27.9 C
Sidoarjo
Monday, November 2, 2026
spot_img

Manusia Bukan Etalase untuk Mengemis Kekaguman

Oleh:
Aisyah Anggraeni, S.Pd., M.Pd.
adalah mahasiswa S3 Doktor Pendidikan Dasar FIP Universitas Negeri Padang (UNP); alumni S1 PGSD & S2 Pendas UNP; Ketua Pondok Kreatif Pulaupanjang (PKP) Pasaman Barat Sumbar.

Ada yang hidup untuk bahagia, ada yang hidup untuk terlihat bahagia. Keduanya sering sulit dibedakan di media sosial. Orang tersenyum di depan kamera, lalu menghela napas panjang setelah layar padam. Foto liburan tampak seperti surga, cicilannya seperti neraka. Kita sedang menyaksikan zaman ketika manusia tidak cukup menjalani kehidupan; ia juga harus menjadi humas bagi kehidupannya sendiri.

Setiap hari, dunia menawarkan perlombaan yang tidak pernah diumumkan secara resmi. Siapa paling cepat kaya, paling bagus rumahnya, paling tinggi jabatannya, paling harmonis keluarganya. Bahkan kegiatan berbuat baik pun kadang membutuhkan dokumentasi, seolah-olah kebaikan yang tidak diunggah akan kehilangan status hukumnya. Kita tertawa kecil melihatnya, kemudian membuka telepon genggam dan melakukan hal serupa. Rupanya, menjadi penonton sekaligus peserta perlombaan adalah bentuk hiburan paling murah sekaligus paling melelahkan.

World Happiness Report 2026 menunjukkan bahwa pelajar berusia 15 tahun yang menggunakan media sosial lebih dari tujuh jam sehari memiliki tingkat kesejahteraan yang jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang menggunakannya kurang dari satu jam. Analisis itu mencakup data dari 47 negara dan tidak menyatakan bahwa media sosial menjadi satu-satunya penyebab ketidakbahagiaan. Namun, temuannya memberi peringatan bahwa penggunaan berlebihan, terutama untuk menikmati konten visual yang mendorong perbandingan sosial, dapat berkaitan dengan menurunnya kesejahteraan. Kita mempunyai lebih banyak jendela untuk melihat dunia, tetapi belum tentu lebih lapang menerima kehidupan sendiri.

Berita Terkait :  Dirut dan Jajaran Direksi Bank Mandiri Pastikan Kesiapan Bantuan Terdampak Bencana di Sumatera

Di sinilah perspektif humanistik menjadi penting. Psikolog Carl Rogers (1951) menekankan penerimaan terhadap diri dan penghargaan positif terhadap manusia. Nilai seseorang tidak semestinya ditentukan oleh seberapa banyak orang menyukainya atau seberapa tinggi pencapaiannya dibandingkan orang lain. Manusia membutuhkan ruang untuk tumbuh tanpa terus-menerus diadili oleh ukuran yang berubah setiap hari. Sayangnya, masyarakat modern sering menyediakan penerimaan dengan syarat: silakan menjadi diri sendiri, asal diri sendiri sukses, menarik, produktif, dan pantas dipamerkan.

Kita lalu sibuk memperbaiki kemasan, tetapi lupa memeriksa isi. Kita belajar berbicara seperti orang bijak, mengunggah kalimat tentang kesabaran, dan mengutip nasihat tentang keikhlasan. Namun, ketika teman memperoleh keberhasilan, hati kita mendadak mengadakan rapat darurat. Mengapa bukan kita? Apa kelebihan dia? Kapan giliran kita? Kalimat syukur yang tadi pagi menghiasi layar seketika kalah oleh satu kabar keberhasilan orang lain. Rupanya, hati manusia juga mengenal perubahan suasana hati yang lebih cepat daripada pergantian cuaca.

