29.9 C
Sidoarjo
Wednesday, October 21, 2026
spot_img

Bahasa Santri, Bahasa Peradaban: Dari Kitab Kuning ke Kecerdasan Artifisial

Oleh :
Siti Khodijah
Dosen UIN Kia Haji Achmad Siddiq Jember
Tadris Bahasa Inggris ; Sedang menempuh studi doktoral di Universitas Airlangga

Ada satu hal yang jarang disadari ketika orang membicarakan pesantren: bahasa adalah nyawa. Kitab kuning yang menjadi jantung pendidikan pesantren bukan sekadar kumpulan teks, melainkan warisan peradaban yang ditulis dalam bahasa Arab dengan tingkat kerumitan luar biasa. Untuk bisa memahaminya, seorang santri harus melewati ritual panjang: menekuni nahwu, sharaf, balaghah, dan berbagai disiplin linguistik lainnya. Inilah yang membuat santri memiliki tradisi intelektual yang khas.Tradisi yang dibangun di atas kemampuan membaca, menafsirkan, dan memaknai teks.Namun, seiring berjalannya zaman, bahasa kini tidak hanya berbicara tentang teks, tetapi juga tentang algoritma. Kecerdasan artifisial hadir sebagai “bahasa baru” yang mengubah cara manusia mengakses, memproses, dan memahami informasi. Pertanyaannya: bagaimana santri jaman NOW menyikapi perubahan ini tanpa kehilangan akar bahasanya?

Jejak Panjang Bahasa di Pesantren
Pesantren telah berabad-abad menjadi penjaga bahasa Arab di Nusantara. Metode sorogan dan bandongan memaksa santri untuk berinteraksi langsung dengan teks asli, bukan terjemahan. Kemampuan membaca kitab kuning tanpa harakat menjadi simbol penguasaan bahasa yang sesungguhnya. Di Jember, tradisi ini masih hidup di berbagai pesantren. Penelitian di Pondok Pesantren Al-Qodiri 02 Gumukmas, misalnya, menunjukkan bahwa Lembaga Pengembangan Bahasa Asing (LPBA) secara aktif membekali santri dengan kemampuan berbahasa Arab dan Inggris. Sementara di Pondok Pesantren Mambaul Khoiriyatil Islamiyah Bangsalsari, santri dilatih untuk memahami literasi keagamaan melalui modifikasi berbasis bahasa daerah . Hal ini dilakukan dalam rangka menjembatani teks klasik dengan realitas local. Pendekatan-pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa pesantren tidak pernah antipati terhadap bahasa. Sebaliknya, pesantren adalah institusi yang paling gigih mempertahankan multibahasa. Dengan rincian: Bahasa Arab sebagai bahasa ilmu, Bahasa Indonesia sebagai bahasa dakwah, dan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar kehidupan sehari-hari.

Berita Terkait :  Polkesbaya Jurusan TEM Pengabmas di Puskesmas Krembangan Selatan, Tingkatkan Keterampilan Nakes dalam Pemeliharaan Alat Fetal Doppler

Ketika Bahasa Bertemu Algoritma
Hal yang baru adalah kehadiran kecerdasan artifisial. Berbeda dengan teknologi sebelumnya yang sekadar menjadi alat bantu, AI memiliki kemampuan untuk “memahami” dan “menghasilkan” bahasa. Ia bisa menerjemahkan, menganalisis tata bahasa, bahkan menjawab pertanyaan tentang teks klasik. Sebuah penelitian di pesantren modern menunjukkan bahwa platform AI adaptif dapat berfungsi sebagai mitra tutur personal yang menurunkan kecemasan berbahasa Arab, sementara guru tetap memberikan bantuan instruksional bertahap dan asrama menjadi ekosistem imersi makro.

