32.1 C
Sidoarjo
Thursday, October 29, 2026
spot_img

Tekan Angka Inflasi, Irjen Kemendagri Tinjau Harga Bahan Pokok dan Sidak Pasar di Lamongan

Lamongan, Bhirawa – Pelaksana Tugas (Plt.) Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Irjen Kemendagri) Bachril Bakri melaksanakan monitoring harga bahan pokok di Kabupaten Lamongan pada Rabu, (28/10/2026) sore. Peninjauan ini dilakukan menyusul tingginya perkembangan harga cabai yang menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi daerah.

Didampingi oleh Inspektur II beserta Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, tim Irjen Kemendagri meninjau langsung sejumlah pasar tradisional dan pusat grosir di Lamongan, di antaranya Pasar Sidomulyo, Pasar Sidoharjo, dan Pasar Agrobis Babat. Kunjungan ini bertujuan untuk memantau kondisi riil harga di tingkat pasar serta memastikan tata kelola distribusi dan pemasaran komoditas berjalan secara efektif.

Pelaksana Tugas (Plt.) Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Irjen Kemendagri) Bachril Bakri, menjelaskan bahwa monitoring dan evaluasi secara khusus menyasar daerah-daerah yang mencatatkan perkembangan harga serta tingkat inflasi relatif tinggi. Kabupaten Lamongan menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian khusus akibat lonjakan harga cabai keriting dan cabai rawit pada pekan keempat sebelumnya.

“Lamongan ini termasuk salah satu daerah yang tertinggi, terutama harga cabai keriting dan cabai rawit. Tadi kami sudah di dua pasar, pertama di Sidomulyo dan sekarang di Pasar Agrobis,” ujar Bachril.

Dalam peninjauan tersebut, tim menemukan adanya perbedaan harga yang cukup mencolok antara pasar eceran dan pusat grosir. Harga cabai di Pasar Sidomulyo terpantau berada di kisaran Rp55.000 per kilogram.

Berita Terkait :  Upah Minimum Kota Madiun Tahun 2025 Naik 6,5 Persen, Apindo Ajak Pengusaha Patuhi Ketentuan

Sementara itu, di Pasar Agrobis Babat yang berfungsi sebagai sentra agen dan pusat kulakan, harga cabai justru berada di kisaran Rp44.000 per kilogram.

Adanya selisih harga hingga Rp11.000 tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah untuk segera membenahi rantai pasok dan tata kelola pemasaran. Pemerintah daerah didorong agar dapat menekan disparitas harga antarpasar sehingga masyarakat di berbagai wilayah dapat memperoleh bahan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.

“Di sini adalah agen pusat kulakan, ada perbedaan harga yang cukup besar. Kalau kami lihat, harga cabai pertama di sana Rp55.000, di sini ternyata Rp44.000,” katanya.

“Kami harap bagaimana pemerintah daerah bisa membantu, harga yang di sana itu bisa sama juga dengan di sini. Jadi kita harap bisa mengatur tata kelola pemasarannya, sehingga harga di setiap pasar tidak jauh berbeda,” imbuhnya.

Pihaknya berharap Pemkab Lamongan dapat segera menindaklanjuti hasil evaluasi ini agar harga cabai di tingkat konsumen bisa berangsur turun dalam waktu dekat, mengingat harga cabai di Lamongan saat ini masih relatif tinggi dibandingkan sejumlah kabupaten/kota lain di Pulau Jawa.

Menanggapi hasil monitoring tersebut, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menyatakan bahwa peninjauan ini merupakan bagian dari upaya pembinaan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok secara berkesinambungan. Sebelum turun ke lapangan, tim telah menggelar rapat koordinasi di Kantor Pemkab Lamongan untuk mengevaluasi komoditas – komoditas yang memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi.

Berita Terkait :  HCML Gelar Festival Pesisir di Pulau Giligenting Sumenep

“Hari ini dilakukan pembinaan dalam rangka TPID. Tadi sudah dilakukan pertemuan di kantor Pemda, kemudian dilanjutkan dengan sidak di beberapa pasar untuk mengecek harga-harga barang kebutuhan pokok yang berkontribusi terhadap inflasi daerah,” ujar Bupati yang akrab disapa Pak Yes tersebut.

Menurut Pak Yes, komoditas cabai merupakan salah satu faktor utama yang paling berpengaruh terhadap pergerakan inflasi di Lamongan karena sifatnya yang sangat fluktuatif setiap hari. Oleh karena itu, pemantauan dan pengendalian yang intensif mutlak diperlukan.

Kendati demikian, dari hasil pemantauan langsung di lapangan, pemerintah melihat adanya indikasi tren penurunan harga cabai dalam satu hingga dua hari terakhir seiring dengan masuknya pasokan baru ke pasaran.

“Dari sini memang kelihatan betul bahwa komoditi lombok ini sangat fluktuatif sekali. Satu dua hari ini sudah mulai ada penurunan karena stok juga mulai datang,” jelasnya. [yit.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!