30.4 C
Sidoarjo
Sunday, November 8, 2026
spot_img

Saat Tangan Muda Menopang Tubuh Senja di Kampung Pancasila


Kisah KKN NR2 Mahasiswa Untag Surabaya di Kelurahan Kertajaya

Minggu (8/11) pagi, denyut kehidupan di RW 4 Kelurahan Kertajaya terasa lebih cepat dibanding hari hari lainnya. Suasana di balai RW yang biasanya sepi, mendadak berubah ramai dan gembira. Dua generasi tengah bersendau gurau layaknya kakek/nenek dan para cucu-cucunya.

Oleh:
Wahyu Kuncoro, Bhirawa Surabaya

Sebanyak 27 warga lanjut usia (lansia) duduk rapi di atas deretan kursi plastik hijau. Ada yang datang dengan ditopang tongkat kayu, ada yang berjalan tertatih sembari memegangi pundak menantunya, dan ada pula yang datang beriringan bersama tetangga karib, saling melempar candaan tentang masa muda mereka yang telah lama berlalu.

Di tengah kehangatan suasana para lansia bercanda, puluhan anak muda berseragam almamater merah menyala tampak sigap bergerak. Warna merah itu mencolok, kontras dengan latar belakang dinding balai warga yang bersahaja, namun memancarkan energi patriotisme yang kuat. Mereka adalah para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

Pada hari yang dirancang penuh empati itu, mereka tidak datang untuk menggurui atau sekadar menuntaskan kewajiban kurikulum akademis. Mereka datang membawa sebuah misi kebangsaan yang luhur namun membumi yakni menopang tubuh-tubuh senja, mendengarkan keluh kesah yang kerap terabaikan, dan menghidupkan kembali roh gotong royong yang mulai terkikis zaman. Melalui kegiatan penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan gratis, ruang publik berskala rukun warga tersebut disulap menjadi sebuah manifesto hidup dari penguatan pilar Kampung Pancasila.

Tawa ‘Komplet’ Sri Rahayu di Meja Medis
Ketegangan yang biasanya melingkupi ruang periksa medis sama sekali tidak menyisakan jejak di balai warga ini. Di salah satu sudut meja pemeriksaan, Sri Rahayu, seorang warga senior berusia 68 tahun yang mengenakan kerudung berwarna biru, duduk menghadap tim tenaga kesehatan (nakes). Matanya berbinar jenaka, memancarkan ketabahan khas generasi yang kenyang makan asam garam kehidupan. Di hadapannya, Dian, salah satu nakes muda yang digandeng oleh mahasiswa KKN Untag Surabaya, bersiap dengan lembar catatan medis di tangan kiri dan alat tulis di tangan kanan.

“Ibu Sri, bagaimana kondisinya belakangan ini? Ada keluhan pusing yang mengganggu, atau mungkin ada riwayat darah tinggi dan gula dari keluarga?” tanya Dian dengan suara yang diatur selembut mungkin, sebuah upaya tulus untuk meruntuhkan dinding kecemasan yang kerap menghinggapi lansia saat berhadapan dengan jarum suntik.

Mendengar pertanyaan terukur itu, Sri Rahayu tidak lantas menyodorkan daftar keluhan medis dengan wajah muram. Sebaliknya, ia justru tergelak ringan, menepuk pelan meja kayu di depannya hingga gelang di tangannya berdenting. “Wah, Mbak Dian, kalau sampeyan tanya soal riwayat penyakit… saya ini punya riwayat yang komplet! Semua ada, wis gak usah dicari-cari lagi, dari ujung kepala sampai ujung kaki kalau dihitung ada semua!” jawabnya yang langsung disambut tawa renyah dari para lansia lain yang tengah mengantre di belakangnya. Suasana pun mendadak riuh oleh gema tawa bersama.

Berita Terkait :  Khofifah Siapkan Peningkatan Kerjasama Pendidikan Kesehatan Jawa Timur - Amerika Serikat

Dian tidak merespons jawaban humoris itu dengan kepatuhan formal yang kaku. Sembari ikut tersenyum lebar, jemarinya yang terampil dengan telaten membalut lengan keriput Sri Rahayu dengan manset tensimeter. Sembari menunggu jarum mekanis bekerja, ia memberikan edukasi. “Meskipun riwayatnya komplet, yang paling penting ibunya tetap ceria dan bahagia seperti ini. Jiwa yang sehat itu obat paling manjur, Bu. Tapi setelah hari ini, porsi gorengan dan makanan asinnya dikurangi sedikit ya, dikontrol demi cucu-cucu di rumah,” ujar Dian sabar, yang dibalas dengan anggukan mantap dan senyum lebar dari Sri Rahayu.