Ini adalah lompatan besar. Bayangkan seorang santri yang selama ini merasa kesulitan memahami matan berbahasa Arab kini memiliki “teman belajar” yang bisa diajak berdialog kapan saja. AI dapat membantunya memahami tarkib (kedudukan nahwu-sharaf) dan menerjemahkan teks secara otomatis, sebagaimana ditawarkan aplikasi seperti KangSantri AI. AI juga dapat memperluas akses terhadap literatur keagamaan internasional, membantu santri mempelajari kitab-kitab yang selama ini sulit dijangkau karena kendala bahasa.Pemerintah menyadari peluang ini. Oleh karenanya, Kementerian Agama telah meluncurkan program “Santri Mahir AI” yang dirancang agar santri memiliki kecakapan intelektual dan filter moral yang kuat dalam berinteraksi dengan teknologi. Melalui Program AI Teaching Power yang berlangsung November 2025 hingga Juni 2026, sebanyak 58.968 tenaga pendidik dari 38 provinsi berhasil dilatih untuk memanfaatkan AI secara praktis dan etis. Direktur Pesantren Kemenag, Basnang Said, menegaskan bahwa transformasi digital harus memperkuat mutu pendidikan tanpa menghilangkan jati diri pesantren: “Kita ingin pesantren siap menghadapi perkembangan teknologi melalui transformasi digital yang adaptif, namun tetap berpijak pada nilai, adab, dan karakter pendidikan Islam”.

Berita Terkait :  Dedikasi dan Loyalitas 160 ASN Kota Batu Diganjar Satyalancana

Tantangan: Antara Kemudahan dan Kedalaman
Dibalik kemudahan-kemudahan alat bantu, euforia ini perlu disikapi dengan hati-hati. Ada bahaya laten dalam penggunaan AI untuk pembelajaran Bahasa yang bisa mengikis kedalaman. Selama ini, kekuatan pendidikan bahasa di pesantren justru terletak pada prosesnya. Santri harus bergulat dengan teks tanpa harakat, harus menelusuri makna kata demi kata, harus bersabar menunggu pemahaman datang. Proses yang Panjang dan berat tersebut yang bisa membentuk karakter intelektualnya.

Jika AI menggantikan seluruh proses itu, yang hilang bukan hanya keterampilan berbahasa, tetapi juga disiplin berpikir. Sebuah studi multi-kasus di pesantren Jawa Timur menemukan bahwa meskipun ChatGPT diterima sebagai alat bantu belajar, ia secara konsisten ditolak sebagai sumber otoritatif. Otentisitas pengetahuan tetap dinegosiasikan melalui verifikasi sanad dan pemeriksaan kitab. Ada ketegangan antara manfaat AI dalam meningkatkan aksesibilitas dan potensinya mengikis disiplin membaca yang formatif. Karena itu, muncul praktik “domestikasi AI” yang menempatkan teknologi di bawah bingkai moral dan intelektual pesantren.Inilah yang harus menjadi pegangan. AI boleh menjadi alat, tetapi tidak boleh menjadi guru. Ia boleh membantu memahami teks, tetapi tidak boleh menggantikan proses pergulatan intelektual yang menjadi ciri khas pendidikan pesantren. Sebagaimana diingatkan dalam sebuah penelitian, AI harus melengkapi, bukan menggantikanmetode pembelajaran tradisional seperti talaqqi dan halaqah, sehingga pesantren tetap menempatkan guru dan bimbingan moral sebagai pusat.

Berita Terkait :  Kolaborasi Putera Sampoerna Foundation dan Pemkab Kediri

Menuju Santri yang Berbahasa dan Beradab
Hari Santri 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema ini mengingatkan bahwa kontribusi santri tidak berhenti pada masa lalu. Jika dahulu santri berjuang dengan senjata, kini mereka berjuang dengan ilmu, termasuk ilmu bahasa dan teknologi.Bahasa santri adalah bahasa peradaban. Ia adalah bahasa yang mampu membaca teks klasik sekaligus memahami algoritma. Ia adalah bahasa yang tidak tercerabut dari akar tradisi, tetapi juga tidak gagap menghadapi masa depan. Santri yang ideal adalah mereka yang bisa berbicara dalam bahasa Arab kepada kitab kuning, bisa berbicara bahasa Indonesia kepada masyarakat, dan bisa berbahasa teknologi kepada zaman.

Di Jember, di berbagai pesantren, transformasi ini sedang berlangsung. Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa transformasi ini tidak berhenti pada pelatihan dan sertifikat, tetapi mengalir terus sampai menjadi budaya berpikir yang berakar pada nilai. Sebab pada akhirnya, yang membuat santri unggul bukanlah kemampuannya berbicara kepada mesin, melainkan kemampuannya berbicara kepada zaman dengan hikmah dan akhlak. Itulah santri masa kini. Santri yang tetap berpikir modern dan mengikuti zaman tanpa meninggalkan identitas kitab dan nilai pesantrennya.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

————– *** —————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!