Kota Batu, Bhirawa – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, dr Benjamin Paulus Octavianus mengajak Wali Kota Batu, Nurochman agar di kota ini tak hanya siaga pada penanganan penyakit tuberkulosis (TBC). Bertempat di Graha Pancasila Balai Kota Among Tani, Wamenkes meminta Wali Kota membuat kolaborasi semua pihak untuk percepatan penanganan sekaligus pencegahan TBC, Jumat (23/10/2026).
“Jika tidak diikuti dengan langkah pencegahan maka penanganan peyakit yang kita lakukan tahun ini, akan berulang atau terjadi lagi di tahun berikutnya,” ujar Benjamin dalam arahannya. Apalagi saat ini kasus TBC di Indonesia menjadi nomor dua terbesar di dunia.
Adapun nomor satu kasus terbesar TBC adalah India yang memiliki penduduk 1,5 milyar. Namun, apabila dihitung secara prosentase dan diumpakan jumlah penduduk Indonesia sama dengan India, tentu kasus TBC di Indonesia akan menjadi yang terbesar di dunia.

Karena itulah dalam acara “Penguatan Komitmen Desa/ Kelurahan Siaga TBC se-Kota Batu”, Wamenkes meminta Pemkot Batu menghadirkan semua pihak yang terlibat. Di antaranya, para kepala puskesmas, camat, kades/lurah, kepala RS, para kader TBC, serta para pejabat terkait.
“Kita membutuhkan kolaborasi yang baik tidak hanya dalam penanganan atau penyembuhan TBC, tetapi juga kolaborasi dalam pencegahan TBC,” jelas Beny, panggilan akrab dr Benjamin Paulus Octavianus.
Ia mengingatkan untuk mengubah mindset para dokter maupun tenaga medis dalam menangani TBC. Penanganan TBC tidak hanya menangani orang sakit TBC hingga akhirnya sembuh. Tetapi juga harus dipikirkan dan diupayakan langkah pencegahannya.
Ia mencontohan penanganan penyakit TBC di salah satu daerah di Jawa Barat. Di daerah ini terdapat sekitar 15 ribu kasus TBC. Dari jumlah tersebut yang telah terdeteksi sebanyak 95 persen, dan yang telah tertangani sebanyak 90 persen.
“Namun apa yang terjadi, di tahun berikutnya penyakit TBC yang muncul sebanyak 15 ribu kasus lagi. Bukan tidak tertangani, karena kita mengabaikan langkah pencegahannya,” jelas Beny. Ia mengingatkan bahwa dari seorang pasien TBC, berpotensi menularkan TBC kepada orang lain.
Selain memperkuat Desa/ Kelurahan Siaga TBC, Wamenkes juga mengajak Kota Batu terus menekan angka stunting yang masih tinggi di Indonesia. Saat ini, lanjut Beny, sebanyak 1 dari 5 anak Indonesia mengalami stunting. Maka negara hadir dengan program makan bergizi gratis untuk ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak usia sekolah.
Lebih dari 90% warga negara Indonesia tidak melakukan cek kesehatan setiap tahun. Untuk itu dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sejak Februari 2025, ditargetkan tahun ini 130 juta masyarakat ikut cek kesehatan gratis di lokasi- lokasi yang disediakan. Dan Kota Batu diajak untuk mengoptimalkan CKG yang saat ini telah memiliki 41 lokasi CKG yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
Selain itu perlu dilakukan optimalisasi puskesmas dan puskesmas pembantu (pustu) di Kota Batu. Dan ada kabar baik dari Kemenkes bahwa Pemerintah Pusat telah mempersiapkan anggaran besar untuk digunakan memperbaiki puskesmas dan pustu. Dan Kota Batu termasuk daerah yang akan mendapatkan bantuan tersebut.
Wamenkes menyatakan apresiasinya kepada Pemkut Batu yang telah menyediakan polindes serta menyediakan 1 dokter untuk 1 desa/ kelurahan. “Maka hari ini saya launching 1 desa dan kelurahan 1 dokter,” tegas Beny.

Sementara, Wali Kota Nurochman memastikan program Unit Pelayanan Kesehatan Desa dan Kelurahan (UPKDK) telah berjalan optimal. Hal ini agar masyarakat bisa mendapatkan akses berobat yang mudah, dekat, dan gratis.
Diketahui, program UPKDK merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Batu untuk memberikan layanan kesehatan yang mudah bagi masrakat. Karena itu Pemkot menyediakan dan membuat program “Satu Desa Satu Dokter”
“Kehadiran dokter di tingkat desa dan kelurahan ini sangat penting. Karena hal ini bisa mengurangi kesulitan warga yang harus menempuh jarak jauh untuk memperoleh pelayanan kesehatan dasar,” ujar Nurochman.
Dengan tersedianya satu desa satu dokter, Wali Kota mengajak masyarakat membiasakan hidup sehat dan tidak menunda pemeriksaan kesehatan atau Cek Kesehatan Gratis (CKG). Warga dapat melakukan CKG dengan memanfaatkan layanan UPKDK di wilayah masing-masing sebagai akses awal mendapatkan pelayanan medis.
Nurochman memastikam ketersediaan sarana puskesmas maupun pustu telah memadai. Dengan demikian pelayanan kesehatan kepada masyarakat bisa diberikan secara optimal. Dan tak hanya menangani keluhan medis dari warga desa yang menjadi pasien, pelayanan yang diberikan juga harus menjadikan pasien yang datang bisa merasa nyaman. [nas.kt]




