Jombang, Bhirawa — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa Jombang menggelar diskusi publik bertajuk Sosialisme Islam di Graha Gus Dur, Kantor DPC PKB Jombang, pada Sabtu (7/11/2026) kemarin. Kegiatan ini mengupas tuntas pemikiran dua tokoh besar, yakni H.O.S Tjokroaminoto dan Ali Syari’ati, dengan tujuan menjadikan gagasan mereka sebagai landasan gerakan pemberdayaan masyarakat ke depan.
Acara ini dihadiri oleh aktivis pergerakan, organisasi kemasyarakatan, akademisi, mahasiswa, serta pengurus dan anggota DPC PKB Jombang. Bersama-sama, mereka mendiskusikan relevansi pemikiran kedua tokoh tersebut dalam menjawab berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini.
Pijakan Perjuangan Kaum Mustad’afin
Ketua DPC PKB Jombang, Anas Burhani, menjelaskan bahwa diskusi ini bukan sekadar kajian intelektual semata. “Kami ingin mencari gagasan yang bisa langsung diterapkan dalam gerakan politik dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Anas, pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto tentang sosialisme masih sangat relevan dijadikan pijakan dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat, khususnya kelompok lemah dan terpinggirkan. “Bagaimana kita bisa melakukan pendampingan nyata bagi kaum lemah, mengangkat derajat kaum mustad’afin? Tujuan akhirnya satu: terwujudnya keadilan sosial,” tegasnya.
Ke depan, PKB Jombang berharap hasil diskusi ini tidak berhenti di ruang seminar saja, melainkan diterjemahkan menjadi langkah nyata dalam program kerja organisasi. Anas juga menekankan pentingnya refleksi atas realitas sosial saat ini, di mana penguasaan sumber daya ekonomi oleh kelompok tertentu serta kekuatan oligarki dinilai semakin menjauhkan masyarakat dari kesejahteraan.
“Kita lihat realitas saat ini — ekonomi dikuasai kapitalisme, kekuasaan cenderung terpusat. Ini harus menjadi bahan refleksi bersama. Padahal Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945 mengamanatkan segala kekayaan alam dikelola untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, bukan untuk keuntungan segelintir pihak,” ungkap Anas.
Diskusi ini juga merupakan wujud upaya PKB Jombang dalam menerjemahkan arahan Ketua Umum PKB untuk kembali memperjuangkan amanat konstitusi. “Kami mengundang akademisi, tokoh masyarakat, hingga pengasuh pondok pesantren. Masukan mereka akan kami rumuskan menjadi konsep gerakan yang nyata,” tambahnya.
Islam, Kesetaraan, dan Keadilan Sosial
Sebagai pemateri pertama, Assoc. Prof. Dr. M. Makmun mengajak umat Islam agar tidak terjebak hanya dalam rutinitas keagamaan semata. “Nilai-nilai Islam harus mendorong kita berpikir kritis dan peduli pada persoalan sosial. Islam memiliki kekuatan menyatukan semua perbedaan, seperti yang dibuktikan Tjokroaminoto melalui Sarekat Islam — satu wadah yang menyatukan umat melawan penindasan,” paparnya.
Sementara itu, Dr. Moch. Nurcholis menyoroti nilai kesetaraan dalam Islam. “Lihatlah salat berjamaah — semua berdiri sejajar tanpa memandang status, jabatan, atau harta. Inilah cerminan persamaan derajat yang sejati,” ujarnya.
Pemikiran Ali Syari’ati juga menjadi bahasan mendalam, khususnya mengenai tauhid, kebebasan, dan keberanian manusia menegakkan keadilan dari berbagai bentuk penindasan.
Pemateri lain, Hendra Jaya, M.Pd.I., menegaskan bahwa sosialisme yang dibawa Tjokroaminoto berbeda dengan sosialisme ala Karl Marx.
“Bagi Tjokroaminoto, persoalan ekonomi bukan tujuan akhir, melainkan sarana menuju pengabdian kepada Tuhan. Sosialisme Islam tidak pernah lepas dari nilai ketuhanan, moral, dan persaudaraan,” jelasnya, merujuk pada karya Tjokroaminoto berjudul Islam dan Sosialisme.
Melalui kegiatan ini, PKB Jombang berharap lahir gagasan-gagasan baru yang memperkuat gerakan pemberdayaan masyarakat, dengan semangat sosialisme Islam sebagai kompas menuju keadilan sosial yang sesungguhnya. [rif.kt]


