Gresik, Bhirawa — Perluasan jaringan air bersih di Gresik Utara pada 2027, membutuhkan anggaran Rp96,78 miliar dan menargetkan 5.338 sambungan rumah (SR). Program Perumda Giri Tirta Gresik, mencakup wilayah Kecamatan Bungah dan Sembayat. Dengan pendanaan yang direncanakan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Paket wilayah Bungah membutuhkan anggaran Rp43,85 miliar, untuk pengadaan dan pemasangan 1.890 sambungan rumah. Sementara itu, paket wilayah Sembayat dialokasikan sekitar Rp52,93 miliar dengan target 3.448 sambungan rumah. Sinkronisasi APBD dan APBN diperlukan, agar pembangunan jaringan utama dan fasilitas pendukung dapat berjalan beriringan.
Direktur Utama Perumda Giri Tirta Gresik Kurnia Suryandi mengatakan, bahwa pengembangan jaringan mencakup penyiapan lahan, pembangunan reservoir atau tempat penampungan air berkapasitas 500 meter kubik masing-masing di Melirang dan Sembayat. Pemasangan jaringan pipa beserta aksesorinya, serta pembangunan rumah pompa dan fasilitas pendukung lainnya.
Program diarahkan untuk memperluas akses air bersih bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi potensi kesulitan pasokan saat musim kemarau. Infrastruktur yang dibangun diharapkan memperkuat sistem distribusi, agar mampu menjangkau lebih banyak rumah warga. Sekaligus menjadi alternatif bagi masyarakat, untuk antisipasi musim kemarau air bersih sulit didapat.
“Anggaran pusat dan daerah harus sejalan, meski kebutuhan anggaran telah dirinci. Pelaksanaan proyek tetap membutuhkan kepastian dukungan pendanaan, dari pemerintah pusat dan kesiapan pemerintah daerah dalam menjalankan pekerjaan sesuai kewenangannya,”ujarnya.
Pekerjaan yang dapat dilaksanakan melalui anggaran daerah, diharapkan tidak terus tertunda sembari menunggu realisasi dukungan APBN. Sinkronisasi kedua sumber pendanaan menjadi penting, agar pembangunan jaringan utama dan fasilitas pendukung dapat berjalan beriringan.
Keterlambatan pada salah satu tahapan, berpotensi memengaruhi penyelesaian keseluruhan sistem. Sebab, jaringan distribusi tidak cukup hanya mengandalkan pemasangan pipa, tetapi juga membutuhkan reservoir, rumah pompa, dan sarana pendukung yang saling terhubung. Kepastian lahan juga jadi penentu, menjadi salah satu faktor penting dalam merealisasikan pembangunan.
Lahan yang akan digunakan untuk fasilitas reservoir maupun infrastruktur lainnya, perlu memenuhi persyaratan administrasi dan ketentuan pendanaan pemerintah. Koordinasi antara pemerintah daerah, Perumda Giri Tirta, dan pihak terkait diperlukan untuk memastikan proses penyiapan lahan. Tidak menjadi hambatan ketika pembangunan dimulai, bisa berjalan lancar.
“Tantangannya, memastikan infrastruktur yang dibangun benar-benar menghasilkan layanan air bersih yang dapat diandalkan. Setelah proyek selesai, pengelola tetap harus menjamin kesiapan operasional. Pemeliharaan jaringan, pengendalian kualitas air, serta kontinuitas distribusi kepada pelanggan,”ungkapnya.
Ditambahkan Kurnia Suryandi, bahwa keberhasilan program, tidak semata-mata diukur dari besarnya anggaran atau panjang jaringan yang terpasang. Ukuran utamanya adalah, apakah air bersih benar-benar mengalir ke rumah warga. Memenuhi standar kualitas, tersedia secara berkelanjutan. Dan dapat dijangkau masyarakat. Secara berkelanjutan, dan dapat dijangkau masyarakat.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Gresik Mohammad mengatakan, bahwa kondisi tersebut menjadi perhatian DPRD. Dan mendorong Perumda Giri Tirta, tidak hanya mengandalkan skema pendanaan pemerintah. Tetapi juga memperkuat kemampuan perusahaan, melalui kebijakan bisnis yang terukur.
“Salah satu rekomendasi, adalah penyesuaian tarif pelanggan industri secara terukur dan proporsional. Juga penyusunan Peraturan Daerah tentang Penyertaan Modal, serta mendorong Perumda Giri Tirta menjalin kerja sama atau Memorandum of Understanding (MoU). Dengan pihak ketiga guna meningkatkan sinergi, sekaligus mempercepat pengembangan jaringan pelayanan.”jelasnya. [kim.kt]