Psikolog Abraham Maslow (1943), melalui teori hierarki kebutuhan, menjelaskan pentingnya kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi diri dalam perkembangan manusia. Akan tetapi, kebutuhan akan penghargaan dapat berubah menjadi perangkap ketika seluruh harga diri bergantung pada pengakuan dari luar. Kita tidak lagi bertanya apakah pekerjaan kita bermakna, melainkan apakah orang lain menganggapnya hebat. Kita tidak lagi mengukur kemajuan dari kemampuan yang bertambah, melainkan dari jumlah orang yang terlihat tertinggal di belakang. Aktualisasi diri akhirnya berubah menjadi audisi tanpa akhir, dengan juri yang bahkan tidak kita kenal.

Berita Terkait :  Membangun Resiliensi Guru untuk Masa Depan Pendidikan

Padahal, setiap orang mempunyai keadaan dan perjalanan yang berbeda. Ada yang berhasil pada usia muda, ada yang baru menemukan jalannya setelah berkali-kali gagal. Ada yang memiliki kekayaan, tetapi kehilangan ketenteraman; ada yang hidup sederhana, tetapi mempunyai keluarga yang saling menguatkan. Membandingkan semua kehidupan dengan satu ukuran sama masuk akal seperti menilai ikan dan burung berdasarkan kemampuan memanjat pohon. Yang satu dianggap gagal, yang lain dianggap hebat, sementara ukuran penilaiannya sendiri patut dipertanyakan.

Psikolog Martin Seligman (2011), melalui pendekatan kesejahteraan dalam psikologi positif, menekankan bahwa kehidupan yang baik tidak hanya berkaitan dengan perasaan senang, tetapi juga keterlibatan, hubungan positif, makna, dan pencapaian. Perspektif ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan tidak cukup dibangun dari tepuk tangan. Hubungan yang tulus, pekerjaan yang bermakna, dan kemampuan menjalani hari tanpa terus-menerus merasa kurang juga merupakan bagian penting dari kehidupan yang sejahtera.

Karena itu, berhenti bersaing dengan semua orang bukan berarti berhenti berjuang. Kita tetap perlu bekerja keras, memperbaiki kemampuan, mengejar cita-cita, dan mengubah keadaan yang tidak adil. Bedanya, kita tidak harus menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk membenci diri sendiri. Kita boleh mengagumi tanpa iri, belajar tanpa merasa rendah, dan merayakan keberhasilan teman tanpa menganggapnya sebagai kekalahan pribadi. Dunia tidak akan kekurangan pemenang hanya karena kita berhenti menjadikan setiap orang sebagai lawan.

Berita Terkait :  Kapolres Bojonegoro Beri Penghargaan Dua Siswi Juara Pencak Silat Kapolri Cup

Dalam kehidupan spiritual, syukur juga bukan alasan untuk berdiam diri. Syukur berarti menghargai apa yang dimiliki, menggunakan nikmat dengan bertanggung jawab, dan tetap berikhtiar memperbaiki keadaan. Doa bukan surat keberatan kepada Tuhan karena orang lain memperoleh lebih dahulu. Doa adalah cara manusia menyampaikan harapan sekaligus mengakui keterbatasannya. Kita boleh meminta kehidupan yang lebih baik tanpa meminta orang lain mengalami kehidupan yang lebih buruk.

Mungkin sudah waktunya kita menurunkan sedikit volume pertunjukan. Tidak semua kebahagiaan perlu diumumkan, tidak semua kesedihan perlu disembunyikan, dan tidak semua keberhasilan perlu dijadikan bukti bahwa kita lebih unggul. Sesekali, berbuat baiklah tanpa kamera. Dengarkan orang lain tanpa sibuk menyiapkan jawaban. Berbahagialah tanpa menunggu orang lain merasa iri.

Sebab, manusia bukan etalase yang tugasnya memancing kekaguman. Ia adalah makhluk yang bisa lelah, gagal, berubah, dan tumbuh. Pada akhirnya, kita tidak membutuhkan kehidupan yang selalu terlihat sempurna, melainkan kehidupan yang masih menyediakan ruang bagi kasih sayang, kesalahan, pembelajaran, dan rasa syukur. Betapa menyedihkan jika kita berhasil membuat seluruh dunia mengagumi diri kita, tetapi tidak lagi mengenali diri sendiri ketika semua penonton pulang.

————— *** —————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!