29.9 C
Sidoarjo
Wednesday, October 21, 2026
spot_img

Menjadi Santri Sejati, Mengabdi Tiada Henti

Oleh:
Zainal Muttaqin
Founder Komunitas SAKTI Indonesia

Bagi saya, pesantren adalah titik berangkat untuk menjalani kehidupan. Dari sana saya belajar bahwa ilmu membawa tanggung jawab, persaudaraan membutuhkan ketulusan, dan amanah harus dijalankan dengan kesungguhan. Pelajaran itu terus menyertai perjalanan memasuki ruang kuliah, birokrasi, kepenulisan, organisasi, dan kehidupan bermasyarakat.

Tumbuh dalam lingkungan pendidikan pesantren, termasuk di Tambakberas, Jombang, membuat saya memahami bahwa menjadi santri merupakan proses panjang. Kita terus belajar menjaga sikap ketika berhadapan dengan kenyataan yang semakin kompleks.

Hari Santri 2026, dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, menjadi kesempatan untuk menimbang kembali pengabdian tersebut. Apa yang telah kita lakukan dengan ilmu yang diperoleh? Siapa yang merasakan manfaat kehadiran kita?

Pertanyaan itu penting agar kebanggaan sebagai santri memperoleh bentuknya dalam tindakan.

Ilmu yang Dihidupkan
Kata “sejati” saya tempatkan sebagai arah ikhtiar, sebuah kesediaan untuk terus memperbaiki diri. Kita membutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa pengetahuan selalu menyisakan ruang bagi pembelajaran.

Sejak mengajar di Unipdu Jombang pada 2009, saya merasakan bahwa ruang kuliah juga menjadi tempat belajar bagi seorang dosen. Ketika mendampingi mahasiswa dalam pembelajaran filsafat ilmu, komunikasi, dan etika profesi, saya berhadapan dengan pertanyaan serta pengalaman generasi yang terus berubah.

Dari sana saya belajar bahwa pendidikan membutuhkan perjumpaan antara pengetahuan dan keteladanan. Mahasiswa perlu memahami konsep, sekaligus melihat bagaimana kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap perbedaan dijalankan.

Berita Terkait :  Menanti Strategi Nasional dalam Memerangi Pemanasan Global

Nilai kesantrian memperoleh ruang pengamalannya dalam proses tersebut. Mengajar menjadi kesempatan untuk menumbuhkan keberanian berpikir dan kepekaan nurani. Negeri ini membutuhkan generasi yang mampu menggunakan pengetahuan dengan pertimbangan etis: memahami akibat tindakannya dan menghormati kehidupan sesama.

Menulis Menjaga Nilai
Jalan pengabdian juga saya tempuh melalui tulisan. Saya belajar dan aktif menulis sejak di pesantren. Di majalah sekolah, di majalah dinding, di blog pribadi dan lain sebagainya. Bahkah, menulis opini media yang saya tekuni sejak 2016 menjadi ruang mempertemukan pengalaman, bacaan, dan kegelisahan terhadap persoalan masyarakat.

Ikhtiar itu berlanjut melalui buku Humas Pentahelix, Humas Humanis, serta Jejak Komunikasi Nabi. Masing-masing menjadi ruang untuk mengolah perhatian terhadap kolaborasi, kemanusiaan, dan keteladanan dalam komunikasi.

Menulis mengharuskan saya memeriksa pemahaman sendiri. Gagasan yang terasa benar dalam pikiran perlu diuji ketika dituangkan menjadi argumen yang akan dibaca orang lain.

Bagi seorang santri, menulis dapat menjadi cara merawat ilmu dan memperluas manfaatnya. Pengalaman pribadi diolah agar dapat dipelajari bersama. Nilai yang diwariskan guru diterjemahkan untuk menjawab persoalan zaman.

Di tengah derasnya informasi, tulisan yang jernih dan bertanggung jawab memiliki arti penting. Ia membantu pembaca memahami persoalan, mempertimbangkan pilihan, dan menjaga harapan.

Amanah di Ruang Publik
Pengalaman bekerja dalam komunikasi pimpinan dan kehumasan Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperlihatkan bahwa setiap pesan membawa konsekuensi. Di balik informasi pemerintah terdapat kebutuhan warga, harapan masyarakat, dan kepercayaan yang harus dijaga. Karena itu, kecakapan komunikasi perlu ditopang kejujuran dan empati. Kita harus bersedia mendengar pengalaman masyarakat, termasuk ketika pengalaman itu berbeda dari gambaran yang ingin ditampilkan.

