28.6 C
Sidoarjo
Tuesday, November 3, 2026
spot_img

Target 8 Emas Popda XV Jatim, Wushu Surabaya Diperkuat Atlet Puslatcab

Surabaya, Bhirawa

 Pengurus Kota (Pengkot) Wushu Indonesia (WI) Surabaya mematok target tinggi pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda). Pada multievent paling bergengsi tingkat pelajar Jatim itu, Surabaya menurunkan 29 atlet,  dan optimis bisa meraih  enam hingga delapan medali emas, dengan nomor taolu (seni jurus) sebagai lumbung utama pendulang medali.

 Ketua Pengkot WI Surabaya, Chriswanto Agus Hariono, mengungkapkan bahwa persiapan para atlet pelajar tahun ini sudah berjalan maksimal. Sebagian besar atlet yang diturunkan—mencapai 50 hingga 60 persen merupakan atlet binaan Puslatcab KONI Surabaya yang dipersiapkan untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2027.

 “Sebagian besar anak-anak sudah menjalani latihan intensif sejak jauh-jauh hari karena mereka merupakan atlet Puslatcab persiapan Porprov. Jadi secara kesiapan, mereka sudah sangat matang,” ujar Chriswanto saat ditemui di Surabaya.

 Dari total 29 atlet yang diterjunkan, rinciannya terdiri atas 23 atlet nomor taolu dan 6 atlet nomor sanda (tarung). Dominasi kekuatan Surabaya memang tertumpu pada nomor taolu. Kendati demikian, Chriswanto menyebutkan adanya tantangan teknis tersendiri dalam transisi kategori jurus di tingkat pelajar.

 Pada ajang Popda kali ini, nomor taolu menggunakan standar Jurus A yang diperuntukkan bagi kelompok usia 15–17 tahun (Junior A). Sementara itu, sebagian atlet Surabaya yang diproyeksikan ke level yang lebih tinggi sudah terbiasa berlatih menggunakan jurus freestyle tingkat senior atau porprov.

 “Anak-anak sebenarnya sudah berada di level freestyle. Begitu ada Popda, mereka harus kembali menyesuaikan diri mempelajari Jurus A. Kendalanya, perkembangan di kabupaten/kota lain terkadang kurang merata di kelompok Junior A, sehingga di beberapa nomor pertandingan jumlah pesertanya sangat minim,” jelas Chriswanto.

Berita Terkait :  Polres Pamekasan Gelar Bhayangkara Fun Run 7,9K

 Ia mencontohkan, minimnya jumlah peserta dari daerah lain—seperti absennya kontingen dari Malang dan Kabupaten/Kota Batu akibat kendala anggaran—berdampak pada berkurangnya potensi perolehan medali emas. Jika dalam satu nomor pertandingan hanya diikuti oleh dua peserta, maka medali emas ditiadakan dan hanya memperebutkan perak serta perunggu.

 Meski demikian, Pengkot WI Surabaya tetap menyiasati hal tersebut dengan menyiapkan strategi pelapis yang matang di setiap kelas tanding.

 Sementara itu, untuk nomor sanda (tarung), persaingan dinilai lebih ketat dengan peluang 50:50. Kota Kediri disebut sebagai salah satu kekuatan dominan di nomor tarung berdasarkan hasil Kejurprov di Kediri sebelumnya. Guna mengantisipasi persaingan tersebut, Pengkot WI Surabaya secara mandiri menitipkan sejumlah atlet sanda dan taolu ke Puslatda Jawa Timur dengan pembiayaan penuh dari pengurus kota, sebagai investasi jangka panjang prestasi atlet usai lulus dari bangku sekolah.

 “Setelah Popda ini selesai, anak-anak akan kembali fokus ke porsinya masing-masing, baik yang melanjutkan ke freestyle maupun peningkatan teknik di sanda, demi target prestasi yang lebih tinggi di level provinsi maupun nasional,” pungkasnya. wwn

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!