28.3 C
Sidoarjo
Monday, July 6, 2026
spot_img

Alarm Bahaya Minim Literasi

Oleh :
Akhmad Faishal
Bekerja sebagai pengelola perpustakaan di SMAN 15 Surabaya

Belakangan ini, presiden RI, Prabowo Subianto, dikritik oleh sebab gaya komunikasinya saat berpidato. Beberapa kata yang seringkali keluar, yaitu “ndasmu!”, “emang gue pikirin”, dan kata-kata lain yang terdengar kontroversial atau tidak ramah di telinga publik.

Ada yang mengherankan, bagaimana seseorang yang digambarkan membaca begitu banyak buku mampu mengeluarkan kata-kata yang seperti itu?

Seharusnya, cerminan seseorang yang membaca begitu banyak buku tidak akan mengobral kata-kata seperti itu. Ia akan mengeluarkan kata-kata yang tajam, tetapi terukur. Ia akan mengeluarkan kata-kata yang keras, tetapi renyah terdengar di telinga. Rocky Gerung, seorang pengamat politik, seringkali mengeluarkan kata “Dungu”. Ia berpendapat bahwa kata itu menyasar atau mengarah pada pikiran. Pada akal yang digunakan. Kata itu memang sederhana dan mudah diingat untuk menggambarkan betapa kelirunya pemikiran yang akan dijadikan landasan kebijakan pembangunan.

Tidak berhenti sampai disitu. Dampak dari pelemahan literasi juga mengarah pada pelemahan prinsip. Ternyata, ada demo mahasiswa yang dibayar dan seorang mahasiswa dari UGM, eks ketua umum BEM Universitas, mengeluarkan kata-kata yang menyerang secara personal. Inilah yang kemudian memunculkan kericuhan sosial. Beruntung, ada mahasiswi dari UI, wakil ketua BEM Universitas, yang tengah naik daun. Dari Fakultas Kedokteran, ia menyampaikan kritik dengan tajam serta terukur tanpa perlu menyakiti pribadi pihak lawan-tidak sampai harus menyandingkan seseorang dengan hewan yang cacat lalu menamainya. Ruang publik bukanlah ruang untuk menyampaikan sumpah serapah, kecuali tengah berada di lingkungan individu itu sendiri.

Berita Terkait :  Bupati Gresik Ajak Penyedia Barang dan  Jasa  Jaga Integritas

Dan untuk sampai pada titik itu, memang diperlukan landasan kuat dan kepemilikan kata yang berlimpah. Pada saat seseorang mengubah kritik menjadi caci-maki, pada saat itu pula ia tengah kekurangan kata untuk menyampaikan kritik yang tajam. Tanggapan yang pada mulanya terukur menjadi tanggapan yang membabi buta. Rasanya, penting bagi kita untuk mengingatkan dan memberikan pendidikan mengenai kekuatan literasi sebagai modal untuk menyampaikan kritik. Tentu, agar tidak berubah menjadi caci maki.

Ini alarm atau tanda untuk mengingatkan bahwa bahaya seseorang di muka publik tidak memiliki literasi yang kuat. Dampak buruknya besar. Publik ibarat gelombang laut yang besar. Salah sedikit mengucapkan pendapat akan memunculkan serangan balik gelombang yang mengarah kepadanya. Oleh sebab itu, pada generasi muda kini yang terjun langsung ke lapangan harus dan wajib bagi mereka untuk membaca buku tentang dunia sosial, politik dan ekonomi terlebih dahulu. Mereka harus membaca banyak sekali buku sebelum bertanding di lapangan. Kekuasaan memang akan mengerahkan kekuatannya dalam bentuk yang sudah kita ketahui, tetapi melawan tanpa ada kesiapan intelektual yang kuat akan menjadi blunder.

Para oknum mahasiswadari Universitas Bung Karno tengah mengalami kejumudan literasi. Mereka yang menerima bayaran itu tengah mengalami pelemahan prinsip akibat sikap literasinya yang kurang. Tentu, hal itu mencederai seluruh perjuangan mahasiswa-mahasiswi yang lain. Pada saat mahasiswa-mahasiswi yang lain tengah berjuang di atas kakinya sendiri (berdikari), segelintir mahasiswa-mahasiswi justru menerima sesuatu yang seharusnya tidak mereka terima. Apalagi, diduga yang memberi merupakan pihak yang berseberangan dengan para mahasiswa.

