Surabaya, Bhirawa – Media sosial seperti instagram (IG) kini bukan sekadar tempat berbagi informasi atau aktivitas sehari-hari. Bagi sebuah lembaga pemerintah, Instagram dapat menjadi ruang komunikasi yang mempertemukan institusi dengan masyarakat melalui informasi, visual, dan konten yang lebih dekat dengan kehidupan audiens.
Hal inilah yang dipelajari mahasiswa ilmu komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Izzat Rafi Rabbani saat menjalani Program Magang Berdampak di Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan peminatan New Media, kesempatan magang ini bagi Rafi menjadi pengalaman untuk menerapkan hal-hal yang selama ini dipelajari di bangku perkuliahan.
“Saya mendapatkan kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan kehumasan, khususnya pengelolaan konten Instagram, mulai dari proses perencanaan ide, desain grafis, produksi foto dan video, hingga penyuntingan konten sebelum dipublikasikan,” jelas Rafi. Pada awal menjalani magang, Rafi sudah terlibat dalam berbagai pekerjaan kreatif, salah satunya produksi konten media sosial.
“Saya tidak hanya mengerjakan desain dan editing, tetapi juga berkesempatan menjadi talent sekaligus editor dalam konten edukasi Instagram bertajuk “5 Hal Wajib yang Harus Diketahui Mahasiswa Baru”,” jelas Rafi lagi. Selain konten edukasi, terdapat pula berbagai konten fun yang dikemas dengan pendekatan lebih ringan agar informasi kelembagaan terasa lebih dekat dengan audiens, khususnya mahasiswa.
Di sisi desain grafis, Rafi turut membuat berbagai desain feed Instagram, seperti ucapan hari besar nasional dan segmen apresiasi mahasiswa berprestasi. Dari pekerjaan tersebut, Rafi melihat bahwa tampilan visual juga memiliki peran penting dalam membangun identitas media sosial sebuah lembaga. Informasi yang baik perlu didukung dengan penyajian visual yang konsisten dan nyaman dilihat.
“Saya kemudian mengusulkan beberapa pembaruan sederhana pada tampilan dan proses produksi konten Instagram. Salah satunya adalah penggunaan thumbnail pada setiap video yang diunggah agar tampilan sampul feed lebih rapi, terstruktur, dan memiliki identitas visual yang konsisten,” lanjut Rafi. Dengan bangganya, Rafi juga menunjukkan kalau dirinya juga membuat template khusus untuk hasil foto liputan sehingga dokumentasi yang dipublikasikan memiliki tampilan lebih estetik dan seragam.
Tidak berhenti di situ, saya turut mengembangkan ide penyajian video liputan dengan menambahkan kolase beberapa foto ke dalam video. Tujuannya agar dokumentasi tidak hanya menampilkan rangkaian video, tetapi juga memberikan variasi visual yang membuat audiens lebih tertarik untuk melihatnya.
Seiring berjalannya waktu, keterlibatan Rafi dalam kegiatan kehumasan semakin luas. Rafi mulai sering mendapatkan tugas penyuntingan video liputan dan terlibat langsung dalam dokumentasi berbagai agenda kelembagaan. Bahkan, pada salah satu kesempatan awal, saya menjadi mahasiswa pertama dari tim magang yang terjun langsung melakukan peliputan agenda Kepala Lembaga dengan membawa dua perangkat sekaligus, yaitu kamera dan DJI Pocket untuk kebutuhan pengambilan foto maupun video.
Di luar kebutuhan konten Instagram, terdapat pula beberapa proyek audiovisual yang menjadi bagian dari pengalaman magang Rafi. Salah satunya adalah pembuatan video layanan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur. Video ini merupakan bagian dari penugasan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi kepada lembaga pelayanannya.
“Saya mendapatkan kepercayaan untuk mengerjakan proyek tersebut secara mandiri, mulai dari penyusunan konsep, proses pengambilan gambar, hingga penyuntingan. Seluruh proses berhasil diselesaikan dalam waktu dua hari sesuai dengan tenggat yang diberikan,” jelas Rafi lagi
Rafi berharap setiap hal yang telah dikerjakan, sekecil apa pun itu, dapat memberikan kesan baik dan manfaat bagi LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur. Sebab pada akhirnya, jelas Rafi pengalaman magang yang berharga bukan hanya tentang seberapa banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan, tetapi juga tentang bagaimana ilmu yang dimiliki dapat diterapkan, dibagikan, dan meninggalkan dampak positif bagi lingkungan tempat kita belajar. [why]