Di meja sebelahnya, pemandangan serupa terlihat jelas. Adinda dan Febi, dua rekan nakes Dian, berbagi tugas dengan ritme yang sangat teratur. Tangan-tangan muda mereka bergerak cekatan namun penuh kehati-hatian. Mereka mengukur suhu tubuh dengan termometer digital, menusukkan jarum steril dengan presisi tinggi untuk mengecek kadar gula darah, serta menghitung denyut nadi para warga senior. Tidak ada kesan terburu-buru, meskipun antrean cukup panjang. Setiap tusukan jarum yang mengenai kulit keriput para lansia selalu diawali dengan usapan kapas alkohol yang lembut dan kalimat penenang yang menyejukkan hati, seolah-olah mereka sedang merawat orang tua kandung sendiri.

Mahasiswi Untag Surabaya Aprilia (tengah) dengan telaten mendampingi para lansia menjalani pemeriksaan kesehatan

Sentuhan Tulus Mahasiswa di Garis Depan
Peran sentral mahasiswa dalam memastikan kenyamanan para lansia terlihat nyata di area penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan. Aprilia, salah satu mahasiswi Untag Surabaya yang bertugas sebagai panitia pelaksana, tampak tidak sedetik pun beranjak dari posisinya. Tugasnya mungkin terlihat sederhana di atas kertas, namun di lapangan, ia menuntut cadangan kesabaran dan empati yang luar biasa.

Ketika seorang kakek bertubuh agak bungkuk melangkah dengan gemetar mendekati timbangan, Aprilia dengan sigap maju dua langkah. Ia memegang siku kakek tersebut dengan lembut namun kokoh, menuntunya naik ke atas pijakan besi, dan memastikan posisi berdiri sang kakek benar-benar seimbang dan aman sebelum membaca angka yang tertera. Setelah mencatat hasilnya dengan rapi, Aprilia selalu menutup interaksinya dengan sebuah sapaan hangat, ucapan terima kasih yang tulus, dan tuntunan kembali ke tempat duduk semula.

Berita Terkait :  Dukung Regulasi Bagi Siswa Disabilitas, PUID-DIC UNESA Inovasi Teknologi Berbasis Virtual Reality

“Melihat simbah-simbah di sini tersenyum lebar dan begitu antusias mendengarkan penyuluhan kami, rasa lelah menyusun proposal dan menyiapkan logistik program ini berminggu-minggu langsung sirna seketika. Mereka tidak sekadar menjadi sasaran program KKN kami, melainkan mengingatkan saya pada kakek dan nenek saya sendiri di kampung halaman. Merawat mereka terasa seperti merawat keluarga sendiri,” tutur Aprilia di sela-sela kegiatannya, sembari menyeka peluh yang membasahi dahi dengan ujung lengan almamater merahnya.

Manifestasi Nyata Kehidupan Kampung Pancasila
Kegiatan pengabdian masyarakat yang diinisiasi oleh para mahasiswa Kampus Merah Putih ini bukan sekadar agenda artifisial atau formalitas pemenuhan nilai indeks prestasi kumulatif (IPK). Lebih luas dan mendalam dari itu, aksi nyata ini dirancang secara visioner sebagai motor penggerak dan penguat pilar Kampung Pancasila di wilayah Kelurahan Kertajaya. Di tangan para mahasiswa ini, Pancasila tidak lagi dibiarkan membeku sebagai deretan teks hafalan di buku-buku kewarganegaraan, melainkan diwujudkan dalam tindakan sosiologis yang nyata: sebuah ekosistem sosial di mana yang muda menghormati yang tua, dan yang kuat menopang yang lemah dalam balutan gotong royong tanpa batas sekat.

Lurah Kertajaya, Isworo Andik Sucahyo, saat dikonfirmasi terkait kegiatan KKN Mahasiswa Untag di wilayahnya, tidak dapat menyembunyikan rasa bangga dan apresiasinya yang mendalam. Menurutnya, kepekaan sosial yang ditunjukkan oleh mahasiswa merupakan oase di tengah gersangnya kepedulian sosial di wilayah perkotaan modern.