Berita Terkait :  Tandatangani Pakta Integritas, Kapolres Situbondo Serahkan DIPA Tahun 2025

Barangkali, ini akan menjadi semacam momen perbaikan untuk mengecilkan suara alarm tanda bahaya minim literasi. Sekarang, kondisi ekonomi, sosial, budaya bahkan hingga energi tengah rapuh. Situasi bergerak ke arah yang antara dapat diduga dan tidak diduga. Listrik, bbm, hingga ucapan makian tengah menjadikan situasi kian hari kian memburuk. Kebijakan MBG dan Kopdes jalan terus. Namun, meski rintihan gaji guru didengar oleh presiden, tetapi presiden seolah tidak mampu berbuat apa-apa. Ini paradoks. Presiden pernah mengatakan akan memberi dana 10 T saat menteri meminta 5 T. Gaji hakim naik, tetapi tidak dengan guru. Bahkan, dalam salah satu pidatonya ia keliru menyampaikan itu. Artinya, dalam hal ini konstruksi alur berpikir presiden belum tertata dengan baik.

Pada saat ini, kemampuan literasi merupakan sebuah modal penting. Globalisasi memberikan peluang sebuah era yang menuntut keterbukaan dan keteraturan. Oleh sebab itu, sebelum sesuatu itu diwujudkan harus matang dulu dalam pikiran. Karena, kini kita tidak hidup lagi pada zaman Orde Baru. Zaman yang lazim menyampaikan “yes, sir” atau “baik, pak” atau yang seringkali didengungkan, yakni zaman ABS (Asal Bapak Senang). Dan, presiden Prabowo memang tidak dapat lagi merasakan kenyamanan pada zaman itu, karena hari-hari ini tengah diuji kemampuan literasinya dengan generasi muda yang masih segar dan haus akan bacaan.

Di ruang publik, presiden Prabowo Subianto, tidak harus juga mengobral konspirasi. Ia seharusnya menjelaskan analisisnya mengenai situasi dan kondisi yang terjadi. Di ruang publik, kekuatan literasinya akan diuji, apakah analisisnya benar atau tidak. Apakah ia mampu menjelaskan variabel-variabel yang mempengaruhi, mengapa harga BBM naik, mengapa PLN kekurangan stok batu bara, mengapa rupiah terus memburuk, mengapa investor asing lebih memilih Vietnam daripada Indonesia, dan mengapa presiden dianggap masih mempertahankan menteri yang berkinerja buruk? Demo yang diselenggarakan para mahasiswa itu menuntut presiden untuk menjelaskan pokok permasalahan sesungguhnya yang dialami.

Berita Terkait :  Babinsa Koramil 0814/03 Tembelang Jombang Laksanakan Penghijauan

Buntut dari pelemahan literasi, justru permasalahan itu dijelaskan secara gamblang untuk pihak lain. Contohlah, Dahlan Iskan yang menjelaskan secara gamblang alasan terkait kekurangan pasokan batu bara PLN. Untuk itulah, penguatan literasi di era globalisasi sangat dianggap penting. Promosi terkait AI (Artificial Intelligence) seharusnya menunggu terlebih dahulu saat kemampuan literasi masyarakat telah kuat dan mumpuni. Memang, secara data kemampuan baca, tulis dan menghitung (Calistung) sudah di atas rata-rata. Hampir seluruh masyarakat di Indonesia telah mampu keluar dari jurang buta huruf. Namun, itu belum cukup.

Setelah keluar dari jurang itu, mereka harus masuk ke fase literasi terlebih dahulu sebelum masuk ke fase AI. Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, seringkali mendorong adanya AI, tetapi tidak melihat kenyataan yang ada. Pada saat AI nanti akan diterapkan, masyarakat yang belum mantab dalam kemampuan literasinya akan kelabakan.

Oleh sebab itu, lebih bijak Wapres RI lebih baik mempromosikan aktivitas membaca buku terlebih dahulu. Tentu, sekali lagi dalam upaya agar meminimalisir dering alarm tanda bahaya minim literasi, terutama untuk memperkuat literasi pejabat dalam hal gaya komunikasinya di ruang publik dan mengembalikan kepercayaan masyarakat serta investor asing.

———— *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!