Sidoarjo, Bhirawa
Para guru Unit Kesehatan Sekolah (UKS) mulai jenjang SD hingga SMA, serta para pelatih cabang olahraga yang bernaung di bawah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sidoarjo, mendapatkan bekal pengetahuan berharga langsung dari para dokter spesialis RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.
Materi yang disampaikan berfokus pada penanganan henti jantung, henti napas, hingga pertolongan awal terhadap cedera fisik yang kerap terjadi saat beraktivitas. Kegiatan yang digelar di Bale Bumi Mojopahit pada Sabtu (9/5) lalu ini dihadiri oleh sebanyak 106 peserta.
Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD R.T. Notopuro, dr. Ivan Setiawan, Sp.Em., menegaskan bahwa pemahaman mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD) sangatlah krusial bagi masyarakat umum. Menurutnya, setiap orang perlu memahami langkah-langkah penanganan yang tepat saat menghadapi seseorang yang mengalami henti jantung, henti napas, maupun mengalami cedera saat berolahraga.
“Kami akan mengajarkan cara memberikan pertolongan dan tindakan segera yang tepat, agar kondisi korban tidak semakin parah saat menjalani proses pemulihan nantinya,” jelas dr. Ivan yang merupakan dokter spesialis kedokteran gawat darurat tersebut.
Ia menambahkan, edukasi semacam ini sangat penting mengingat tingginya risiko terjadinya cedera di lingkungan sekolah maupun dunia olahraga.
Mochammad Komar, seorang pelatih cabang olahraga tinju di Sidoarjo, mengakui bahwa selama ini pihaknya baru sebatas melakukan penanganan secara sederhana, seperti memberikan kompres es batu jika atlet mengalami cedera pada bagian wajah atau rahang.
“Dengan adanya arahan medis yang profesional ini, kami sangat berharap dapat memperoleh solusi yang lebih tepat dan cepat demi keselamatan para atlet saat sedang bertanding,” ujarnya.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Direktur Utama RSUD R.T. Notopuro, dr. Atok Irawan, Sp.P., MKes. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa rumah sakit saat ini tidak lagi hanya menunggu kedatangan pasien di dalam gedung, melainkan turun langsung ke tengah masyarakat untuk mensosialisasikan langkah pencegahan berbagai penyakit.
“Sesuai prinsip yang kita pegang, lebih baik mencegah daripada mengobati,” tegasnya.
Ia berharap melalui kegiatan ini, peserta dapat menyerap informasi yang bermanfaat terkait pencegahan penyakit dan cara memberikan pertolongan pertama sebelum pasien dibawa ke fasilitas kesehatan.
“Diharapkan jika terjadi kecelakaan atau cedera di lingkungan sekolah maupun tempat pertandingan, para guru dan pelatih sudah mampu memberikan pertolongan pertama yang benar, sehingga kondisi korban tidak memburuk saat dibawa ke rumah sakit,” tambahnya.
Lebih lanjut dr. Atok mengungkapkan bahwa saat ini fasilitas kesehatan di RSUD Notopuro masih dibebani tingginya kasus penyakit kronis seperti gagal ginjal, gangguan jantung, hingga stroke. Padahal, sebagian besar penyakit tersebut sebenarnya dapat dicegah sejak dini melalui upaya penyuluhan, promosi kesehatan, dan edukasi yang tepat kepada masyarakat luas. [kus.mg5.kt]