Berita Terkait :  BPBD Jatim Latih Kesiapsiagaan Bencana Karyawan PG Rajawali I Surabaya

Keterlibatan dalam IPRAHUMAS, PERHUMAS, ISKI, IDEI, ASBF dan berbagai forum nasional memperluas pembelajaran saya. Pertemuan dengan praktisi dari beragam daerah memperlihatkan bahwa persoalan komunikasi membutuhkan kerja bersama, keterbukaan terhadap kritik, dan kesediaan memperbaiki praktik.

Nilai kesantrian menjadi pegangan dalam menjalani ruang tersebut. Kedudukan merupakan amanah. Pengetahuan perlu dibagikan. Jejaring perlu diusahakan manfaatnya bagi kepentingan yang lebih luas.

Menguatkan negeri dapat dimulai dengan menjalankan pekerjaan secara benar: menyampaikan informasi yang dapat dipercaya, memenuhi tanggung jawab, dan memperlakukan masyarakat dengan hormat.

Komunitas Menggerakkan Manfaat
Pengabdian membutuhkan teman seperjalanan. Kesadaran itulah yang menyertai pendirian Komunitas Santri Melek Teknologi Indonesia atau SAKTI sejak 2012.

Melalui komunitas, kami berusaha mempertemukan semangat kesantrian dengan kebutuhan penguasaan teknologi dan literasi digital. Santri perlu memperoleh kesempatan untuk belajar, berkarya, serta mengambil peran dalam perubahan.

Menggerakkan komunitas mengajarkan bahwa gagasan membutuhkan ketekunan. Ada orang yang harus diajak, peran yang perlu dibagi, dan kepercayaan yang mesti dijaga. Semangat kebersamaan diuji ketika menghadapi keterbatasan dan perbedaan.

Dari pengalaman itu saya memahami bahwa kolaborasi tumbuh melalui kesediaan saling melengkapi. Pesantren, kampus, pemerintah, dunia usaha, media, dan komunitas memiliki kemampuan yang dapat dipertemukan.

Menuju Indonesia Emas, jejaring seperti ini penting untuk memperluas akses pengetahuan dan kesempatan. Santri membutuhkan ruang untuk menunjukkan kemampuan sekaligus belajar mengatasi persoalan nyata.

Berita Terkait :  Satpolairud Polres Situbondo Turun Laut, Pastikan Pelayaran Aman Selama Operasi Ketupat 2026

Merawat Rumah Kesantrian
Seluas apa pun ruang pengabdian, perhatian terhadap pesantren perlu terus dirawat. Di sanalah generasi berikutnya sedang belajar membentuk pengetahuan, karakter, dan keberanian menghadapi kehidupan.

Kepedulian tersebut menjadi bagian dari ikhtiar kami menginisiasi Halaqah Santri Digital (HSD) sejak dua tahun terakhir ini bersama Dunia Santri Community. Tema HSD tahun 2026 “Menarasikan Pesantren Aman: Ruang Tumbuh Tanpa Rasa Takut” menegaskan pentingnya perlindungan martabat santri.

Pesantren yang mendidik membutuhkan keteladanan, kedisiplinan yang manusiawi, serta kesungguhan mencegah perundungan. Santri perlu merasa aman untuk belajar, bertanya, dan menyampaikan persoalan.

Kecintaan kepada pesantren memberi kita tanggung jawab untuk ikut memperbaiki kehidupan di dalamnya. Dari lingkungan yang menghargai manusia, kita berharap tumbuh generasi yang mampu menghargai sesama.

Menjadi santri menghadirkan panggilan pengabdian di setiap ruang kehidupan. Mengajar, menulis, melayani masyarakat, dan menggerakkan komunitas menjadi jalan untuk terus mengamalkan pelajaran yang kita terima.

Semua itu masih merupakan ikhtiar yang perlu diperbaiki. Kita terus belajar agar manfaatnya semakin nyata.

Urip iku urup. Hidup menemukan arti ketika memberi terang bagi sesama. Khoirunnãs anfa’uhum linnãs. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Menjadi santri sejati berarti menjaga kesediaan untuk belajar, memegang amanah, dan mengabdi tiada henti.

————- *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!