26.1 C
Sidoarjo
Friday, October 16, 2026
spot_img

Nelayan, Ibu-ibu, dan Suvenir: Tiga Pilar UMKM Wisata Malang Selatan

Mantan Wali Kota Surabaya yang juga merupakan Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana, Tri Rismaharini di Kabupaten Malang, Jumat (16/10) sore.

Oleh
Arya Wiraraja/Wartawan Bhirawa.

Panorama tebing karang, teluk yang tenang, hutan mangrove, serta deretan perahu nelayan membuat pesisir selatan Kabupaten Malang memiliki modal pariwisata yang jarang dimiliki kawasan urban.

Namun, mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menegaskan, keindahan alam tersebut baru akan berubah menjadi kesejahteraan warga jika dikelola secara serius dan terhubung dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Jadi, ini luar biasa kalau lihat potensinya sebetulnya. Kalau dibandingkan Surabaya, nggak ada apa-apanya. Tapi, sebetulnya semua bisa dibangun,” ujar Risma  di Kabupaten Malang, Jumat (16/10) sore.

Menurutnya, pembangunan tidak cukup berhenti pada identifikasi potensi. Diperlukan inisiatif untuk memperbaiki akses, lingkungan, layanan, hingga kualitas produk agar manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat.

“Tidak hanya melihat potensi apa, tapi dengan inisiasi dan inisiatif kita untuk membangun itu, maka untuk memperbaiki dan membangun itu bisa terjadi perubahan. Itu yang paling penting sebetulnya,” kata Risma yang juga merupakan Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana itu.

Malang Selatan memiliki 19 desa pesisir yang tersebar di enam kecamatan, dengan potensi kelautan, perikanan, pertanian, dan pariwisata. Kawasan seperti Bajul Mati, Kondang Merak, Sendang Biru, hingga Teluk Asmara telah menunjukkan bahwa kunjungan wisata dapat menggerakkan warung kuliner, penyewaan perahu, penginapan, jasa pemandu, hingga penjualan hasil laut.

Di Pantai Sendang Biru, misalnya, aktivitas nelayan dan Tempat Pelelangan Ikan menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan dapat membeli ikan segar langsung dari nelayan, lalu memanfaatkan jasa warung lokal untuk mengolahnya. Pola ini memperlihatkan bahwa pariwisata dan UMKM bukan dua sektor terpisah, melainkan saling menguatkan.

Berita Terkait :  Komite IV DPD RI Dukung Rencana Presiden Prabowo Hapus Utang Petani, Nelayan, dan Pelaku UMKM

Risma menilai Indonesia memiliki keunggulan iklim yang mendukung produktivitas sepanjang tahun. Ia mengingat pengalaman ketika warga Surabaya mengeluh harga cabai melonjak, lalu kota tersebut mendorong penanaman cabai hingga harga dapat ditekan.

“Saat warga Surabaya saat itu ngeluh cabai harganya 100 ribu, saya sampaikan saat itu ke warga, lah kenapa kita ngeluh saat cabai mahal? Maka kemudian kita menanam cabai,” ujarnya.

Baginya, prinsip yang sama berlaku bagi wilayah dengan potensi alam dan sumber daya lokal: jangan hanya mengeluhkan keterbatasan, tetapi bangun peluang dari aset yang ada.

Konsep UMKM pariwisata menempatkan pelaku usaha kecil sebagai bagian dari pengalaman wisata, bukan sekadar penjual di sekitar lokasi wisata. Dalam model ini, nelayan dapat mengembangkan wisata bahari, ibu-ibu mengolah hasil laut menjadi makanan siap jual, pemuda mengelola homestay atau pemanduan, sementara perajin menghasilkan suvenir bernilai tambah.

Risma mencontohkan peluang wisata perahu nelayan. Perahu yang selama ini digunakan untuk mengangkut ikan dapat dimanfaatkan untuk melayani wisatawan, dengan syarat kebersihan dan kenyamanan menjadi prioritas.

“Kalau nanti itu akan menjadi nelayan wisata, artinya perahu bisa manfaatkan perahu yang ada. Tapi teman-teman saya sampaikan harus bersih, tidak bau, sehingga orang senang,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebersihan bukan urusan kosmetik, melainkan syarat utama keberhasilan destinasi. “Tidak ada wisata di mana pun sukses tanpa kebersihan itu,” tegas Risma.

