28.1 C
Sidoarjo
Wednesday, October 7, 2026
spot_img

Wujudkan Swasembada Gula, Luas Areal Tanaman Tebu di Tulungagung Meningkat hingga 4.069 Hektar

Tulungagung, Bhirawa. – Luas areal tanaman tebu di Tulungagung pada tahun 2026 ini meningkat. Saat ini luasannya mencapai 4.069 hektar, meningkat dari tahun lalu yang seluas 3.862 hektar.

Plt Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, saat melakukan panen perdana tebu program bongkar ratoon tahun 2025 di Desa Bolorejo Kecamatan Kauman, Rabu (7/10), mengungkapkan dari luasan areal 4.069 hektar tanaman tebu itu, 151,48 hektar di antaranya merupakan program bongkar ratoon. “Ada perluasan areal tanam bongkar ratoon seluas 207,3 hektar,”ujarnya.

Menurut dia, produksi tebu di Tulungagung dengan program bongkar ratoon terus meningkat. Apalagi saat ini petani bisa melakukan panen paling minim 90 ton sampai 100 ton per hektarnya.

“Dari yang sebelumnya hanya 60 ton per hektar. Kini bisa minimal 90 ton atau 100 ton pe hektar,” tuturnya.

Bahkan, lanjut Plt Bupati Baharudin, pada tahun 2025 produksi tebu petani Tulungagung mencapai 369.979,60 ton tebu basah. “Ini berkat peremajaan total menggunakan bibit unggul bermutu tinggi sehingga hasil panen dan rendemen gula meningkat secara signifikan,” terangnya.

Sebelumnya, Plt Bupati Baharudin berharap dengan dilaksanakan gerakan tanam tebu melalui program bongkar ratoon dan perluasan areal tanam tebu, petani dapat terus meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi. Karena hal ini akan berdampak positif pendapatan dan juga kesejahteraan petani tebu.

Sementara itu, General Manager (GM) Pabrik Gula (PG) Modjopanggoong, Agus Budi Juwono, menyatakan target perluasan tanaman tebu dalam program bongkar ratoon tahun 2026 sekitar 500 hektar akan tercapai. Dan pada tahun depan akan bertambah lagi.

Berita Terkait :  DPRD Gresik Apresiasi Layanan Prima Puskesmas Balongpanggang, Kini Jadi Rujukan Kepercayaan Rakyat

“Kami juga ikut mengembangkan program bongkar ratoon di Kabupaten Blitar dan di Kabupaten Trenggalek. Ini menjadi program unggulan untuk swasembada gula,” katanya.

Diakui Agus, saat ini terjadi El Nino yang membuat sejumlah petani masih belum melakukan tanam tebu. “Karena kering belum bisa nanam. Jadi tunggu hujan. Tapi kami bantu sedikit menganai pompa air,” sambungnya.

Agus juga memaparkan beberapa keunggulan saat petani menerapkan program bogkar ratoon dalam menanam tebu. Salah satunya produksi menjadi meningkat dari 60 ton per hektar menjadi 90 ton sampai 120 ton per hektar.

Sedang untuk produksi gula PG Modjopanggoong, disebutkan saat ini sebanyak 28 ribu ton. Ada peningkatan 10 persen dari sebelumnya.

“Untuk dampak dari El Nino, berat tebu menyusut sampai 30 persen. Tetapi untuk rendemennya meningkat menjadi 8,1. Ini juga meningkatkan penghasilan petani,” pungkasnya. (wed.hel)

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!