“Pancasila itu esensinya adalah gotong royong, dan fondasi utamanya adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Apa yang kita saksikan bersama hari ini di RW 4 Kertajaya adalah bukti empiris bahwa nilai-nilai luhur tersebut tidak hilang, melainkan hidup subur di akar rumput. Adik-adik mahasiswa Untag Surabaya tidak hanya membawa tensimeter, termometer, atau alat cek gula darah. Lebih dari itu, mereka membawa hati, membawa kepedulian yang merajut kembali rasa kekeluargaan yang erat antargenerasi di kampung ini. Inilah esensi sejati dari Kampung Pancasila,” ungkap Isworo Andik Sucahyo dengan nada suara penuh penekanan.

Penyuluhan kesehatan bagi lansia juga disertai praktik langsung berupa peragaan gerakan gerakan tubuh yang dianjurkan dilakukan para lansia.

Apresiasi yang senada juga mengalir deras dari Ibu RW 4 Kertajaya, Lilik. Baginya, kehadiran 27 lansia yang berkumpul dengan sabar dan antusias menunjukkan betapa berartinya kehadiran anak-anak muda ini bagi psikologis warga senior. Di kawasan perkotaan yang padat, kaum lansia sering kali terisolasi secara sosial karena kesibukan anggota keluarga lainnya yang bekerja.

“Biasanya, ibu-ibu dan bapak-bapak lansia di wilayah kami hanya beraktivitas di dalam rumah masing-masing, sepi. Kehadiran anak-anak KKN Untag Surabaya ini membawa energi baru, keceriaan baru yang sangat luar biasa. Warga kami sangat antusias karena para mahasiswa mendampingi dengan sangat telaten. Mereka tidak segan-segan menjemput dari depan gang, memapah dengan sabar, hingga bersedia mendengarkan curhatan kesehatan mereka yang panjang lebar dengan senyuman. Bagi kami, ini adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang,” kata Ibu Lilik dengan mata yang tampak berkaca-kaca menahan haru.

Berita Terkait :  PKKMB Unusa, Bukan Sekadar Meraih Gelar, Tapi Tingkatkan Kualitas dan Karakter

Sinergi Strategis Demi Ketahanan Kota
Dari sudut pandang kebijakan daerah dan pengembangan inovasi sosial, keterlibatan aktif perguruan tinggi di tengah masyarakat dinilai sebagai elemen krusial. Ketua Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, menegaskan bahwa kolaborasi triple-helix yang mempertemukan dunia akademik, pemerintah kota, dan masyarakat akar rumput adalah kunci utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan urban secara inklusif, termasuk dalam menjaga kualitas hidup kelompok rentan seperti lansia.

“Surabaya sebagai kota metropolis yang terus berkembang pesat senantiasa membutuhkan sentuhan humanis dari dunia akademik agar pembangunan tidak kehilangan jiwanya. Langkah strategis dari Untag Surabaya yang menerjunkan mahasiswanya untuk memperkuat pilar Kampung Pancasila melalui sektor kesehatan preventif seperti ini adalah model yang sangat ideal. Brida Surabaya sangat mendukung riset-riset terapan dan aksi lapangan yang dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Kesejahteraan lansia adalah indikator penting kemajuan sebuah kota,” tegas Agus Imam Sonhaji.

Komitmen untuk selalu membumi dan hadir di tengah kesulitan masyarakat inilah yang terus ditanamkan oleh pihak rektorat kepada seluruh civitas akademika. Rektor Untag Surabaya, Harjo Seputro, menyatakan bahwa program KKN di Kelurahan Kertajaya ini merupakan ejawantah nyata dari Catur Dharma Perguruan Tinggi yang berorientasi pada nilai-nilai kebangsaan dan kerakyatan. Ia menegaskan bahwa kampus tidak boleh menjadi menara gading yang menjulang tinggi namun terasing dari realitas sosial di sekelilingnya.

“Mahasiswa Untag Surabaya dididik tidak hanya untuk menjadi manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki jiwa patriotik yang tebal. Menjadi patriot di era modern berarti memiliki kepekaan yang tajam terhadap lingkungan sekitar kita. Melalui program penguatan Kampung Pancasila ini, kami ingin memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang didapatkan di dalam ruang-ruang kuliah yang nyaman dapat mengalir langsung untuk menyelesaikan persoalan riil di masyarakat. Merawat kesehatan para lansia bukan sekadar aksi sosial biasa, melainkan cerminan dari upaya kita bersama dalam menjaga ketahanan moral dan fisik bangsa ini,” papar Harjo Seputro dengan penuh wibawa. [why]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!