Sumenep, Bhirawa. – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Trunojoyo mengimbau masyarakat Kabupaten Sumenep agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Fenomena ini berpotensi memperpanjang musim kemarau, meningkatkan suhu udara, serta menurunkan curah hujan secara signifikan.
Kepala BMKG Trunojoyo, Ari Widjajanto, mengingatkan masyarakat agar mulai mengantisipasi dampak El Nino dengan menghemat penggunaan air dan memanfaatkan sumber air yang tersedia secara bijaksana.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang menyimpang dari kondisi normal. Kondisi ini memengaruhi sirkulasi angin global sehingga memicu musim kemarau lebih panjang dibanding biasanya.
”Saat ini Madura termasuk kategori waspada. Kami harapkan masyarakat berhati-hati dan mengantisipasi dengan memanfaatkan sumber air yang ada,” kata Ari Widjayanto, Senin (6/7).
Selain ancaman kekeringan, Ari juga mengingatkan meningkatnya risiko kebakaran saat musim kemarau, terutama jika El Nino terjadi. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran serta menjaga lingkungan sekitar.
”Masyarakat diharapkan lebih arif dan bijaksana untuk menjaga kondisi air sesuai kebutuhan dan menjaga dari potensi kebakaran,” harapnya.
Sementara itu, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep, Abd Kadir mengatakan, pihaknya telah mengidentifikasi sejumlah wilayah yang mengalami kondisi kering kritis. Namun, setelah dilakukan pengeboran sumur di beberapa titik, sebagian wilayah kini berangsur membaik menjadi kategori kering langka.
Meski demikian, pihaknya mencatat sebanyak 76 desa yang tersebar di 19 kecamatan masih masuk kategori rawan kekeringan pada musim kemarau tahun ini. ”Wilayah itu meliputi Kecamatan Manding, Pasongsongan, Rubaru, Pragaan, Ganding, Guluk-Guluk, Ambunten, Batang-Batang, Batuputih, Saronggi, Arjasa, Kangayan, Gayam, Raas, Giligenting, Talango, Masalembu, Nonggunong, dan Sapeken,” tegasnya.
Kadir juga mengatakan, desa-desa yang masih berstatus kering kritis menjadi prioritas penyaluran bantuan air bersih.
”Desa-desa berstatus kering kritis akan diutamakan dalam penyaluran bantuan air bersih. Berkaca dari pola tahun-tahun sebelumnya, kesulitan air di wilayah tersebut biasanya mulai terasa sekitar satu bulan setelah musim kemarau berlangsung,” tandasnya. [sul.fen]