Berita Terkait :  Tingkatkan Layanan Rehabilitasi Sosial, Dinsos Jatim Studi Tiru Camp Assessment Dinsos DIY

Pengalaman pengelolaan Pantai Kondang Merak juga memperlihatkan pentingnya kenyamanan wisatawan. Kawasan tersebut menyediakan area parkir, toilet, kamar bilas, musala, dan area berkemah, sehingga pengunjung lebih betah dan berpotensi kembali.

Salah satu persoalan UMKM pesisir adalah produk cenderung berhenti pada bentuk tradisional dan pasar lokal. Risma menekankan perlunya pendampingan agar produk warga mampu menembus pasar yang lebih luas.

“Masyarakat biasanya mereka melakukan, ya sudah, aku bisanya membuat ini, adanya ini dibuat ini. Makanya kita juga bantu training untuk para pengrajin, terutama untuk souvenir, untuk mereka bisa memasuki ke pasar yang lebih atas dengan kualitas desain dan kualitas bahan lebih baik,” ujarnya.

Hal serupa berlaku bagi ibu-ibu nelayan. Pengolahan makanan berbasis hasil laut dapat menjadi sumber pendapatan alternatif, terutama ketika nelayan tidak dapat melaut karena cuaca buruk atau musim paceklik.

“Kemudian tadi ibu-ibu nelayan kita lakukan training ibu-ibu untuk bagaimana mereka bisa membuat makanan untuk bisa diterima sehingga harga mereka bisa naik, kemudian skalanya mungkin bisa lebih besar,” kata Risma.

Produk olahan yang higienis, tahan lama, dan dikemas menarik berpeluang masuk ke segmen menengah atas. Dengan demikian, nilai tambah tidak hanya dinikmati tengkulak atau pelaku usaha besar, tetapi juga kembali kepada keluarga nelayan.

Pengembangan UMKM pariwisata di Malang Selatan tidak dapat dilepaskan dari konservasi. Kawasan pesisir menghadapi tantangan abrasi, kerusakan lingkungan, dan pengelolaan sampah, terutama seiring meningkatnya kunjungan wisatawan.

Risma menilai kegiatan wisata dan konservasi dapat berjalan beriringan. Ia menyebut peluang wisata keliling pulau yang tidak harus turun ke seluruh titik, sehingga tetap selaras dengan pengelolaan lingkungan dan konservasi.

Berita Terkait :  Petani, Nelayan, Guru PAUD di Sidoarjo Dilindungi Jaminan Kecelakaan Kerja dan Kematian

“Kalau mereka melakukan satu minggu mereka melakukan itu, saya percaya income-nya mereka akan naik,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa peningkatan kunjungan akan membuka sektor ekonomi lain, mulai dari suvenir hingga kuliner.

“Kalau mereka inputnya banyak, kemudian mereka banyak yang datang wisatawan, maka mereka kemudian bisa mengembangkan sektor-sektor yang lain. Jadi contohnya misalkan untuk souvenir dan sebagainya. Kemudian untuk makanan kuliner,” ujarnya.

Bagi Risma, indikator keberhasilan pembangunan pariwisata bukan hanya banyaknya wisatawan atau ramainya kawasan. Ukuran utamanya adalah apakah aktivitas ekonomi tersebut meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan warga.

“Tinggal bagaimana manage sehingga kemudian perbaikan itu bertampak kepada ekonomi masyarakat. Itu yang paling penting. Jadi kesejahteraan warga meningkat,” ujarnya.

Ia menegaskan, lingkungan yang terawat justru dapat menjadi mesin ekonomi, bukan beban pembangunan.

“Sebetulnya ada di NTT itu. Kemarin saya juga lihat waktu bencana. Di Nagekeo, itu juga punya potensi bagus kayak gini. Tapi karena letaknya agak di atas, perkembangannya agak susah jangkauannya. Nah, tapi sekali lagi potensi itu, orang akan datang kalau memang itu termanage dengan baik. Terkelola dengan baik,” kata Risma.

Bagi Malang Selatan, tantangan berikutnya adalah menyatukan tiga hal: menjaga ekosistem pesisir, meningkatkan kualitas produk UMKM, dan memastikan wisatawan yang datang benar-benar membeli dari warga lokal. Jika ketiganya berjalan seimbang, pantai-pantai indah di selatan Malang dapat berkembang menjadi ruang usaha yang berkelanjutan. [ara,cyn.hel].

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!