJC ada layering, ada mentor, advisor, dan operator. Saat ini dikenal juga sebagai advisor dan administrator. Intinya, mereka memberikan pendampingan atau mentoring,” ujarnya.

Ia memberi contoh seorang pelaku UMKM yang ingin meningkatkan penjualan produk. Di MJC, pelaku usaha dapat bertemu dengan desainer grafis, fotografer produk, atau ahli pemasaran online untuk memperkuat tampilan dan daya saing produknya.

“Misalnya ada klien yang ingin mempromosikan produk UMKM. Di MJC ada yang ahli desain grafis, ada yang ahli foto produk agar penjualan meningkat, ada juga yang ahli pemasaran online. Mereka akan dipertemukan di sana,” katanya.

MJC juga menjadi jembatan antara talenta digital dan UMKM. Dinas Koperasi serta Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Investasi sering memanfaatkan kader MJC untuk membantu pelaku usaha dalam fotografi produk, desain, branding, dan pemasaran digital.

Menurut Aftabuddin, pelaku usaha memahami pasar secara langsung, sementara talenta muda memiliki keahlian digital yang dibutuhkan untuk memperkuat bisnis tersebut. Pertemuan keduanya di MJC diharapkan mendorong UMKM naik kelas.

“Salah satu tugas mereka adalah mendukung UMKM. Dinas Koperasi dan Disperindag sering memanfaatkan mereka untuk membantu foto produk, desain produk, dan kebutuhan lainnya. Mereka memahami pasar, sehingga dipertemukan di MJC,” katanya.

Berita Terkait :  Arumi Bachsin: Ikan Adalah 'Superfood' Indonesia Lawan Stunting

Kegiatan penguatan UMKM melalui MJC dan EJSC Malang juga terus berjalan. Salah satunya adalah fasilitasi desain kemasan dan branding digital bagi UMKM, yang menunjukkan peran MJC bukan hanya sebagai penyedia lowongan, tetapi juga motor penguatan daya saing usaha rakyat.

Sejak diluncurkan pada 2019, MJC telah menjadi bagian dari strategi Pemprov Jawa Timur dalam menyiapkan generasi muda sebagai pekerja digital profesional. Program ini menyediakan pelatihan, mentorship, dan akses proyek untuk meningkatkan keterampilan serta daya saing tenaga kerja muda.

Aftabuddin menyatakan pihaknya memiliki data terkini mengenai jumlah talenta yang tergabung, nilai proyek, serta kinerja MJC. Data tersebut akan dipublikasikan setelah diverifikasi dan disusun oleh instansi terkait.

“Ada data proyek, ada platform, ada omzet, dan jumlahnya semua. Nanti kami sampaikan. Untuk saat ini, yang tergabung di MJC sudah banyak dan mencakup berbagai bidang ekonomi kreatif,” ujarnya.

Dengan berpusat di EJSC Bakorwil III Malang, MJC diharapkan tidak hanya menciptakan peluang kerja, tetapi juga membentuk ekosistem ekonomi digital yang lebih inklusif.

Talenta muda, freelancer, pelaku ekonomi kreatif, mentor, dan UMKM dipertemukan dalam satu ruang kolaborasi untuk tumbuh bersama.

“Tujuan awalnya adalah mewadahi freelancer dan pelaku usaha digital agar dapat bersama pemerintah membangun Jawa Timur. Pemerintah provinsi harus mewadahi mereka agar tidak berkembang liar,” tutup Aftabuddin. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!