Petugas Kementerian PU melalui Satgas Penanggulangan Bencana Balai Besar Wilayah Sungai Brantas melakukan identifikasi dan inventarisasi dampak banjir lahar dingin Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin (2/11/2026).
Identifikasi dan Inventarisasi Dampak Banjir Lahar Dingin Gunung Semeru
Jakarta, Bhirawa. – Kementerian Pekerjaan Umum melalui Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas segera turun ke lapangan melakukan identifikasi dan inventarisasi dampak banjir lahar dingin Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Senin (2/11/2026). Langkah ini dilakukan guna memetakan kondisi infrastruktur yang terdampak sekaligus menyusun rencana penanganan lebih lanjut.
Banjir lahar dingin terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan puncak dan lereng Gunung Semeru serta wilayah sekitar aliran sungai, berlangsung sekitar pukul 00.14 hingga 05.32 WIB. Curah hujan tercatat mencapai 134,6 mm dalam rentang pengamatan pukul 00.00-06.30 WIB. Kondisi ini menyebabkan debit sungai meningkat signifikan dan membawa material vulkanik dengan ukuran 25-65 milimeter.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan komitmen kementerian untuk menangani dampak bencana secara menyeluruh. “Kementerian PU berkomitmen mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia. Keselamatan dan pemulihan warga terdampak menjadi prioritas utama kami,” ujarnya di Jakarta, Senin.
Hasil identifikasi awal menunjukkan sejumlah infrastruktur sumber daya air terdampak material lahar. Di antaranya tanggul beton pengendali banjir dan lahar yang tertimbun material vulkanik, serta tiga bangunan sabo dam dan tanggul sungai di bawah jembatan gantung yang mengalami pengikisan.
Kepala BBWS Brantas, Muhammad Noor, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengamankan personel dan peralatan dari lokasi terdampak sebagai langkah pencegahan. “Kami telah menyiagakan bahan penanganan banjir dan alat berat yang dibutuhkan. Segera setelah kondisi dinyatakan aman, penanganan darurat akan langsung dilaksanakan,” jelasnya.
Saat ini BBWS Brantas terus berkoordinasi dengan BPBD serta Pos Pengamatan Gunung Api Semeru guna memantau perkembangan aktivitas vulkanik dan cuaca. Tinjauan juga dilakukan di Sungai Regoyo, DAS Rejali, serta wilayah Sungai Bondoyudo-Bedadung. Meskipun air di Sungai Regoyo mulai surut, penanganan fisik belum dapat dilaksanakan karena kondisi di lapangan masih dinilai berisiko.
Berdasarkan rekomendasi PVMBG, aktivitas Gunung Semeru berada pada Status Siaga (Level III). Masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak, serta berjarak minimal 500 meter dari tepi sungai di luar radius tersebut. Warga juga diimbau mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar di sepanjang sungai yang berhulu di Semeru, terutama saat hujan deras. Kementerian PU akan terus memantau perkembangan situasi dan segera memobilisasi alat berat begitu kondisi aman. [ira.hel]


